SuarIndonesia – Ribuan jemaah haji Indonesia terlantar di Muzdalifah gegara bus penjemputan terlambat.
Dari informasi kekacauan terjadi menjelang akhir rangkaian ibadah haji 2025 di Muzdalifah dan Mina.
Ribuan jemaah haji Indonesia terlantar hampir seharian akibat terlambatnya bus yang seharusnya menjadi alat transportasi dari Muzdalifah menuju Mina.
Akibat keterlambatan bus tersebut, ribuan jemaah haji Indonesia ada yang terpaksa jalan kaki dalam kondisi kelelahan.
Tak sedikit jemaah haji yang ambruk karena kelelahan, khususnya jemaah haji lansia. Mereka beramai-ramai menuangkan kekesalan dan kekecewaannya di media sosial.
“Mana katanya peningkatan pelayan haji, ribuan terlantar begini. Tak bertangjawab penjemputan. Haruskah ini terjadi seperti tahun tahun sebelumnya. Kami jemaah haji Indonesia kecewa pada musin haji 2025”.
“Jemaah haji kita berjalan kaki sepanjang 7 km dari Muzdalifah ke Mina tanpa ada kendaraan yang mengangkut. Banyak jemaah yang kelelahan.
Keikhlasan para jamaah sebagai tamu Allah dan pelayanan negara bagi warganya adalah soal yg berbeda,” tulis lainnya di akun Islah Bahrawi di akun X.
“Harusnya jadi momen khusyuk menuju Mina, malah jadi perjuangan fisik berjalan kaki 4 km di tengah lelahnya mabit.
Ribuan jemaah haji kita terpaksa berjalan karena bus tak kunjung datang. Sangat disayangkan,” tulis akun Nurash.
Salah satu jemaah haji yang berada di Arab Saudi, berinisial M, menyebut para jemaah terjebak pada Jumat, 6 Juni 2025 sejak pagi hingga sore dan ada pula sebutkan kalau terlantar hingga subuh waktu setempat.
“Tidak bisa kemana-mana karena harus ikut mengurusi jemaah haji yang mayoritas lansia. Mereka terlantar, tidak tahu harus kemana, tidak tahun letak tendanya,” kata dia
Dilansir dari laman Kementerian Agama, mabit (menginap) di Muzdalifah menjadi salah satu rangkaian wajib haji.
Mabit di Muzdalifah dilakukan setelah jemaah menunaikan wukuf di Arafah. Setelah seluruh jemaah dipastikan mabit, maka jema’ah akan bergerak ke Mina.
Saat sampai di Mina, jemaah haji melakukan lempar jumroh aqobah pada tanggal 10 Zulhijjah dengan 7 lemparan. Setelah melakukan jumrah aqabah, maka jemaah haji sudah boleh melakukan tahallul awal dengan bercukur.
Perjalanan Muzdalifah ke Mina mencapai jarak sekitar 5 km. Sementara total jarak tempuh jemaah haji berjalan kaki untuk rangkaian ibadah adalah mencapai sekitar 33,65 km.
Dikutip dari Instagram Asrama Haji Makassar, dimulai dari lempar jumrah, jarak tenda di Mina ke Jamarat terhitung sekitar 4,5 kilometer atau 9 km pergi-pulang. Jika dilakukan 1, 2, atau 3 kali maka akan menjadi 3 x 9 km = 27 km.
Dilanjutkan dengan rangkaian tawaf 7 putaran. Jika dihitung rata-rata sekali putaran tawaf adalah 500 meter (jalur yang berdekatan dengan Kabah). Apabila terdapat 7 putaran, maka jarak tempuh jemaah haji saat tawaf adalah 500 meter x 7 = 3,5 km.
Selanjutnya rangkaian sai dengan jarak dari Bukit Shafa ke Marwah adalah 450 meter. Jika melakukan 7 kali, maka jarak tempuhnya adalah 450 meter x 7 = 3,15 km.
Secara keseluruhan total jarak tempuh jemaah haji berjalan kaki untuk rangkaian ibadah adalah 27 + 3,5 + 3,15 = 33,65 km.
Jumlah tersebut merupakan total jalan kaki saat melaksanakan rangkaian ibadah wajib haji. Ini masih belum termasuk jalan kaki ibadah lain atau jarak dari penginapan ke masjid atau kegiatan lainnya.
Bahkan disebut pula, saat proses keberangkatan dari Muzdalifah menuju Mina mengalami hambatan juga.
Bahkan akibat berdesakan sebuah pagar pintu di Muzdalifah sempat ada yang roboh, jemaah haji juga ada yang pingsan.
“Memang dari Arafah penjemputan bus bertahap, mulai jam 3 sore sampai jam 10 malam,” tutur Aini Kusuma dalam Catatan Hajinya.
Jemaah seharusnya sudah dapat keluar dari Muzdalifah sekitar pukul 00.00 waktu setempat. Namun kenyataannya, antrean berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari waktu setempat, dan hingga saat itu pula gerbang (gate) belum juga dibuka.
“Kami seharusnya bisa keluar dari Muzdalifah jam 12 malam. Tapi kami sudah antre sampai jam 3, gate belum dibuka,” ujarnya.
Sementara Kementerian Agama (Kemenag) menjelaskan penyebab masalah pergerakan jemaah haji dari Muzdalifah ke Mina di Arab Saudi, yang sempat diwarnai keterlambatan proses evakuasi.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief mengatakan penyebab pertama adalah jadwal bus yang tidak konsisten karena ada ribuan bus yang dioperasionalkan dan antrean yang panjang.
Sebab, setelah pukul 00.00 Waktu Arab Saudi (WAS), jadwal keberangkatan bus yang direncanakan terkendala di lapangan.
“Kondisi tersebut menyebabkan jemaah merasa khawatir,” ujar Hilman di Makkah, seperti dilansir Antara, pada Sabtu (7/6/2025).
Hilman menyatakan, penyebab kedua, yakni keterlambatan perputaran bus dari Mina ke Muzdalifah dalam beberapa jam pada rentang waktu tertentu karena kepadatan lalu lintas.
Situasi tersebut sempat membuat jamaah tidak nyaman, di tengah kondisi mereka yang mengalami kelelahan menunggu penjemputan. Dalam situasi tersebut, banyak jemaah memilih untuk keluar dari pintu Muzdalifah.
“Karena bus yang terlambat datang, sebagian jamaah memutuskan untuk membuka pintu keluar di Muzdalifah dan berjalan kaki menuju Mina. Hal ini memunculkan arus pergerakan spontan tanpa kendali,” kata Hilman.
Dalam suasana psikologis semacam itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akhirnya melepas sebagian jamaah, namun tetap mengingatkan agar jamaah lansia dan risiko tinggi (risti) agar tetap berada di Muzdalifah, menunggu jemputan bus.
Sebab, berjalan kaki bagi lansia dan risti akan banyak menguras energi dan menimbulkan kelelahan.
“Pergerakan jamaah pejalan kaki berdampak pada kemacetan di jalur utama shuttle bus.
PPIH menerima permintaan dari Kemenhaj dan syarikah untuk menenangkan jamaah dan menghentikan arus jalan kaki, namun sudah tidak dapat dikendalikan,” kata Hilman.
Dia pun menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan pihaknya adalah menjalin koordinasi darurat dengan Kemenhaj Saudi.
“Pada pukul 03.12 WAS, PPIH Arab Saudi mengirim permintaan resmi melalui pesan WA kepada Kementerian Haji dan Umrah untuk segera mengintervensi dan mempercepat pengiriman bus ke Muzdalifah,” kata Hilman. (*/ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















