SuarIndonesia —Enam jemaah haji Embarkasi Banjarmasin diikutkan dalam program Safari Wukuf. Berdasarkan hasil laporan para petugas kloter BDJ 01 hingga BDJ 19, yang dinilai kurang sehat sehingga diikutkan dalam program safari wukuf.
“Sementara dua jamaah lainnya saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS),” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Dr H Eddy Khairani.
Ia, mengatakan bahwa jemaah yang menjalani perawatan di RSAS nantinya tetap akan difasilitasi mengikuti prosesi wukuf melalui program safari wukuf dengan angkutan khusus seperti ambulans.
“Bagi jemaah yang dinilai kurang sehat di kloter atau yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi akan diikutkan safari wukuf oleh pemerintah Indonesia melalui Daerah Kerja Mekkah menggunakan angkutan khusus seperti bus atau ambulans,” ujarnya lagi.
Menurut Eddy Khairani, program safari wukuf merupakan bentuk pelayanan khusus bagi jemaah sakit atau jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu agar tetap dapat melaksanakan rukun haji tanpa harus mengalami kelelahan berlebih.
Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memastikan seluruh jemaah memperoleh kesempatan menjalankan ibadah haji secara maksimal sesuai kemampuan fisik masing-masing.
Ia menjelaskan, kondisi jemaah haji Embarkasi Banjarmasin secara umum masih relatif terkendali dan mayoritas dalam keadaan sehat.
Namun demikian, petugas kesehatan dan petugas kloter terus melakukan pemantauan intensif, terutama menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Petugas kesehatan terus melakukan pemeriksaan dan pendampingan kepada jamaah yang memiliki risiko tinggi, terutama lansia dan jemaah dengan penyakit bawaan agar tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah dengan aman,” tambahnya.
Selain program safari wukuf, pemerintah juga mengikutsertakan jrmaah prioritas seperti lansia, jamaah uzur, dan disabilitas dalam program murur.
Melalui program tersebut, jamaah tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah, melainkan hanya melintas sebelum langsung menuju tenda di Mina.
“Sedangkan untuk jamaah lainnya yang prioritas seperti lansia, jamaah uzur, dan disabilitas sebagian ada yang diikutkan dalam program murur, yaitu dari Arafah melintas Muzdalifah langsung menuju tenda Mina,” jelas Eddy Khairani.
Program murur dikutip dari kalsel.haji.go.id, dinilai sangat membantu jamaah dengan keterbatasan fisik karena dapat mengurangi tingkat kelelahan di tengah padatnya pergerakan jemaah saat puncak haji.
Dengan sistem tersebut, jemaah prioritas tetap dapat menjalankan ibadah dengan lebih nyaman dan aman.
“Kami berharap seluruh jemaah tetap menjaga kesehatan, memperbanyak istirahat, dan mengikuti arahan petugas agar seluruh rangkaian ibadah haji dapat berjalan lancar,” pungkasnya.
Dengan berbagai skema pelayanan seperti safari wukuf dan murur, diharapkan seluruh jamaah haji asal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dapat menjalankan ibadah dengan baik serta kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan memperoleh haji yang mabrur. (*/ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















