SuarIndonesia – Retaknya tembok atau dinding bangunan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Suriansyah, Banjarmasin membuat pakar sekaligus pengamat bangunan di Kota Banjarmasin.
Dosen Program Studi Geografi, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr Nasruddin M Sc mengatakan, berdasarkan pengamatan awal, retakan yang terjadi di dinding bangunan RSUD Sultan Suriansyah itu merupakan retakan yang tidak biasa.
“Karena ini jenis Retak Diagonal. Saran saya hindari ruangan ini untuk digunakan,” ungkapnya saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon, Minggu (22/05/2022) malam.
Menurutnya, apabila dalam beberapa waktu ke depannya retakan tersebut semakin melebar maka bisa disebabkan oleh pondasi bangunan.
“Dan disarankan untuk mengosongkan sementara daripada mengambil resiko. Karena retakan ini letaknya di atas, dan kemungkinan besar terjadi karena ada masalah di pondasinya,” ungkapnya.
Akademisi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu, menyarankan agar dilakukan pengkajian lebih teliti lagi terkait penyebab terjadinya retakan.
“Dikaji dahulu betul-betul. Hingga adanya hasil analisa geoteknik dari tim ahli,” ucapnya dosen Prodi Geografi itu.
“Selain itu saya rasa perlu ada evaluasi bangunan,” tambahhya, ketika melihat foto-foto retaknya bangunan yang dikirimkan.
Ia pun mempertanyakan bagaimana posisi pondasi dari rumah sakit milik Pemko Banjarmasin ini. Pasalnya, jika dibandingkan dengan bangunan di ULM, pihaknya harus memasukkan tiang pancang sedalam 40 meter, baru bertemu dengan lapisan batuan keras.
“Nah untuk rumah sakit ini kita tidak tahu seberapa dalam memasukan tiang pancangnya. Kalau tidak sampai lapisan yang keras, sama saja rumah sakit itu berdiri di atas air. Karena tanah kita ini jenisnya aluvial alias hanya endapan. Bukan jenis tanah keras,”ujarnya.
“Kemudian, perlu dilihat, apakah retakkan semakin memanjang, melebar dan sebagainya. Jadi saran saya, kosongkan atau hindari dahulu ruangan itu sementara daripada mengambil risiko,” lanjutnya.
Karena itu, ia menekankan, bahwa keretakan bangunan baik berbentuk vertikal, horizontal maupun diagonal patut diwaspadai dan segera melakukan pelaporan kepada instansi terkait agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Di sisi lain, Nasrudin juga menyarankan agar Pemko Banjarmasin dan Pemprov Kalsel mesti membuat aturan yang jelas, terkait batasan berapa lantai bangunan yang boleh didirikan.
Bukan tanpa alasan, menurutnya hal tersebut dilakukan mengingat lahan di Kota Banjarmasin, merupakan lahan yang labil.
Dalam artian, geologi Kota Banjarmasin berada pada formasi aluvium atau aluvial yang dominan dibentuk oleh oleh aktivitas fluvial/sungai dan kenampakan rawa secara mayoritas.
RETAK! Tembok RSUD Sultan Suriansyah, Dosen Geografi ULM Minta Hindari Ruangan Itu
Baca Juga :
Sehingga, aktivitas bangunan di sekitar atau sepanjang alur sungai dengan pondasi dangkal, menurutnya akan berdampak buruk pada kestabilan bangunan, selain itu proses abrasi atau pengikisan atau erosi karena air sungai juga memiliki pengaruh besar pada daya tahan bangunan.
“Kondisi Geografis Kota Banjarmasin dalam menyikapi berkembangnya bangunan permanen seyogianya tetap mengusung nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Banjar yaitu arsitektur panggung berbahan kayu atau kombinasi material permanen berbahan ringan,” jelasnya.
“Tinggi bangunan juga memiliki pengaruh pada beban bangunan sehingga diperlukan kebijakan pemerintah yang mengatur tentang ketinggian maksimum bangunan yang diperkenankan pada wilayah rawa dengan kondisi tanah labil,” sarannya.
Bahkan ia membandingkan kondisi tanah di Kota Banjarmasin dengan tanah di Yogyakarta.
Menurut Nasruddin, tanah di Banjarmasin dan Yogyakarta ini memang memiliki perbedaan jenis maupun kontur. Namun sifatnya sama-sama labil.
“Yogyakarta keras tanahnya, tapi di sana rawan sekali terjadi gempa. Sedangkan Banjarmasin, memang jauh dari gempa, tapi kondisi tanah rawa yang ada ini sangat labil,” jelasnya lagi.
Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya di Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Agus Suyatno, mengaku sudah melakukan pengecekan langsung bersama dengan tim manajemen konstruksi pembangunan RSUD Sultan Suriansyah.
Hasilnya, gedung rumah sakit masih sangat aman. Karena retakkan itu bukan di kolong. Tapi di retakkan dinding.
Dijelaskan Agus, dinding yang retak itu diakibatkan sejumlah faktor. Baik getaran dari aktivitas pemancangan maupun pembangunan pendukung lainnya.
“Mungkin saja pada saat kita membangun bangunan utama, bisa pula karena pembangunan pemancangan pondasi pembangunan siring menggunakan metode hammer,” jelasnya, Minggu (22/5) malam.
“Kemudian, retak yang terjadi juga hanya pada aksesori atau pembungkus tiang kanopi IGD. yang di dalamnya besi baja. Oleh karena kegiatan konstruksi dahulu, sengaja ditutup seperti membentuk tiang pancang. Padahal dalamnya besi baja,” ucapnya.
Lantas, apa saran yang dilakukan pihaknya? Agus mengaku sudah melayangkan surat rekomendasi berupa perbaikan saja.
“Surat itu sudah kami sampaikan sepekan yang lalu. Entah sudah diterima atau belum. Tapi, nanti akan kami cek lagi apakah surat rekomendasi itu sudah sampai atau belum,” tuntasnya. (SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















