SuarIndonesia – Tingkat kesadaran masyarakat Banjarmasin terkait bahaya penularan CoVID-19 atau virus corona rupanya masih tergolong rendah.
Terbukti, dari 750 orang yang direncanakan mengikuti uji swab massal yang dilakukan Dinas Kesehatan Banjarmasin masih ada saja yang enggan melaksanakannya.
Tercatat, sebanyak 220 orang yang sebelumnya dinyatakan reaktif usai menjalani rapid test dan dijadwalkan menjalani swab tak mau datang dengan alasan bermacam-macam.
“Alasannya macam-macam. Tapi kami tetap meminta mereka untuk melakukan swab di hari besok, Selasa dan Kamis,” beber Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin Machli Riyadi, Senin (15/06/2020).
Machli menduga bahwa, masyarakat itu terpengaruh dengan informasi yang tak benar dan seolah-olah oleh membuat mereka takut untuk diswab. “Ketika dikonfirmasi alasannya mereka kata tak mau divonis CoVID-19,” imbuhnya.
Menurut Machli stigma virus corona ini harus diluruskan, sebab terjangkit virus tersebut bukanlah aib yang harus ditutupi atau dihindari.
Akan tetapi yang perlu dicatat harus masyarakat paham betul karena jika tak ditangani dikhawatirkan membahayakan bagi orang lain. “Stigma ini perlu diluruskan,” tegasnya.
Iya menjelaskan ini tentunya bakal jadi masalh baru nantinya, jika yang bersangkutan tak mau diswab dan ternyata dinyatakan positif itu sangat berbahaya, tak hanya bagi dirinya sendiri akan tetapi juga bagi orang lain.
“Sangat bermasalah dan ini akan menimbulkan penularan baru di masyarakat. Harusnya mereka di swab. Kami minta kepada keluarga, tokoh masyarakat dan aparat untuk memaksa mereka agar mau,” harapnya.
Lebih lanjut, yang lebih mengkhawatirkan lagi bahwa orang-orang yang dinyatakan reaktif dan diswab tersebut merupakan hasil dari penelusuran kasus dari kontak erat dengan pasien yang sebe dinyatakan positif.
“Karena ini hasil dari treking, maka dia harus diperiksa swab wajib ini. Karena mereka OTG dari treking kontak erat dari orang yang positif. Makanya kalau tak di swab itu bisa jadi sumber penularan yang lainnya,” jelasnya.
Lantas dari wilayah mana saja 220 orang yang enggan menjalani swab tersebut? Machli mengatakan mereka tersebar di lima Kecamatan di Kota Banjarmasin.
“Harusnya mereka tak boleh keluar rumah kalau mereka memilih isolasi mandiri di rumah. Walaupun sebenarnya kami merekomendasikan mereka dikarantina di rumah karantina yang disediakan pemerintah,” bebernya.
Rupanya kasus penolakan tak hanya terjadi pada proses uji swab. Bahkan Machli membeberkan bahwa sebelumnya penolakan juga terjadi terhadap rekomendasi untuk menjalani karantina.
Machli mengatakan bahwa penolakan menjalani karantina ini dilakukan oleh warga Kelurahan Pekapuran yang saat ini sudah ditetapkan sebagai klaster penularan di Banjarmasin.
“Kalau di Pakapuran semuanya menolak. Kemarin ada yang baru kami temukan ada 45 orang yang harusnya dikarantina hasilnya semuanya menolak 100 persen,” pungkasnya. (SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















