Datu Labah Murid Datu Balimau Bernama Asli Gusti Saaluddin (1 / bersambung)

Datu Labah Murid Datu Balimau Bernama Asli Gusti Saaluddin (1 / bersambung)

Suarindonesia – Makam wali Allah yang satu ini mulai dikenal masyarakat umum. Makam Datu Labah, tidak jauh tempatnya dengan keluarga dan pusara salah satu gurunya yaitu Syekh Ahmad bin H. Muhammad As’ad di Balimau.

Datu Labah bernama asli Haji Gusti Saaluddin bin Gusti Maleh diperkirakan lahir sekitar tahun 1821. Ayahnya seorang Pangeran di Kesultanan Kotawaringin yang bergelar Pangeran Adipati Antakesuma 2.

Dari beberapa catatan keluarga Pagustian di Kotawaringin, Martapura dan Amuntai. Pangeran Adipati Antakesuma 2 memiliki banyak anak di antaranya Ratu Sukma Negara dan Ratu Anom Suryawinata, pada versi lain disebutkan juga Haji Gusti Abdul Kopi.

Haji Gusti Saaluddin memiliki gelar kebangsawanan Pangeran Suryandaka Ardi Kesuma seseorang yang luas wawasan dalam ilmu agama dan juga sakti penuh wibawa. Haji Gusti Saaluddin diangkat sebagai seorang penghulu pada wilayah Banua Lima sekitar tahun 1860-1865. Distrik Amuntai/Amonthaij/Amoenthaij/Amoenthai adalah bekas distrik (kawedanan) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Onderafdeeling Amuntai, Alabio dan Balangan pada zaman kolonial Hindia-Belanda dahulu.

Sekadar gambaran sistem pemerintahan pada masa Sultan Adam Al Watsiqubillah seperti berikut :

1. Mufti : hakim tertinggi, pengawas Pengadilan umum
2. Qadi : kepala urusan hukum agama Islam
3. Penghulu : hakim rendah
4. Lurah : langsung sebagai pembantu
5. Lalawangan (Kepala Distrik) dan mengamati pekerjaan beberapa orang Pambakal (Kepala Kampung) dibantu oleh Khalifah, Bilal dan Kaum.
6. Pambakal : Kepala Kampung yang menguasai beberapa anak kampung.
7. Mantri : pangkat kehormatan untuk orang-orang terkemuka dan berjasa, di antaranya ada yang menjadi kepala desa dalam wilayah yang sama dengan Lalawangan.
8. Tatuha Kampung : orang yang terkemuka di kampung.
9. Panakawan : orang yang menjadi suruhan raja, dibebas dari segala macam pajak dan kewajiban.

Haji Gusti Saaluddin yang bergelar Datu Labah atau Datu Sulabah atau Datu Labai sejak kecil berada dalam lingkungan keluarga berkecukupan dan taat beragama. Ayahnya seorang Pangeran Adipati di Kesultanan Kotawaringin.

Masa mudanya dihabiskan menuntut ilmu agama di kota Martapura, kota yang kala itu terkenal sebagai gudangnya ulama-ulama terkemuka, para dzuriyyatnya Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang merupakan benteng aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah pada masa itu dan sampai sekarang.

Haji Gusti Saaluddin adalah keturunan bangsawan banjar yang dikenal berjiwa ksatria dan sangat mencintai rakyatnya. Saat diangkat menjadi penghulu, Haji Gusti Saaluddin bertekad menunaikan tugas dan kewajibannya itu dengan sebaik-baiknya yang didasari kecintaan dan baktinya kepada tanah leluhur datu-datunya.

Banua Lima atau sekarang orang menyebut Banua Enam merupakan sebuah wilayah dari Kesultanan Banjar yang meliputi daerah Amuntai, Alabio, Sungai Banar, Kalua dan Negara.

Pada masa Banua Lima masuk dalam kancah Perang Banjar yang merupakan reaksi terhadap sengketa pergantian tahta kesultanan ketika Pemerintah Hindia Belanda terlalu ikut campur dalam hal penunjukkan calon sultan yang sebenarnya kurang disenangi rakyat.

Dalam hal ini antara Pangeran Tamjid yang didukung penuh Belanda dengan Pangeran Hidayat yang didamba-dambakan rakyat sebagai pengganti kakeknya, Sultan Adam Al Watsiqubillah.

Haji Gusti Saaluddin yang merupakan salah satu tokoh Banua Lima dihadapkan keputusan sulit untuk menjatuhkan keberpihakan kepada siapa, antara membela marwah Kesultanan Banjar atau menghadapi taktik devide et impera yang dilakukan Belanda.

Namun setelah melalui tafakkur Ilallah serta sudut pandang yang murni terlahir dari hati seorang Putera Asli Banua, beliau mengambil keputusan bulat untuk bertekad berjuang bersama-sama Pangeran Hidayat,Tumenggung Jalil, Penghulu Rasyid, Gusti Matseman, Gusti Matsaid dan lain-lainnya. (bersambung)

 2,474 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: