KELAS Ber-AC Bayar, DPRD Kalsel Endus Indikasi Diskriminasi di SMA/SMK Negeri

- Penulis

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:27

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

​SuarIndonesia – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengendus dugaan praktik pungutan liar (pungli) fasilitas pendingin ruangan (AC) di sejumlah SMA dan SMK Negeri.

Praktik ini dinilai menciptakan diskriminasi dan jurang pemisah antara siswa kaya dan miskin.

Sorotan tajam dilayangkan langsung oleh Ketua Pansus I DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi, dalam rapat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pajak dan Retribusi Daerah di Ruang Rapat Komisi II, Rabu (1/7/2026) sore.

​“Ada yang pakai AC, ada yang tidak pakai AC. Saya tidak ingin tercipta jurang antara si kaya dan si miskin. SMA dan SMK di Kalsel harus bebas dari tarif seperti itu!” tegas politisi yang akrab disapa Paman Yani tersebut.

​Lanjutnya seluruh fasilitas di sekolah negeri wajib dinikmati setara oleh semua siswa tanpa memandang status ekonomi.Sedangkan biaya perawatan dan penyediaan fasilitas sekolah seharusnya bersumber dari APBD, mengingat anggaran pendidikan sudah mendapat porsi jumbo sesuai amanat undang-undang.

​DPRD mendesak seluruh pungutan non-resmi dihentikan. Jika ada biaya pengelolaan, mekanismenya harus transparan dan memiliki dasar hukum konkret.

Selain itu Dewan juga menyoroti tentang ​aturan seragam sekolah yang hampir setiap hari berganti.

Baca Juga :   PEREMPUAN PETUGAS KEBERSIHAN Tewas saat Menyapu Jalan Diduga Ditabrak

​Tak hanya soal kelas ber-AC, Pansus I juga menguliti pengelolaan duit sewa aset sekolah, seperti aula dan gedung.

Dewan mengendus adanya kekosongan regulasi yang rawan memicu pelanggaran hukum.

Sementara itu, ​Wakil Ketua Pansus I DPRD Kalsel, Jahrian, mendesak Pemerintah Provinsi Kalsel segera menerbitkan Perda atau Peraturan Gubernur (Pergub) untuk memperjelas status pendapatan sekolah agar tidak tumpang tindih dengan Dana BOS dan DAK.

​Selain itu, Jahrian menuntut penyederhanaan aturan seragam sekolah yang dinilai kerap mencekik dompet orang tua murid.

​“Kalau bisa kembali seperti dulu saja. Seragam cukup tiga jenis (nasional, pramuka, olahraga) sehingga tidak memberatkan masyarakat,” tandasnya. (HM)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

BRIPDA NOPANDRI, Polisi asli Putra Dayak yang Gugur saat Penggrebekan Bandar Narkoba
SATU LAGI POLISI di Katingan Ditemukan Gugur, Korban Penyerangan saat Penggrebekan Pelaku Narkoba
DICIDUK! Pria yang Diduga Terlibat Pembunuhan Aipda Yudhi
KETUA KOMISI IV DPR RI : Kalsel Memiliki Posisi Sangat Strategis Salah Satu Lumbung Pangan di Kalimantan
SEORANG KAKEK Ditemukan Gantung Diri di Mess PT Daya Sakti Banjarmasin
DESAK PLN Maksimalkan Bendungan Tapin dan Energi Surya
KERJA Tak Digaji, Malah Disiksa hingga Trauma
PENGGEREBEKAN NARKOBA, Satu Polisi Gugur dan Dua Lainnya Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 23:08

BRIPDA NOPANDRI, Polisi asli Putra Dayak yang Gugur saat Penggrebekan Bandar Narkoba

Sabtu, 4 Juli 2026 - 22:55

SATU LAGI POLISI di Katingan Ditemukan Gugur, Korban Penyerangan saat Penggrebekan Pelaku Narkoba

Jumat, 3 Juli 2026 - 22:37

PEMERKOSA Anak Dibawah Umur Diduga Pecandu Narkoba

Jumat, 3 Juli 2026 - 21:24

SEORANG KAKEK Ditemukan Gantung Diri di Mess PT Daya Sakti Banjarmasin

Jumat, 3 Juli 2026 - 21:15

DESAK PLN Maksimalkan Bendungan Tapin dan Energi Surya

Kamis, 2 Juli 2026 - 23:13

KERJA Tak Digaji, Malah Disiksa hingga Trauma

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:54

PENGGEREBEKAN NARKOBA, Satu Polisi Gugur dan Dua Lainnya Hilang

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:09

KRITIK HASIL RAPAT Komisi III DPRD Kalsel Kompensasi Bukan Solusi, Audit Dana dan Pertanggungjawaban Hukum PLN Harus Diutamakan

Berita Terbaru

Foto Ilustrasi - Di Paris, ibu kota Prancis, para wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut berusaha melindungi diri dari sinar matahari dengan menggunakan payung akibat gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa (25/6/2026). (Foto: REUTERS/Abdul Saboor)

Internasional

GELOMBANG PANAS Eropa: Hampir 9.000 Orang Tewas

Jumat, 3 Jul 2026 - 23:02

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca