SuarIndonesia — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai musim kemarau tahun ini lebih awal, salah satunya Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Menurut BMKG, sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi akan masuk musim kemarau pada April 2026.
Dilansir detikKalimantan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan memaparkan pemicunya yaitu berakhirnya La Nina, yang melemah pada Februari dan sekarang bergeser ke fase netral.
BMKG menjelaskan, untuk fase El Nino yang memicu kondisi kering, diperkirakan mulai pertengahan tahun. Dalam hal ini, peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) merupakan penanda dimulainya musim kemarau.
Ardhasena memaparkan berdasarkan pantauan ini, maka awal kemarau di 325 ZOM atau 46,5% wilayah diprediksi maju (lebih cepat dari biasanya). Sementara, 173 ZOM atau 24,7% wilayah akan sama dari biasanya dan 72 ZOM atau 10,3% wilayah mundur dari biasanya.
Puncak Kemarau 2026
BMKG memperkirakan puncak kemarau di sebagian besar wilayah terjadi pada Agustus 2026. Namun, ada sebagian wilayah yang mengalami puncak kemarau pada Juli, yaitu:
Sebagian wilayah Sumatera
Kalimantan bagian tengah dan utara
Sebagian kecil Jawa
Nusa Tenggara
Sulawesi
Maluku
Wilayah barat Pulau Papua.
Kemudian yang memasuki puncak kemarau pada Agustus adalah:
Sumatera bagian tengah dan selatan
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi
Seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara
Sebagian Maluku dan Pulau Papua.
Selanjutnya yang mengalami puncak musim kemarau pada September adalah:
Sebagian Lampung
Sebagian kecil Jawa
Sebagian besar NTT
Sulawesi bagian utara dan timur
Sebagian besar Maluku Utara
Sebagian Maluku
Sebagian kecil Pulau Papua.
Antisipasi Musim Kemarau 2026
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menekankan pentingnya langkah antisipasi bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat. Di sektor pangan, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ujarnya.
Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara dan meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















