SuarIndonesia – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri melakukan pemantauan di pasar jelang Hari Raya Iduladha 1444 Hijriah. Kegiatan dilakukan untuk memastikan harga pangan telur dan juga cabai.
“Upaya Satgas Pangan melakukan operasi pasar untuk memantau ketersediaan cabai dan telur, serta melakukan pemantauan di beberapa sentra produksi peternakan telur ayam,” kata Kabagpenum Div Humas Polri Kombes Nurul Azizah kepada wartawan, Selasa (20/6/2023).
“Seperti di Kabupaten Blitar harga di level peternak sebesar Rp25.500 hingga Rp26.000 per kilogram,” sambungnya.
Meski begitu, Nurul memastikan untuk stok ketersediaan lainnya saat ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat dalam menghadapi Iduladha nanti.
Nurul menyebut, saat ini untuk harga telur ayam dipengaruhi dengan biaya produksi dan operasional dari peternak telur ayam. Sedangkan, cabai merah di beberapa daerah telah melewati masa panen raya.
“Harga rata-rata nasional cabai rawit di awal Juni 2023 sempat diharga Rp44.780/kg, di bawah harga acuan yakni Rp57.000/kg,” sebutnya.
“Untuk cabai merah keriting harga rata-rata nasional saat ini Rp39.037/kg dan masih di bawah harga acuan yakni Rp55.000/kg,” pungkasnya.
Penyebab Harga Telur di Pasaran Naik Tajam
Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Whisnu Hermawan, dari hasil penyelidikan sementara, harga telur naik tajam karena ada kelangkaan bahan baku pakan ternak. Peternak ayam menjadi kesulitan.
“Penyebab meningkatnya harga telur ayam ras antara lain, adanya kelangkaan bahan baku pakan ternak tersebut menyebabkan harga pakan ayam yang tinggi hingga mencapai Rp 8.500 – Rp 8.700/kg,” kata Whisnu dalam keterangannya, Senin (22/5).
Dia menjelaskan, komposisi bahan baku pakan ternak terdiri dari jagung, konsentrat, dan dedak bekatul alami. Nah, kelangkaan terjadi pada bahan baku jagung. Produksi jagung dalam negeri belum mencukupi dan masih tergantung dengan impor.
“Tingginya harga pakan merupakan refleksi dari harga bahan baku pakan, sehingga menyebabkan tidak seluruh peternak ayam petelur dapat membeli pakan ternak. Sebagian peternak ayam petelur memilih untuk tutup dan peternak ayam petelur yang sanggup membeli pakan akan menaikan biaya produksinya,” katanya.
Faktor lain penyebab naiknya harga telur karena biaya transportasi atau angkutan.
“Karena beberapa daerah belum bisa mencukupi kebutuhan Telur Ayam ras di daerahnya sehingga masih supply membutuhkan dari daerah lain. Tingginya permintaan kebutuhan masyarakat,” kata dia. (*/UT)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















