JELANG Hari Primata: Pulau Curiak Sambut Kelahiran Bayi Bekantan

- Penulis

Senin, 29 Januari 2024 - 22:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawanan bekantan dari kelompok Bravo saat beraktivitas di Pulau Curiak. (ANTARA/Firman)

Kawanan bekantan dari kelompok Bravo saat beraktivitas di Pulau Curiak. (ANTARA/Firman)

SuarIndonesia — Stasiun Riset Bekantan di kawasan Pulau Curiak yang juga merupakan situs Geopark Meratus di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan menyambut kelahiran seekor bayi bekantan menjelang Hari Primata Indonesia yang diperingati 30 Januari 2024.

“Tentu kelahiran bayi bekantan ini menjadi kado manis jelang Hari Primata yang semangatnya untuk menggelorakan pelestarian dan perlindungan primata dalam upaya menekan laju kepunahan,” kata Founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Dr Amalia Rezeki di Banjarmasin, Senin (29/1/2024).

Dikutip AntaraNews, Amel, sapaan akrab Doktor Konservasi Bekantan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengatakan bayi bekantan yang belum teridentifikasi jenis kelaminnya itu lahir dari seekor bekantan betina muda yang diberi nama Chery dari kelompok Bravo.

Dia menyebut kelahiran bayi bekantan merupakan anugerah terindah dari kerja keras SBI yang berupaya memulihkan ekosistem mangrove rambai di kawasan penyangga habitat bekantan yang awalnya hanya 14 individu di tahun 2016.

Sekarang di Stasiun Riset Bekantan terdapat sekitar 44 individu bekantan yang terdiri atas tiga kelompok yang masing-masing diberi nama Alpha, Bravo dan Charli.

Stasiun Riset Bekantan merupakan role model pengelolaan kawasan habitat bekantan di luar kawasan konservasi yang telah berhasil memulihkan habitat bekantan dan melakukan penambahan populasi bekantan secara alami mencapai 100 persen lebih dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Bahkan melampaui target dari program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk penambahan populasi bekantan sebanyak 10 persen selama lima tahun atau 2 persen setiap tahunnya.

Baca Juga :   ARGUMENTASI Diutarakan H Fani - Habib Taufan Sektor Pertanian di Debat Perdana jadi Perhatian

Amel berharap semua pemangku kepentingan bisa saling membantu satu sama lain menyelamatkan bekantan di kawasan tersebut dengan menjaga habitatnya yang tersisa agar tidak beralih fungsi yang dapat merusak habitat bekantan dan ekosistem hutan mangrove rambai.

Untuk memulihkan ekosistem hutan mangrove rambai di kawasan Stasiun Riset Bekantan, Amel dan timnya melakukan program restorasi mangrove rambai dengan menanam kembali pohon mangrove, khususnya jenis pohon rambai yang merupakan tegakan dan pakan utama bekantan.

Seperti diketahui bekantan adalah satwa unik yang juga dikenal dengan sebutan “Long Nose Monkey“ merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang statusnya terancam punah dan dilindungi negara berdasar Peraturan pemerintah No 7 Tahun 1999 yang kemudian diperbaharui menjadi PP Nomor 106 tahun 2018.

Di samping itu secara internasional bekantan sejak tahun 2000 oleh Lembaga Konservasi Internasional IUCN (International Union For Conservation of Nature and Natural Resources) juga telah memasukkan bekantan ke dalam daftar merah dengan status “Endangered Species“ atau terancam punah.

Hari Primata Indonesia tahun ini mengangkat tema “Primata Kita Luar Biasa”.

Amel menyatakan momentum ini harus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia bahwa negara Indonesia kaya akan ragam primatanya yang tidak banyak orang tahu mengenai peranan besarnya dalam sebuah ekosistem. [*/UT]

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

EKS KEKASIH Terdakwa Pembunuh Mahasiswi ULM, Berucap : “Saya Sedih, Kecewa dan Benci”
DPRD KALSEL Ajukan 1.774 Usulan Pokir untuk RKPD 2027
SENPI-AMUNISI di Polresta Banjarmasin Diperiksa Propam Polda Kalsel
BELASAN TERSANGKA PENGEDAR Diamankan Polresta Banjarmasin dengan Sabu 2,2 Kg
DIBONGKAR JARINGAN NARKOTIKA Jalur Perairan Banjarmasin, Sita 2 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi
TERUNGKAP MOTIF Kasus Pembunuhan di Surgi Muft Banjarmasin, Begini Pengakuan Pelaku
KEBIJAKAN WFH tak Berlaku di Pemprov Kalsel, Begini Pertimbangannya
PERKUAT PENGAMANAN Jelang Laga Barito Putra Vs PSS Sleman Lewat FGD Bersama Suporter

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 00:22

EKS KEKASIH Terdakwa Pembunuh Mahasiswi ULM, Berucap : “Saya Sedih, Kecewa dan Benci”

Selasa, 7 April 2026 - 23:29

DPRD KALSEL Ajukan 1.774 Usulan Pokir untuk RKPD 2027

Selasa, 7 April 2026 - 22:04

KEPALA BNN Usulkan Vape Pelarangan dalam RUU Narkotika dan Psikotropika

Selasa, 7 April 2026 - 21:50

SENPI-AMUNISI di Polresta Banjarmasin Diperiksa Propam Polda Kalsel

Selasa, 7 April 2026 - 18:35

DIBONGKAR JARINGAN NARKOTIKA Jalur Perairan Banjarmasin, Sita 2 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi

Selasa, 7 April 2026 - 16:17

TERUNGKAP MOTIF Kasus Pembunuhan di Surgi Muft Banjarmasin, Begini Pengakuan Pelaku

Selasa, 7 April 2026 - 00:22

KEBIJAKAN WFH tak Berlaku di Pemprov Kalsel, Begini Pertimbangannya

Selasa, 7 April 2026 - 00:22

BURON NARKOBA “The Doctor” Diperiksa Bareskrim

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca