Jaringan Prostitusi Kelas Atas Bukan Hal Baru

Jaringan Prostitusi Kelas Atas Bukan Hal Baru

Suarindonesia – Baru dua hari lalu, Jumat, akun di Twitter ini masih bisa dilongok semua orang. Tapi kemarin, Sabtu, @Hea***Agency, sudah ditutup untuk umum. Hanya mereka yang sudah jadi member yang bisa melihatnya. Ada pula akun sejenis, @osh*agency, juga tidak bisa dilihat semua oranf. Kedua pengelola akun ini menawarkan ‘jasa’ sejenis.

Mereka mengaku bisa ‘menyediakan’ jasa premium escort. Salah satu definisi escort menurut kamus Merriam Webster adalah a woman or a man who is hired to go with someone to a social event. Tapi jasa yang ditawarkan dua akun ini jelas bukan jenis ini. Pada November lalu, misalnya, pemilik @osh**agency, menulis pilihan-pilihan ‘teman’ yang bisa mereka sediakan.

Grade B : Freelancer, College Girl, etc.

Grade A : SPG, USHER, New Model, etc.

Grade A+ : Model, FTV Talent, Instaceleb, etc.

Grade S : Only for Super Premium Member

Jaringan prostitusi kelas atas yang melibatkan model, artis, mahasiswi, dan sebagainya memang bukan barang baru. Dulu, pada akhir 1980-an, ada yang namanya Hartono Setyawan. Lantaran bisnisnya, orang-orang memanggilnya Hartono ‘Ayam’. Dia punya banyak anak buah perempuan. Ada artis, ada pula model.

Pelanggan jasa ‘anak buahnya’ ini macam-macam, ada pejabat, ada pula pengusaha. Semuanya punya banyak duit karena jasa anak buah Hartono terang tak murah. Konon, anak buah Hartono selalu diantar mobil mewah jika ada yang hendak memakai jasanya. Pada 1987, jaringan pelacuran Hartono yang dia kendalikan dari rumahnya di Jl. Prapanca, Jakarta Selatan, terbongkar. Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghukumnya 8 bulan penjara.

Pada Sabtu pekan lalu, polisi dari satuan Subdit Cybercrime Direktorat Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Timur menggerebek Vanesza Adzania, atau lebih dikenal sebagai Vanessa Angel, saat dia berada di kamar hotel bersama seorang laki-laki. Vanessa ditangkap polisi di kamar 2721 Hotel Vasa di Jl. H.R. Muhammad, Surabaya. Selain menangkap Vanessa, polisi juga menjemput Avriellya Shaqqila, model foto yang pernah tampil di beberapa majalah dewasa.

Vanessa, menurut polisi, merupakan ‘anak buah’ Endang Suhartini alias Siska dan Tentri Novanto. Endang, 37 tahun, diamankan polisi ketika menunggui Vanessa ‘melayani’ tamunya di Hotel Vasa. Sementara, Tentri, 28 tahun, ditangkap polisi di Tower Alamanda, Apartemen Bassura City, Cipinang, Jakarta Timur. Jaringan prostitusi yang dikelola dua muncikari ini bukan main juga. Dari hasil pemeriksaan polisi, menurut Kepala Polda Jawa Timur, Inspektur Jenderal Luki Hermawan, ada 45 artis dan 100 foto model yang memakai ‘jasa’ Endang dan Tentri untuk menjajakan diri.

Ini bukan hanya model perempuan, tapi juga terjadi pada model laki-laki’

Selain Vanessa Angel, enam nama artis atau model yang disebut namanya oleh polisi sebagai anggota jaringan Siska dan Tentri, yaitu Fatya Ginanjarsari, Maulia Lestari, Baby Shu, Riri Febianti, Aldira Chena, dan Tiara Permata Sari. Rata-rata usia artis dan model yang jadi ‘anak asuh’ Siska-Tentri ini masih berusia dibawah 30 tahun. “Lima oknum ini dalam waktu dekat akan kami panggil,” kata Irjen Luki Hermawan beberapa hari lalu. Surat panggilan untuk pemeriksaan sudah dilayangkan kepolisian kepada enam orang itu.

Tak hanya di Indonesia artis atau model terlibat prostitusi. Pelacuran di kalangan model, menurut Jazz Egger, model cantik asal Austria, sudah hal biasa. Kadang, kata Jazz kepada Fox News beberapa waktu lalu, para model ini melacurkan diri demi uang. Tapi ada kalanya pula mereka rela menjual diri untuk mendongkrak karir.

“Ini bukan hanya model perempuan, tapi juga terjadi pada model laki-laki,” kata Jazz. Dia menuturkan, pernah ada seorang laki-laki mengirimkan pesan bahwa ada seorang aktor kondang menginginkan Jazz ‘menemaninya’. Saat model cantik itu menolak, laki-laki itu marah dan mengatakan bahwa model-model kondang pun mau menerima tawaran seperti itu. Bahkan, kata Jazz, sebagian agensi ada yang berperan menjajakan ‘jasa plus-plus’ untuk model-modelnya.

Salah satu model yang terang-terangan mengakui pernah melacurkan diri adalah Sophie Anderton asal Inggris. Selain sering tampil di majalah, Sophie juga muncul di sejumlah acara televisi seperti I’m a Celebrity. Untuk kencan pertama Sophie, germonya pasang tarif £15.000 atau Rp 272 juta per jam. Pelanggannya seorang pengusaha kaya raya. “Semuanya selesai hanya dalam dua menit….Aku berbaring di sana dan berpikir, ‘Hanya seperti ini untuk £15.000?’,” kata Sophie dikutip Daily Mail beberapa tahun lalu.

Ini memang pekerjaan cepat, tanpa perlu banyak keringat, yang bisa menghasilkan banyak duit. Seperti kata mantan muncikari, Robby Abbas, saat diwawancara oleh pengacara Hotman Paris Hutapea beberapa hari lalu. “Dikatakan empuk ya empuk….Yang namanya uang setan itu ya empuk, bang,” kata Robby. Tiga tahun lalu, pengadilan menghukum Robby 16 bulan penjara setelah dia terbukti jadi muncikari untuk sejumlah artis dan model.

Bayangkan saja, konon tarif untuk satu kali pakai ‘jasa’ Vanessa Angel Rp 80 juta, setara dengan gaji sebulan direktur di perusahaan-perusahaan kelas menengah. Untuk artis-artis ternama, angkanya tentu lebih besar lagi. “Dulu, aku bisa sampai Rp 150 juta. Dulu ya, waktu aku menjalani bisnis prostitusi itu,” Robby menuturkan. Makanya, menurut Robby, akan selalu muncul Robby Abbas atau Hartono baru di dunia esek-esek kelas atas ini.

Beda cerita dengan ‘dunia remang-remang’ yang sarat dengan kisah eksploitasi dan cerita-cerita memilukan, hubungan antara germo seperti Robby dan Siska dengan ‘anak buahnya’, paling tidak menurut pengakuan dua orang ini, adalah hubungan yang ‘saling menguntungkan’. Tak jarang, justru para artis dan model itu lah yang meminta Robby untuk mencarikan calon pelanggan.

Sehingga, menurut dia, perlakuan hukum pada kasus ini mestinya sama dengan kasus narkoba, di mana pengedar, bandar dan penggunanya, semua kena jerat hukum. Jadi tak adil bila hanya muncikari yang menjadi pesakitan. “Kita nggak bisa menyalahkan muncikari seratus persen, karena artis dan model itu ada yang meminta langsung ke kami,” ujar Robby, Jumat kemarin. “Kalau para artis itu korban, kok dia yang minta? Dan itu berkali-kali, kayak kasusku.”

Endang dan Tentri mengungkapkan hal serupa ketika ditanya wartawan di Markas Polda Jawa Timur, Kamis lalu. Keduanya mengaku, tak pernah memaksa atau memberikan iming-iming kepada artis agar mereka mau melayani para laki-laki hidung belang. “Saya nggak ngajak ya, tapi mereka menawarkan diri sendiri,” ujar Endang kepada wartawan.

Repotnya, memang tak ada pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang bisa dipakai untuk menjerat pelacur maupun pemakai jasanya. Di Jakarta, memang ada Peraturan Daerah nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang bisa dipakai menjerat pekerja seks maupun pelanggannya. Namun tentu saja, peraturan itu hanya berlaku di wilayah DKI Jakarta.

Untuk mendapatkan seorang artis yang mau menjual diri, kata Robby, bukan urusan yang sangat sulit bagi yang sudah sering bergaul di lingkungan itu. Sebab mereka saling kenal, saling tahu siapa saja yang bersedia nyemplung di dunia itu. “Dari pergaulan sih biasanya, dari teman ke teman lah,” ujarnya.

Kalau para artis itu korban, kok dia yang minta? Dan itu berkali-kali, kayak kasusku

Panggil saja dia Mario, bukan nama sebenarnya. Mario kerja di lingkungan artis sejak 2012 dan kenal banyak artis. Menurut dia, di kalangan artis ada banyak komunitas-komunitas kecil, seperti grup gaul atau geng arisan. Lewat kelompok-kelompok kecil seperti ini lah, informasi soal transaksi esek-esek kelas atas ini menyebar. Selama di kelompok itu tidak ada yang iri atau cemburu atas ‘keberhasilan’ sang artis memperoleh banyak materi dari kliennya, maka semuanya akan aman-aman saja.

Kadang kala, Mario menuturkan, di antara anggota komunitas kecil itu malah saling bertukar posisi. Jika ada hubungan antara seorang teman dengan pelanggannya tak berlanjut, teman yang lain akan siap menggantikan posisinya. “Si teman akan menawarkan diri kepada klien yang sama,” ujar Mario. Ada banyak jenis imbalan yang didapatkan para artis yang menjajakan diri ini. Tak melulu hanya uang, tapi juga barang-barang mahal. “Tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Ada yang biasanya sebelum mulai berkencan, sembari jalan-jalan shopping terlebih dulu. Ya tergantung si papahya..hahahaha.”

Memang tak semua artis dan model foto mau menjual diri. Artis yang berani melakukan itu hanya lah artis-artis yang memang belum terlalu terkenal atau populer. Biasanya, kata Mario, mereka sering terlihat bergandengan kemana-mana bersama induk semangnya alias sang muncikari.(detikcom/RA)

 370 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: