SuarIndonesia – Kota Banjarmasin secara beruntun hanya memperoleh Sertifikat Adipura, bukan piala selama 2 tahun terakhir.
Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina meminta mengkonfirmasi kepada Kepala Dinas DLH, Alive Yoesfah Love dengan alasan yang bersangkutan yang menerima penghargaan.
Dan, Jumat (8/0/2024), Pemko Banjarmasin buka suara melalui Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Kota Banjarmasin, Marzuki.
Marzuki mengatakan penyebab kegagalan Kota Banjarmasin meraih piala Adipura dan hanya mendapatkan sertifikat karena penilaian yang jatuh pada titik Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih.
Dari standar penilaian dengan angka 75, Kota Banjarmasin hanya meraih nilai 71.
“Kita kekurangan nilai di TPA, TPA tidak baik-baik saja, TPA ini sudah uzur seharusnya tahun 2020 lalu sudah full kata Marzuki.
Penyebabnya adalah tempat pembuangan akhir Basirih memakai sistem open dumping atau pembuangan secara terbuka, sementara dari tim penilai KLHK mengharuskan pengelolaan sampah dengan sanitary landfill.
Bentuk penilaian ini sangat sulit dipenuhi oleh Kota Banjarmasin karena lahan yang ada berupa lahan rawa-rawa atau dataran rendah.
Solusinya adalah melakukan penutupan di TPA dengan material tanah atau minimal dengan menggunakan terpal.
Menurutnya untuk mengatasinya adalah dengan memperbesar kapasitas TPA dari seluas 39,5 Hektar menjadi 42 hektar atau sekitar 4 hektar pada tahun 2023.
Namun, penambahan luas lahan ini sulit dilakukan karena adanya penolakan warga, banyaknya spekulan tanah hingga larangan pembangunan TPA baru.
Disebutnya dari 4 kriteria, yaitu pengelolaan sampah, RTH, TPA dan partisipasi masyarakat, memang TPA yang membuat nilai Adipura jeblok.
Selain itu, perlu ada pengelolaan air lindi dan peningkatan tutupan tanah kalau mau penilaian lebih baik.
Sebab yang dilakukan saat ini dengan memanfaatkan gas metan dan pembentukan rumah maggot belum cukup.
“Sejak 2023 lalu, kita telah berusaha untuk perbaikan, poin penilaian agar bertambah tapi semua belum cukup” ujar Marzuki.
Marzuki menyebutkan untuk meraih piala Adipura atau Adipura Kencana cukup sulit karena Kota Banjarmasin harus bersaing dengan kota-kota besar lainnya seperti Samarinda, Makassar, Yogyakarta, Bandung dan lainnya dengan persoalan yang kurang lebih sama.
Selain itu, produksi sampah Kota Banjarnasin cukup besar hingga 500 ton per hari, tidak bisa dibandingkan dengan Kota Banjarbaru dengan 100 ton per hari atau kota lainnya dengan produksi sampah kurang dari 50 ton per hari.
Namun, walaupun hanya meraih Sertifikat Adipura, Marzuki menyatakan pengelolaan sampah di Kota Banjarmasin cukup baik dengan penghargaan sertifikat ini membuktikan pengelolaan sampah di sumber sampah cukup baik.
“Kekurangan kita cuma pengelolaan sampah di sisi hilir yaitu di TPA tidak ada proses keberlanjutan dan lingkungan sesuai persyaratan, seharusnya TPA hanya menampung residu dan sampah yang tidak bisa di olah lagi” kata Marzuki. (*/SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















