BMKG: EL NINO Diprediksikan Bertahan hingga Kuartal I 2027

- Penulis

Kamis, 30 Juli 2026 - 21:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan) didampingi Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto (kiri) memberikan keterangan terkait perkembangan musim kemarau dan penguatan operasi modifikasi cuaca sebagai antisipasi dampak El Nino di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Foto: Antara/Darryl Ramadhan)

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan) didampingi Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto (kiri) memberikan keterangan terkait perkembangan musim kemarau dan penguatan operasi modifikasi cuaca sebagai antisipasi dampak El Nino di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). (Foto: Antara/Darryl Ramadhan)

SuarIndonesia — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksikan fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027 dengan peluang puncak intensitas mencapai kategori kuat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani ditemui dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026), menyampaikan fenomena tersebut berpotensi dibarengi dengan munculnya kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.

“Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, dimana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal,” kata Faisal.

Dia menjelaskan hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, termasuk sebagian besar Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Direktorat Klimatologi BMKG dalam hal ini melaporkan puncak musim kemarau 2026 diprakirakan dominan terjadi pada bulan Agustus dan September, dengan 437 ZOM bakal mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi biasanya.

“Ancaman kekeringan ekstrem ini berimplikasi langsung pada tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dimana BMKG mencatat telah muncul 4.900 titik panas hingga akhir Juli 2026,” kata Teuku Faisal Fathani.

Sebagai langkah mitigasi proaktif, lanjutnya, selain memberikan analisa faktual, BMKG juga memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah rawan bencana karhutla dan kekeringan, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, hingga posko pendukung yang dipusatkan di Jawa Barat.

BMKG, menurut dia, menaruh harapan besar terhadap sinergi lintas instansi bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), agar dapat mengoptimalkan modifikasi cuaca serta pemadaman darat sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.

Peringatkan risiko “heatstroke” dan ISPA

Selanjutnya, BMKG juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai ancaman kesehatan masyarakat, seperti heatstroke dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), selama berlangsungnya musim kemarau tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa minimnya tutupan awan selama musim kemarau memicu peningkatan suhu udara secara terik di berbagai wilayah.

“Tidak kalah penting juga sektor kesehatan. Sejalan dengan musim kemarau, itu biasanya cuaca panas karena kondisi pada saat musim kemarau biasanya tutupan awan itu rendah,” kata dia.

Baca Juga :   TONGKAT KOMANDO Kapolresta Banjarmasin Dipegang Kombes Pol Riza Muttaqin, Begini Komitmen dan Prioritasnya

Ardhasena menjelaskan bahwa kondisi suhu ekstrem akibat tutupan awan yang amat tipis berpotensi memicu heatstroke atau sengatan panas, terutama bagi warga yang beraktivitas cukup lama di luar ruangan.

Selain ancaman suhu tinggi, penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran selama kemarau turut meningkatkan paparan penyakit pernapasan.

“Kondisi penurunan kualitas udara ini sangat berasosiasi dengan timbulnya penyakit ISPA di tengah masyarakat,” katanya menjelaskan.

Antisipasi lonjakan beban listrik selama El Nino aktif

Sementara itu, dilansir dari Antara, BMKG juga mengimbau para pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh Indonesia untuk merencanakan penggunaan air secara terukur, guna mengantisipasi lonjakan beban listrik selama fenomena El Nino.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan lonjakan konsumsi energi nasional kerap terjadi bersamaan dengan penurunan cadangan air waduk saat cuaca panas hingga kekeringan melanda.

“Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya,” kata Ardhasena.

Ardhasena menjelaskan peningkatan suhu udara yang signifikan selama kemarau bakal mendorong kenaikan beban puncak listrik akibat masifnya penggunaan alat pendingin ruangan oleh masyarakat.

Lalu pada saat yang bersamaan, kapasitas produksi energi bersih dari fasilitas PLTA terancam terganggu apabila debit air waduk dan danau surut tanpa perencanaan penghematan yang matang.

Oleh karena itu BMKG mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, dan pengelola bendungan, untuk menggunakan pemutakhiran data iklim sebagai acuan dalam mengatur pola pemutaran turbin air.

“Manajemen alokasi air yang presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau,” katanya. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

LIGA 2 CHAMPIONSHIP: Barito Putera Kandaskan PSBS Biak 3-0
KASUS EMPAT PELABUHAN: KPK Periksa Mantan Kepala KSOP Samarinda
26 OKTOBER, Korlantas Polri Gelar Operasi Patuh 2026
243 ORANG dan 13 Korporasi jadi Tersangka Karhutla
PERUSAHAAN ASING Dicurigai sebabkan Karhutla Kalimantan
RATUSAN BUMN DIPANGKAS Demi Hemat Anggaran Rp50 Triliun
PENERTIBAN KAWASAN HUTAN tetap Lanjut Meski Ada Perlawanan
DISIAPKAN Ratusan Titik Rumah Oksigen-Mobil Keliling Karhutla

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 01:09

AMUK API di Permukiman Blok Pasar Lama, Seorang Meninggal Dunia

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:09

TENGGELAM Dua Anak Peserta Porsadin Tingkat Provinsi Kalsel, Satu Tak Terselamatkan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:14

SEJUMLAH RELAWAN BPK Mendapat Voucer BBM Gratis

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:14

UNGKAP BELASAN KASUS, Polda Kalsel Tetapkan 18 Tersangka BBM Subsidi hingga Jutaan Rokok Ilegal

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:21

HIJAUKAN Lingkungan Lewat “Green Policing”

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:17

RAKORDA ASDEKSI Kalsel Tekankan Pentingnya Akuntabilitas Pendalaman Tugas Anggota DPRD

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:13

BAKAR TERPAL Warung Bakso, ABH 12 Tahun Dimediasi Polisi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:08

PULUHAN WARGA-POLISI Aksi Donor Darah Wujud Kepedulian Terhadap Sesama

Berita Terbaru

Dua WNA Afghanistan dideportasi Imigrasi Balikpapan. (Foto: Imigrasi Balikpapan)

Kaltim

2 WNA AFGHANISTAN Dideportasi

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:05

Foto ilustrasi hujan menyelimuti Kota Cantik Palangka Raya pada tahun lalu. (Foto: Istimewa)

Kalteng

PUNCAK MUSIM HUJAN antara Desember-Januari 2027

Jumat, 23 Okt 2026 - 21:59

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca