SuarIndonesia — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap dilaksanakan, meski musim kemarau tahun ini relatif basah dengan masih adanya curah hujan.
“Menyikapi fenomena yang terjadi belakangan ini kami dari BPBD Kotim tetap melakukan kesiapsiagaan, seluruh unit posisinya juga sudah kami laporkan ke Bupati dan Kapolres, sehingga apabila ada kejadian sudah dalam posisi siap pakai, siap guna,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Rabu (2/7/2025).
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lanjutnya, Kotim mulai memasuki musim kemarau pada dasarian Juni lalu, khususnya untuk wilayah selatan.
Namun awal musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Apalagi, kata dia, berdasarkan analisa BMKG terdapat fenomena siklon di sejumlah daerah yang memicu terjadinya hujan di lokasi-lokasi tertentu, termasuk wilayah Kota Sampit dan sekitarnya yang belakangan terpantau masih sering hujan.
“Seiring berjalannya waktu sampai dengan sekarang 1 Juli intensitas hujan sudah mulai menurun, tetapi tidak menutup kemungkinan pada periode-periode tertentu di musim kemarau ini akan ada gangguan cuaca lagi yang mengakibatkan terjadinya hujan,” ujarnya.
Multazam mengatakan kemunculan embun atau kabut ketika pagi dalam beberapa hari terakhir, khususnya di wilayah Kota Sampit, juga menjadi penanda awal musim kemarau. Sebab kondisi itu menunjukkan adanya perubahan temperatur udara.
Selain itu, menurutnya, intensitas hujan yang cukup sering pada Juni lalu juga dapat menjadi pertanda akhir musim hujan, sehingga beberapa hal tersebut menjadi acuan BPBD Kotim untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana karhutla.
Kesiapsiagaan terhadap bencana karhutla memang perlu dilakukan sedini mungkin, mengingat wilayah Kotim yang didominasi lahan gambut yang menjadikannya termasuk kabupaten di Kalimantan Tengah yang paling rawan terjadi karhutla.
“Berdasarkan data kami sejak tahun 2015 hingga 2024 menunjukkan periode kemarau itu memang dimulai pada Juni, lalu biasanya peningkatan secara drastis terjadi pada Juli dan Agustus, cuma kadarnya berbeda-beda. Tahun 2023 lalu kejadian karhutla cukup besar, adapun untuk 2025 ini kita lihat nanti perkembangannya,” ucap Multazam, dilansir dari AntaraNewsKalteng.
Dalam menghadapi potensi karhutla ini pihaknya telah memastikan unit atau armada, peralatan, serta personel telah siap, termasuk apabila terjadi perluasan dampak kemarau yang mengakibatkan kekeringan, BPBD Kotim siap menangani. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















