Tiga Tahun Meninggalnya Petinju ‘The Greatest’ Muhammad Ali

- Penulis

Selasa, 4 Juni 2019 - 14:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Ali petinju yang cukup disegani di masanya. (REUTERS/Andreas Meier)

Suarindonesia – Hari ini tepat tiga tahun lalu, mantan juara dunia kelas berat asal Amerika Serikat, Muhammad Ali, meninggal di rumah sakit di Phoenix, Arizona. Pada saat itu jatuh pada hari Jumat, Ali meninggal karena penyakit komplikasi pernapasan satu hari sebelumnya.

Ali lahir di Louisville, Kentucky, 17 Januari 1942, dengan nama asli Cassius Marcellus Clay Jr, bukan Muhammad Ali. Di sepanjang hidupnya, Ali merupakan petinju profesional dan juga aktivis sosial.

Di atas ring, Ali merupakan peraih medali emas Olimpiade, juara dunia kelas berat di tiga kesempatan berbeda, dan sukses mempertahankan gelarnya itu selama 19 kali.

Karier tinjunya bermula di usia 12 tahun. Setelah melalui level amatir, Ali meraih medali emas di Olimpiade Roma 1960 di kelas berat ringan (175 pound).

Sejak itu, ia memasuki karier profesional di atas ring, di bawah Louisville Sponsoring Group. Sosok Ali lebih dikenal karena pesona dan kepribadiannya daripada keterampilannya dalam bertinju.

Pada 25 Februari 1964, Clay menantang Sonny Liston untuk gelar juara dunia. Saat itu Liston dikenal sebagai petinju paling menakutkan dan paling bertenaga di eranya. Sedangkan Clay tidak diunggulkan.

Secara mengejutkan, Liston menyerah di ronde keenam, dan Clay menjadi juara dunia kelas berat. Dua hari kemudian giliran Clay yang memberikan kejutan untuk dunia tinju dengan mengaku tengah belajar Islam. Pada 6 Maret 1964, Clay mengubah namanya menjadi Mumahhad Ali yang diberikan guru spiritualnya, Elijah Muhammad.

Garis hidup Ali di dunia tinju kian apik. Tiga tahun usai memeluk Islam, Ali mendominasi tinju. Ia melakoni pertarungan ulang dengan Liston pada Mei 1965 dan kembali memenanginya dengan KO di ronde pertama.

Selanjutnya, giliran nama-nama seperti Floyd Patterson, George Chuvalo, Henry Cooper, Brian London, dan Karl Mildenberger dibuat bertekuk lutut. Ali melawan Cleveland Williams pada November 1966, dan ia sukses mendaratkan lebih 100 pukulan dalam tiga ronde, empat kali menjatuhkan lawan dan hanya dipukul tiga kali.

Meski berprestasi di atas ring, Muhammad Ali tidak lepas dari kontroversi. Ali pernah menolak berangkat ke Vietnam untuk bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat pada 28 April 1967. Penolakan itu berdasarkan ajaran Islam.

Banyak warga AS yang mengutuk keputusan Ali, karena pada saat itu sebagian besar warga AS mendukung perang di Asia Tenggara. Akibat pendiriannya itu, komisi atletik di negara bagian AS mencopot sabuk juara Ali. Ia juga dilarang naik ring selama tiga setengah tahun.

Hukuman itu tidak saja berlaku di dunia tinju. Penolakan Ali membuatnya didakwa secara pidana dan dijatuhi hukuman penjara lima tahun. Namun, baru satu tahun dihukum, Mahkamah Agung AS membebaskan Ali secara bersyarat.

Baca Juga :   TAIPEI OPEN 2026: Leo/Daniel Juara Sikat Wakil Malaysia

Pada akhir 1960-an Ali kerap melontarkan pesan tentang kebanggaan kulit hitam dan perlawanan terhadap dominasi kulit putih dalam hak-hak sipil. Di bulan Oktober 1970 Ali diizinkan kembali naik ring.

Tetapi, performa Ali tidak lagi seperti sebelumnya. Gerakannya tak lagi lincah. Meski refleksnya masih luar biasa tapi tak lagi secepat tahun-tahun sebelumnya.

Setelah menang melawan Jerry Quarry dan Oscar Bonavena, Ali menantang Joe Frazier yang menjadi juara kelas berat selama dirinya dihukum. Pertarungan pada 8 Maret 1971 itu jadi paling bersejarah dan disebut sebagai “Pertarungan Abad Itu”. Frazier pun menang angka usai laga 15 ronde.

Ali sempat mengalami patah rahang usai ‘dihajar’ Ken Norton di ronde, Maret 1973. Kemudian duel Ali vs Frazier jilid kedua kembali terwujud. Untuk kali kedua Ali kalah, tetapi banyak pihak memuji laga itu sebagai penampilan terbaik Ali.

Muhammad Ali kembali mendapatkan sabuk juara kelas berat setelah mengalahkan George Foreman di ronde kedelapan dalam pertarungan “Rumble in the Jungle” yang digelar di Zaire (kini RD Kongo). Kemenangan itu membuat Ali disanjung warga Zaire.

Dalam kariernya, Ali mengoleksi 56 kemenangan, 37 di antaranya menang KO, dan menelan 5 kekalahan. Kualitas lawan cara Ali meraih kejayaan menempatkan namanya sebagai salah satu petinju terbaik yang pernah ada.

Ali pensiun dari tinju pada 1981. Tiga tahun kemudian menderita parkinson dan kondisinya makin menurun pada 2014. Di tahun tersebut ia masuk rumah sakit karena penyakit pneumonia. Ketika itu Ali dibawa ke rumah sakit setelah sulit dibangunkan dari tidur.

Satu bulan kemudian, suami dari Khalilah Ali itu kembali masuk rumah sakit. Kali ini Ali dirawat karena mengalami masalah dengan infeksi saluran kemih, hingga akhirnya mengalami komplikasi pernapasan pada 2016 dan meninggal di Arizona.

Petinju yang memiliki julukan ‘The Greatest’ itu juga termasuk orang yang takut dengan penerbangan. Ketakutan Ali itu berasal dari pesawat yang mengantarnya dari Louisville ke Chicago mengalami turbulensi. (CNNIndonesia/RA)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

LIGA 2 CHAMPIONSHIP: Barito Putera Kandaskan PSBS Biak 3-0
VICTOR DENMARK OPEN 2026: Fajar/Fikri Juara!
PEGADAIAN CHAMPIONSHIP 2026/2027: Barito Putera Bungkam De Red FC 2-0
PRESTASI GEMILANG Diraih Putri Nida Ulhusna, Atlet Multi Talenta Memborong 12 Medali Kejurprov Renang Kalsel 2026
PEGADAIAN Championship 2026/2027: Barito Putera Tumbangkan Persiba 2-0
RACE MotoGP Mandalika 2026: Marco Bezzecchi Juara, Rider Aprilia Dominan
DERBY BORNEO, Misi Bangkit Barito Putera v Persiba, Frans: ‘Haram’ Kalah di Kandang
FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Juara Lewat Drama Adu Penalti

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 01:09

AMUK API di Permukiman Blok Pasar Lama, Seorang Meninggal Dunia

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:09

TENGGELAM Dua Anak Peserta Porsadin Tingkat Provinsi Kalsel, Satu Tak Terselamatkan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:14

SEJUMLAH RELAWAN BPK Mendapat Voucer BBM Gratis

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:14

UNGKAP BELASAN KASUS, Polda Kalsel Tetapkan 18 Tersangka BBM Subsidi hingga Jutaan Rokok Ilegal

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:21

HIJAUKAN Lingkungan Lewat “Green Policing”

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:17

RAKORDA ASDEKSI Kalsel Tekankan Pentingnya Akuntabilitas Pendalaman Tugas Anggota DPRD

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:13

BAKAR TERPAL Warung Bakso, ABH 12 Tahun Dimediasi Polisi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:08

PULUHAN WARGA-POLISI Aksi Donor Darah Wujud Kepedulian Terhadap Sesama

Berita Terbaru

Dua WNA Afghanistan dideportasi Imigrasi Balikpapan. (Foto: Imigrasi Balikpapan)

Kaltim

2 WNA AFGHANISTAN Dideportasi

Jumat, 23 Okt 2026 - 22:05

Foto ilustrasi hujan menyelimuti Kota Cantik Palangka Raya pada tahun lalu. (Foto: Istimewa)

Kalteng

PUNCAK MUSIM HUJAN antara Desember-Januari 2027

Jumat, 23 Okt 2026 - 21:59

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca