Suarindonesia – Sebelumnya saat menerima sertifikat Geopark Nasional, Geopark Pegunungan Meratus hanya terdiri dari 36 geosite.
Setelah dikembangkan menjadi 72 geosite. Atas dasar banyaknya potensi geosite tersebut, Badan Pengelola Geopark Meratus coba mengusulkan menjadi Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) Nasional.
Semua titik sudah diliniasi, keindahannya saja yang harus diselematkan dan ada titik diliniasi pembantu, diliniasi pembantu bisa dikembangkan.
“Sedangkan diliniasi inti tidak bisa diapa-apakan, itu yang diselamatkan untuk anak cucu kita,” jelas Tim ahli geologi yang juga Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta, Jatmika Setiawan, di sela rapat koordinasi KCAG di Kantor ESDM, Kamis (13/6).
Ia mengatakan, tahun 2019 ini Kalsel akan mengusulkan 72 geostie masuk KCAG. Buku atau dokumen usulan sudah selesai dibuat dan bulan September mendatang diserahkan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk dinilai menjadi KCAG.
“Semoga bisa dinilai secepatnya, semestinya bisa dapat sertifikat pelrindungan cagar alam nasional,” urainya.
Dikatakan Jatmika, pihaknya sudah melakukan penelitian dan mengambil sample bebatuan di geosite.
Hasilnya kata Jatmika, luar biasa, kandungan batuan di Pegunungan Meratus merupakan dasar samudera yang dibentuk jutaan tahun yang lalu.
“Kita temukan berbagai macam variasi batuan sebagau bukti Meratus hamparan batuan dasar laut.
Didukung dengan beberapa morfologi lanscape yang indah dan berbagai macam fosil dan prosesnya.
Saya yakin ini bisa masuk ke tahap proses KCAG,” lontar Jatmika.
Dia juga menyebutkan, bukan hal mustahil Kalsel mengajukan diri menjadikan Geopark Pegunungan Meratus Internasional.
“Peluangnya tentu sangat terbuka, tinggal melengkapi semua persyaratan,” runutnya.
Dikatakan Jatmiko, ada beberapa keuntungan ketika menjadi geopark internasional.
Salah satunya adalah dipromosikan di jaringan geopark dunia.
“Foto-foto geopark akan disebarluaskan melalui jaringan geopark dunia, sehingga orang-orang luas akan semakin cepat mengetahui.
Selain itu pembinaan juga dilakukan oleh UNESCO,” katanya.
Namun untuk ke tahap International, ada beberapa syarat di mana dokumen harus lengkap, dan syaratnya juga dokumen minimal dibuat tiga bahasa.
Sementara, Kepala Bidang Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) Kalsel, Ali Mustofa menjelaskan, ke depan pihaknya tindaklanjut program pengembangan geopark pegunungan Meratus ini dilanjutkan dengan menyiapkan dokumen untuk penetapan kawasan cagar alam geologi (KCAG) bersama dengan Kementerian ESDM.. (RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















