Seminar Nasional Bahas Kerajaan Negara Dipa versi Kerajaan di Jatim

Seminar Nasional Bahas Kerajaan Negara Dipa versi Kerajaan di Jatim

Suarindonesia – Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat pada sabtu (27/10/2018) mengadakan Seminar Nasional tentang Menelusuri Asal-Usul Kerajaan Negara Dipa di Kaimantan Selatan dengan tema Eksistensi, Legitimasi Pkoolitik dalam Perspektif Sejarah versi Kerajaan-Kerajaan di Jawa Timur yang bertempat di Rektorat ULM.

Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Drs. Rusdi Effendi, M. Pd mengatakan, tujuan digelarnya seminar tersebut adalah untuk menggali serta meminimalisir unsur-unsur yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat sebuah mitos.

“Seperti cerita rakyat, contohnya Hikayat Lambung Mangkurat itu oleh para penulis asing itu dianggap mitos,” katanya.

Namun kali ini setelah bekerjasama dengan Museum Singosari dan narasumber, intinya ternyata negara Dipa berdasar berbagai lembaga akreogi di Indonesia itu ada. “Sebelum abad 3 Sebelum Masehi sudah ada hunian atau permukiman masyarakat dari kalangan saat itu Proto Tua, Melayu Tua,” ungkapnya.

Dia berharap, seminar itu agar menjadi sumber ilmu yang jelas bagi masyarakat banyak. Semoga ada follow up untuk melanjutkan kegiatan seperti ini agar meminimalisir berbagai mitos di sekililing warga,” ucapnya.

Narasumber pada seminar kali ini ialah Devan Firmansyah, S. Pd dari Disparbud/Museum Singasari/Komunitas JJM Kabupaten Malam Jawa Timur, dan yang kedua Alumnus Strata 2 Universitas Indonesia yang juga dosen senior pendidikan sejarah FKIP ULM Drs. Hairiyadi, M. Hum.

Devan Firmansyah menjelaskan tentang Perang Gantee dan kemungkinan hubungan Jawa-Kalimantan Selatan di Abad ke XIII-XVII Masehi dengan tafsiran awal sejarah lokal berdasarkan naskah sastra kuno.

Salah satunya membahas tentang Kondisi politik akhir Kerajaan Kediri adalah puncak disintegrasi dari masa-masa sebelumnya.

“Kerajaan Kediri kehilangan Negara Vagèsaal Wengker yang telah melepaskan atau sebelumhya,” ucapnya.

Selain itu, tutur Hairiyadi di hadapan ratusan audiens dari berbagai lapisan masyarakat, medan sejarah Kalimantan bagian tenggara menjelang dan sampai datangnya pengaruh Hindu.

Salah satunya ia menjelaskan tentang Alur Sungai barito yang memanjang dari selatan ke utara yang melintasi wilayah provinsi kalimantan selatan memiliki cabang/anak sungai. Yakni sungai Martapura, cabang/anak sungai Tabalong hulunya berada di kawasan Pegunungan Meratus.

“Kedua cabang/anak sungai ini tidak kalah pentingnya dengan sungai Barito sebagai saksi dan banyak mencatat kejadian yang berlangsung di kawasan Kalimantan bagian selatan,” tegasnya.

“Sampai dengan abad ke-19, sungai Barito dengan cabang/anak sungainya Martapura dengan Sungai Tabalong menjadi bagian penting terutama dalam bidang ekonomi masyaraka,” katanya.

Salah seorang peserta seminar, Sri mengatakan bahwa kegiatan ini sangat menjadi bukti bahwa hal sebuah sejarah bisa dijelaskan secara ilmiah dan mampu ditangkap dengan mudah bagi para peserta seminar.

“Sangat inovatif sekali, mengangkat kegiatan seminar untuk meminimalisir sebuah mitos,” ucapnya.(AR)

 315 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: