Selamat Jalan Pak Rajul

- Penulis

Selasa, 11 September 2018 - 17:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hajriansyah, S.Pd.MAg Seorang Pegiat Sastra dan Seni Rupa

Hajriansyah, S.Pd.MAg Seorang Pegiat Sastra dan Seni Rupa

 

 

Hari berlalu, tahun pun berlalu. Ada yang datang dan ada yang pergi. Tak terelakkan, hidup berjalan seperti aliran sungai menuju muara.

Pagi ini ketika kalender hijriyah berganti, memasuk tahun yang ke-1440, datang berita sedih dari Banjarbaru. Seorang seniman (penari dan penata tari), juga budayawan Banjar, telah meninggalkan kita.

Sirajul Huda, lahir di Banjarmasin pada tanggal 5 Januari 1952. Almarhum menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Lambung Mangkurat pada tahun 1988. Sejak di SMP ia telah ikut berkesenian, terutama melalui seni tari. Ia juga menggeluti seni teater Mamanda sejak tahun 1977 dengan bimbingan Drs. Sapri Kadir dan Drs. Bakhtiar Sandherta, dan termasuk sesepuh di grup Teater Banjarmasin yang menyosialisasikan Mamanda di kota Banjarmasin.

Pernah bekerja di bidang kebudayaan Kanwil Depdikbud hingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Selatan, dan sempat menjabat Kepala Taman Budaya dan Kepala Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, hingga pensiunnya di tahun 2008.

Pak Rajul, begitu saya biasa memanggilnya, adalah orang baik. Ramah dan hangat dalam pergaulan sesama seniman, tak banyak bicara dan tegas dalam pendirian. Yang paling saya ingat setiap kali bertemu beliau, entah di Taman Budaya atau di Mingguraya, beliau selalu menyalami dalam jabat tangan yang kuat. Ya, tak banyak seniman yang saya kenal jika bersalaman begitu kuat genggaman jari-jemarinya.

Beliau sering diminta menjuri, menjadi narasumber, atau sekadar diminta mengomentari sebuah pergelaran tari. Satu kali ketika kami berkumpul dalam workshop di STKIP PGRI Banjarmasin, beliau meminta pendapat saya.

“Bagaimana menurutmu komentarku kemarin?” Saya terhenyak, terdiam sebentar tak langsung menjawab.

Beberapa hari sebelumnya ada pergelaran tari di Mingguraya. Beliau duduk di kursi kehormatan depan panggung bundar, sementara saya duduk di belakang di bangku panjang sebuah warung kopi.

Beliau memang diposisikan untuk mengomentari, sementara saya hanya ditodong secara dadakan untuk mengomentari pergelaran itu dengan kacamata “orang luar”. Beliau bicara dalam kapasitasnya sebagai pengamat dan penata tari, sedangkan saya bicara sekemampuan saya sebagai pegiat sastra dan seni rupa. Tentu beda jauh kemampuan dan cara pandangnya.

Baca Juga :   Mengapa Gugatan Terhadap PLN Diajukan ke PTUN ?

Tapi hari itu Pak Rajul bertanya kepada saya, dan itu cukup mengejutkan. Sebelum ini saya mengenal beliau sebagai orang yang tegas dan punya pendirian dalam amatannya, dan sepertinya cuek dengan pendapat orang lain. Saya akhirnya menjawab pertanyaan beliau dengan “omong-kosong” seorang tak berilmu, tapi mencoba menegaskan bahwa pandangan beliau sudah benar saja. Cukup itu saja, ditambah omong ngelantur lainnya.

Dari momen singkat itu saya merasa melihat sisi kehangatan beliau yang lain. Beliau cukup terbuka dengan pandangan anak muda. Dan, dengan begitu, tentu saja, punya sikap apresiatif terhadap orang muda.

Setelah itu saya merasa cukup dekat dengan beliau daripada sebelumnya.

Ketika membantu mencetak-ulang-kan tiga buku beliau yang pernah terbit sebelumnya, Tari Japin Rantauan, Gerak Dasar Tari Tradisional Kuda Gipang Kalimantan Selatan, dan Permainan Tradisional Rakyat Kalimantan Selatan, saya jadi lebih sering bertemu beliau. Entah di rumah saya, di rumah Pak Kasim, dan di rumah beliau sendiri di Loktabat Utara Banjarbaru.

Saya kira pertemuan-pertemuan secara dekat itu jadi berarti kini. Kini, terbayang kembali wajah dan perawakan beliau yang kokoh, sebelum siang ini nanti mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu, wa-akrim nuzulahu wawassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji walbaradi.

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

DIINTENSIFKAN Disdikbud Kalsel Rencana Kenaikan Tipoligi Museum Lambung Mangkurat
MASUK ERA BARU Strategi Kebudayaan Kalsel jadi Inklusif
SPIRITUALITAS AGUSTUSAN, Semangat Huma Betang dan Masa Depan Gerakan Sosial Dayak
Mengapa Gugatan Terhadap PLN Diajukan ke PTUN ?
DIVISITASI Kemendagri Rencana Kenaikan Grade Museum Lambung Mangkurat
PELESTARIAN Naskah Kuno Warisan Budaya Banua
MESIWAH PARE GUMBOH sebagai Warisan Budaya Dayak Deah
Museum Lambung Mangkurat Tutup Setiap Senin Mulai 20 Juli 2026

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:25

BERKOLABORASI Jaksa di Kalsel dan IKA UNAIR Masuk Sekolah di SMAN 7 Banjarmasin

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 16:54

KUNJUNGAN KOMJAK RI Diterima Kajati Kalsel dan Dilanjut Dialog dengan Mahasiswa

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:19

KARHUTLA di Sungai Biuku, Bhabinkamtibmas Sungai Andai Turun Bantu Relawan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:13

AKSI BEM “Kalsel Lumpuh Jilid II”, Dihadapi DPRD dan Ajak Turun Bersama Tangani Karhutla

Jumat, 28 Agustus 2026 - 23:26

INOVASI Atasi Karhutla, Polda Kalsel Gunakan Racikan Khusus Metode Pipa Suntik dan Kolam Bioflok

Jumat, 28 Agustus 2026 - 23:07

DICEK Gubernur Muhidin Ketersediaan Air di Embung Jomowi

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:41

KARHUTLA Kapuas Hanguskan Rumah Warga

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:36

JUMAT PAGI, Kualitas Udara Banjarbaru Kategori Berbahaya

Berita Terbaru

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca