Sampah dan Jamban Apung Bahasan Utama AKKOPSI

Sampah dan Jamban Apung Bahasan Utama AKKOPSI

Suarindonesia – Pengelolaan Sampah dan Jamban Apung menjadi bahasan utama di Advocacy Horizontal Learning yang digelar oleh Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) di Hotel Best Western, Jalan A Yani Km 4,5 Banjarmasin Timur, Kamis 22/11/2018.

Walikota Banjarmasin, H Ibnu Sina menyampaikan kegiatan hari ini merupakan bagian dari program kerja AKKOPSI pusat tentang pengelolaan sampah di sungai dan pesisir yang di ikuti oleh 78 kabupaten dan 30 kota se Indonesia.

Menurut Politisi PKS ini, pembelajaran hari ini terkait dengan pengelolaan sampah di Kota Banjarmasin terkait dengan Peraturan Walikota No 18 Tahun 2016 tentang Larangan Penggunaan Kantong Plastik di Retail Modern di Banjarmasin. Kemudian soal Peraturan Pelabuhan di Kota Bitung tentang Larangan Membuang Sampah ke Sungai, serta di Kabupaten Pring Sewu untuk Pengelolaan Jamban Apung di sungai.

“Jadi pembahasan pembelajaran kita bersama hari ini adalah mencakup pengelolaan sampah termasuk sanitasi serta dengan kabupaten lain, yakni Kabupaten Pring Sewu yang menerapkan pembebasan Jamban Apung di sungai,” ucap Ibnu Sina kepada wartawan pada Pengelolaan Sampah dan Jamban Apung menjadi bahasan utama di Advocacy Horizontal Learning yang digelar oleh Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (AKKOPSI) di Hotel Best Western, Jalan A Yani Km 4,5 Banjarmasin Timur, Kamis (22/11/2018.)

Wakil Walikota Bitung, Maurits Mantiri mengutarakan peraturan larangan membuang sampah di Kota Bitung sudah efektif dan hasilnya memang luar biasa, sungai menjadi bersih dan jauh dari kata tercemar.

Sementata Bupati Pring Sewu, Sujadi Saddad mengatakan Pring Sewu sudah sejak 2014 mensosialisasikan tentang penggunaan jamban apung untuk dihentikan agar berubah menggunakan jamban di darat untuk buang kotoran masyarakat Pring Sewu.

“Mulai 2014 sampai dengan 2017, akhirnya kami mencapai 100%. Kabupaten Pring Sewu bebas jamban apung dan kita sosialisasikan masyarakat dengan pembelajaran terkait budaya dan agama, sehingga masyarakat sadar akan bahaya buang air di jamban apung bisa menyebabkan penyakit tersendiri untuk mereka,” ujar Sujadi Saddad.

Kemudian Direktur Eksekutif Sekretariat Nasional AKKOPSI, Josrizal Zai mengharap jangan ada lagi orang membuang sampah dan limbah di sungai. “Kita mengharapkan setelah pertemuan ini ada deklarasi komitmen bersama dari para bupati dan walikota untuk membuat larangan membuang sampah dan limbah di sungai,” katanya.22/11).

Wakil Walikota Bitung, Maurits Mantiri mengutarakan sudah efektif untuk peraturan larangan membuang sampah di Kota Bitung, dan hasilnya memang luar biasa sungai menjadi bersih dan jauh dari kata tercemar.

Adapun Bupati Pring Sewu, Sujadi Saddad mengatakan Pring Sewu sudah sejak 2014 mensosialisasikan tentang penggunaan jamban apung untuk dihentikan agar berubah menggunakan jamban di darat untuk buang kotoran masyarakat Pring Sewu.

“Mulai 2014 sampai dengan 2017 akhirnya kami mencapai 100%. Kabupaten Pring Sewu bebas jamban apung dan kita sosialisasikan masyarakat dengan pembelajaran terkait budaya dan agama sehingga masyarakat sadar akan bahaya buang air di jamban apung bisa menyebabkan penyakit tersendiri untuk mereka,” ujar Sujadi Saddad.

Kemudian Direktur Eksekutif Sekretariat Nasional AKKOPSI, Josrizal Zain mengharap jangan ada lagi orang membuang sampah dan limbah ke sungai. Kita mengharapkan setelah pertemuan ini ada deklarasi komitmen bersama dari para bupati dan walikota untuk membuat larangan membuang sampah dan limbah di sungai,” katanya.(SU)

 182 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: