KOPI Rempah Penyambung Kehidupan

- Penulis

Senin, 1 September 2025 - 21:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Raya Sadianor bercerita tentang kopi rempah kepada sejumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke desanya. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Raya Sadianor bercerita tentang kopi rempah kepada sejumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke desanya. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

SuarIndonesia — Raya Sadianor (32) sedari kecil hidup dan terbiasa dengan aroma kopi robusta olahan orangtuanya di Desa Karuing, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah.

Meski tak ada kebun berskala besar yang luasnya mencapai ukuran hektare, sejak dulu di Desa Karuing tanaman kopi memang cukup mudah ditemui di hampir setiap pekarangan rumah warga.

Oleh karena itu, bagi Raya kopi tak hanya sekadar bahan baku untuk membuat minuman, tapi lebih dari itu, kopi sudah menjadi tradisi bahkan identitas para leluhurnya.

Wangi aroma kopi dari rumahnya pun terasa berbeda dengan aroma kopi pada umumnya; kopi racikan Raya memiliki ciri khas tersendiri karena dibuat dengan resep khusus dari orangtua yang mengombinasikan bubuk kopi dengan berbagai rempah.

Wangi aroma kopi kerap mengundang para tetangga datang ke rumah Raya tanpa harus diajak atau dikirimi pesan terlebih dahulu. Tanpa smartphone atau gadget, kopi mampu memberi pesan sekaligus menghangatkan hubungan antar warga.

“Di sini tiada hari tanpa kehadiran aroma kopi yang diolah dari biji hingga siap diseduhkan ke cangkir untuk dinikmati bersama keluarga maupun tetangga,” kata Raya.

Secara umum, komoditas kopi sejak dahulu telah mewarnai kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah. Meski kopi asal daerah ini tak sepopuler Kopi Gayo Aceh atau Kintamani Bali, nyatanya kopi di sini juga telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat secara turun-temurun.

Beranjak dari hal tersebut seusai menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dan mulai bekerja, sekitar tahun 2017, Raya pun berinisiatif mengembangkan resep kopi rempah warisan orangtuanya untuk bisa dikenal lebih luas.

Melalui kolaborasi dengan penyelenggara pariwisata ke Karuing dan sekitarnya, Raya menyematkan kopi rempah olahannya sebagai salah satu buah tangan yang dapat dibawa pulang wisatawan.

Seiring berjalannya waktu, kopi rempah resep leluhur miliknya yang diberi merek dagang “Indukuh 1957” dengan tagline Bara Desa Akan Dunia (Dari Desa Untuk Dunia), mulai dikenal luas.

Raya pun memperluas jangkauan pasar, tak hanya menyasar wisatawan yang datang berkunjung, tapi Raya pun memperkenalkan “Indukuh 1957” ke desa- desa lain maupun perkotaan di Katingan, hingga kemudian Raya hijrah ke ibukota Kalimantan Tengah yakni Palangka Raya.

Berdayakan kaum ibu di desa

Meski harus menghadapi berbagai tantangan seperti pandemi COVID-19 dan persaingan sengit pasar, Raya tetap bertahan serta terus berjuang mengembangkan produk kopi rempahnya.

Sejumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Karuing Kabupaten Katingan melihat dan mencoba proses pengolahan kopi rempah Indukuh 1957. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

“Bagi saya, kopi rempah ini tak hanya sekadar tentang urusan komersial, tapi sebuah cita-cita serta tujuan hidup agar racikan keluarga ini dapat benar-benar dikenal hingga memberi manfaat kepada masyarakat luas,” tutur Raya.

Raya mengklaim kopi racikan keluarga yang dipadukan dengan berbagai rempah itu tak hanya menyajikan kenikmatan saat diseruput, tetapi juga memiliki beragam khasiat seperti meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan jantung.

Hal lain yang lebih bermakna dari itu, kopi rempah ini mampu memberikan nilai ekonomi, tak hanya untuk Raya dan keluarga, tetapi juga bagi para ibu-ibu di kampung asalnya di Karuing.

Dalam pengembangan bisnis kopi rempahnya ini, Raya memang melibatkan para ibu di desanya untuk membantu proses produksi mulai dari pengolahan biji hingga menjadi bubuk kopi yang siap dipasarkan.

“Melalui kopi rempah ini, kami hadir membantu memberdayakan para ibu, sekaligus mengangkat kearifan lokal,” tutur Raya.

Tak hanya sebatas retorika kata-kata sebagai pemanis cerita dari sebuah kopi, Raya secara nyata membawa para ibu terlibat di dalam proses pengolahan kopi rempah yang tetap dilakukan secara tradisional di kampung halaman sekaligus menjadi identitas dari Indukuh 1957.

Baca Juga :   PERKUAT Penanganan Karhutla Melalui Normalisasi Kanal

“Semua dilakukan secara manual, mulai dari tahapan menyangrai dengan kayu bakar, menumbuk kopi serta lainnya,” kata Raya menegaskan.

“Setidaknya dengan adanya kegiatan pengolahan ini, mampu memberi nafas kehidupan untuk beberapa ibu di kampung yang tak lagi berusia muda.”

Menentukan arah dan jaga identitas

Seiring berjalannya waktu, nama Raya serta kopi rempahnya semakin dikenal di kalangan masyarakat pecinta kopi maupun dunia pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Andika, salah satu penggemar kopi, mengaku cukup senang dengan racikan kopi rempah Indukuh 1957 karena memiliki cita rasa berbeda serta aroma yang khas.

“Saat menyeruput kopi ini, kenikmatannya cukup khas dibanding kopi lain karena diracik dengan berbagai rempah. Perpaduan kopi dan berbagai rempah memberikan sensasi tersendiri,” ucap Andika.

Keberhasilan Raya mengangkat “kopi desa” pun mendapat sejumlah dukungan dalam pengembangan usaha, di antaranya dari pemerintah yang memberikan alat berupa sarana prasarana pengolahan kopi modern hingga fasilitasi dalam berbagai kegiatan pameran, baik di Kalimantan Tengah maupun di luar provinsi.

Dalam pemenuhan permintaan pasar Raya kemudian mengolaborasikan pengolahan kopi yang tetap dilakukan secara tradisional, serta didukung peralatan modern.

“Hanya saja kini khusus untuk pengolahan kopi secara tradisional bersama para ibu di kampung halamannya, tak lagi dilakukan setiap saat,” kata Raya.

Aktivitas pengolahan kopi secara tradisional tersedia saat adanya permintaan sekaligus kunjungan dari wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang ingin melihat langsung berbagai tahapan pengolahan kopi.

Kebanyakan yang melakukan kunjungan langsung ke Karuing untuk melihat proses pengolahan kopi hingga menikmati secangkir kopi rempah adalah para wisatawan mancanegara, di antaranya Inggris, Belanda, hingga Italia.

Sementara itu, untuk pengolahan kopi rempah rutin Raya kini memilih memusatkannya di Palangka Raya, dengan menggunakan mesin modern, tapi tetap dengan racikan yang sama serta identitas dipastikan tak berubah.

Pilihan ini menjadi keputusan besar Raya dalam merespons perkembangan serta tantangan pasar yang semakin berkembang.

Adapun saat ini rata-rata dalam sebulan kopi rempah yang diproduksi berkisar antara 40-50 kilogram, dan terbanyak pernah mencapai hingga 80 kilogram. Per kemasannya dibanderol dengan harga hanya puluhan ribu rupiah, tergantung ukuran beratnya.

Saat ini kopi rempah Indukuh 1957 telah menjangkau berbagai pasar Nusantara. Selain di Kalimantan, juga telah mencapai Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bali, Kendari, serta daerah lainnya.

Raya berharap jangkauan pasar kopi rempah miliknya ke depan dapat benar-benar stabil, bahkan semakin berkembang lagi di pasar Nusantara, hingga kemudian berlanjut hingga ke pasar mancanegara.

“Misinya saya kan dari desa untuk dunia, bagaimana desa-desa ini kearifan lokalnya benar-benar mampu tersampaikan yang dalam hal ini adalah kopi rempah racikan keluarga,” kata Raya. (AntaraNewsKalteng)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

DANA 760 Miliar Pemkab Balangan Belum Cair
KARHUTLA di Kalteng 12 Perkara Libatkan Korporasi, 38 Jadi Tersangka
KABUT ASAP di Kalteng, Evakuasi Korban KM Virgo Terpaksa Jalur Darat
3 KURIR Narkoba Tertangkap Bawa 16,3 Kg Sabu dari Kalbar ke Palangka Raya
DITANGKAP Usai Bakar Rumput Halaman Rumah
KMT ELISABET TENGGELAM: 5 Awak Hilang Telah Teridentifikasi
HARI KE-13: 10 Korban KM Virgo Transport 8 Ditemukan, Lima di Kalteng
TELAH DITEMUKAN 160 Korban KM Virgo Transport-8 dan 52 Meninggal Dunia

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 16:22

DILAPORKAN KE POLISI Sengketa Warisan dan Sorot Persoalan Administrasi Proses Penerbitan Dokumen

Jumat, 25 September 2026 - 22:28

23.556 HA Hutan Konservasi Tahura Bukit Soeharto Dikuasai Ilegal

Senin, 21 September 2026 - 19:54

15 RUU Kabupaten/Kota di Kalimantan Dibawa ke Paripurna DPR

Jumat, 18 September 2026 - 21:03

KEJAGUNG Kawal Tiga Proyek Jalan IKN

Kamis, 17 September 2026 - 21:50

3 TERSANGKA Karhutla Terancam Bui 10 Tahun

Rabu, 16 September 2026 - 20:59

KUALITAS Udara Samarinda Memburuk Masuk Kategori ‘Sangat tidak Sehat’

Selasa, 15 September 2026 - 21:18

KN SAR Wisanggeni 2 Hari Ikut Pencarian Belum Temukan Korban Kapal Virgo Transport 8

Selasa, 15 September 2026 - 20:52

DIPANTAU Keberadaan Orang Utan di Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung

Berita Terbaru

Penangkapan tersangka kelima dalam perkara dugaan korupsi tata kelola komoditas nikel periode 2017–2020, MTP oleh Tim penyidik Direktorat Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026).(Foto: HO-Kejagung)

Hukum

KASUS NIKEL: Kejagung Tahan Tersangka Kelima

Senin, 28 Sep 2026 - 21:06

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca