Suarindonesia – Intrusi air laut di Sungai Martapura sudah terlampau parah. Meminjam data dari PDAM Bandarmasih, hingga pagi tadi Senin (23/9/2019), kadar garam sudah tembus mencapai 2.658 miligram per liter.
Angka ini sudah sepuluh kali lipat dari ambang batas. Berdasarkan Peraturan Menkes Nomor 492/Menkes/PER/IV/2010, syarat kadar garam dalam air untuk diolah menjadi air minum maksimal 250 miligram per liter.
“Meski dicampur tetap tak bisa. Kadar garamnya memang sudah sangat tinggi,” ucap Direktur Operasional PDAM Bandarmasih Ir H Supian kepada awak media, Senin (23/9/2019).
Supian mengakui, pihaknya terpaksa menyetop penggunaan air baku dari Intake Sungai Bilu yang sudah terpapar secara berkala. Dan memaksimalkan pemakaian air baku dari Intake Sungai Tabuk yang saat ini masih aman.
Air baku dari Intake Sungai Tabuk yang disalurkan ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) II Jalan Pramuka harus disalurkan kembali ke IPA I Jalan Ahmad Yani untuk mengakomodir kebutuhan air bersih di bagian Banjarmasin Barat dan Utara.
“Air baku untuk IPA Pramuka sebagian dikirim ke IPA A Yani, karena Intake Sungai Bilu off, ini dilakukan agar pengiriman ke Banjarmasin Barat dan Utara sebagian tetap bisa berlangsung walaupun debitnya belum maksimal seperti biasanya,” jelas Supian.
Ia mengungkapkan, dengan adanya pembagian air baku ini maka untuk wilayah Banjarmasin Timur dan Selatan mengalami penurunan suplai air hingga 32 persen dari yang bisanya 4.500 kubik per jam menjadi 1.400 kubik per jam.
Manajer Produksi IPA I PDAM Bandarmasih, Ali Fatir menimpali, kondisi ini diperparah dengan tak adanya suplai air dari Irigasi Pematang menyusul penjebolan irigasi guna pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bandara Syamsuddin Noor dan Gambut Kabupaten Banjar.
“Sehingga air baku dari irigasi nol,” ujar Ali.
Selain itu, terkait intrusi air laut yang terjadi saat ini di Sungai Martapura, Ali berkata, untuk kadar garam di intake Sungai Tabuk masih aman.
Bercermin pada 2015 lalu, di mana Banjarmasin dilanda kemarau yang cukup parah, air laut baru bisa sampai ke Sungai Tabuk apabila kemarau terjadi hingga enam bulan.
“Semoga saja kemarau ini cepat berlalu. Paling tidak ada hujan di bagian hulu agar air laut bisa didorong keluar,” harapnya.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















