Suarindonesia – “Harga gabah meningkat dikarenakan stok yang terjaga. Harga tertinggi Rp7.200 per kilogram untuk varietas Mayang dan terendah Rp4.423 perkilogram untuk varietas IR 42,” jelas Kepala BPS Kalsel, Diah Utami, Jumat (1/3).
Dikatakan, pada bulan Januari yang telah lewat menjadi bulan yang menyenangkan dan menguntungkan bagi para petani Kalsel.
Sebab pada bulan tersebut ada kenaikan harga gabah baik di tingkat petani maupun tingkat penggilingan.
Sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, diketahui pada Bulan Januari harga gabah di tingkat petani sebesar Rp5.550,75 perkilogram, dan Rp5.642,60 perkilogram di tingkat penggilingan.
Jika dibanding dengan bulan Desember 2018, harga gabah di tingkat petani Rp5.156,69 dan di tingkat penggilingan Rp5.250,21.
Ia menambahkan, nilai tukar usaha pertanian (NTUP) juga mengalami kenaikan antara Desember 2018 dan Januari 2019, yaitu 103,36 menjadi 103,75.
“Nilai tukar petani yang agak sedikit turun, dari 95,43 pada Desember 2018 dan 95,22 pada Januari 2019,” bebernya.
Sementara, Rahman, salah satu petani di Tatah Layung Kabupaten Banjar mengharap stabilitas harga gabah tetap terjaga. Dia khawatir jika nanti harga anjlok.
“Sementara ini masih stabil dan sudah kami nikmati hasil panen. Ya cukup sebulan dua bulan ke depan,” kata Rahman.
Di Kabupaten Banjar, Produksi gabah pada tahun 2018 sebanyak 253.948 ton gabah kering giling (GKG).
Jumlah penduduk saat ini 580.147 jiwa dengan konsumsi terendah 114,30 kilogram perkapita per tahun.
Jadi, total kebutuhan beras sebanyak 66.310,76 ton sehingga masih ada stok atau surplus beras sebanyak 76.467 ton. (RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















