Suarindonesia – Hadirnya satuan tugas (satgas) antimafia bola disambut baik oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi. Kehadiran satgas mempertegas upaya Indonesia untuk menciptakan sepakbola dalam negeri.
Imam menyebut, terbongkarnya kasus pengaturan skor persepakbolaan Indonesia tidak perlu melemahkan PSSI.
Kondisi ini, ujar Imam, harus menjadi momentum untum mengevaluasi kinerja PSSI.
“Ini kesempatan emas PSSI untuk konsolidasi internal. Jangan sampai unit kerja PSSI tidak berfungsi, semua harus menjalankan tugas masing-masing, ” ujarnya baru-baru tadi.
Dikatakan Imam, perangkat organisasi PSSI sudah komplit. Ada beberapa komisi yang jika berjalan dengan baik akan menghasilkan persepakbolaan yang baik pula.
Dicontohkannya, Komisi Disiplin harus benar-benar bisa mendisiplinkan anggota.
“Kehadiran satgas antimafia bola mempertegas pemerintah bersama Polri ingin sepakbola betul-betul menjadi alat penggembira orang berkumpul, alat persatuan, ” urainya.
Melalui momentum lahirnya satgas antimafia bola, Imam berharap kualitas sepakbola Indonesia ke depan semakin baik dan lebih maju lagi.
Ke depan, tambah Imam, bersama Polri pihaknya akan terus mengawasi persepakbolaan.
” Segeran susun agenda, secepatnya kick off. Kami akan mengawasi dan semoga masyarakat senang dengan sajian sepakbola kita,” katanya.
Sejauh ini, sudah ada lima orang yang ditahan Satgas Antimafia Bola dalam kasus pengaturan skor.
Mereka adalah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI sekaligus Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Tengah Johar Ling Eng, mantan anggota Komite Wasit PSSI Priyanto beserta anaknya, Anik Yuni Sari, aggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI (nonaktif) Dwi Irianto alias Mbah Putih, dan wasit Nurul Safarid, yang memimpin pertandingan Persibara Banjarnegara melawan Persekabpas Pasuruan.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















