SuarIndonesia — Sebanyak enam orang utan diselamatkan dari kawasan perkebunan warga di Kabupaten Kayong Utara akibat karhutla yang memutus akses satwa menuju habitatnya ke dalam hutan.
“Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) pada 4 dan 8 September 2026,” kata Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting melalui siaran rilisnya, Kamis (10/9/2026).
Keenam orang utan tersebut terdiri atas dua induk dan anak serta dua orangutan remaja, yakni Mama Nopi dan Nopi, Mama Noni dan anaknya, Noni, serta Naufal dan Nopan.
Dengan tambahan enam individu tersebut, jumlah orang utan yang diselamatkan BKSDA Kalbar bersama YIARI akibat ancaman karhutla dalam sebulan terakhir mencapai 15 individu.
Argitoe mengatakan kebakaran tidak hanya mengancam orang utan melalui api dan asap, tetapi juga memutus akses satwa menuju hutan yang masih tersisa.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan,” tutur Argitoe dilansir dari Antara.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat orang utan terjebak di lanskap perkebunan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung, sekaligus meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
Keenam orang utan ditemukan di perkebunan campuran milik warga Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara. Sekitar 200 meter dari lokasi penyelamatan terdapat kebakaran yang cukup besar sehingga jalur menuju blok hutan terputus.
Informasi keberadaan satwa diperoleh dari patroli dan pemantauan bersama BKSDA Kalbar dan YIARI yang dimulai pada 1 September 2026. Kegiatan tersebut juga melibatkan Yayasan Palung, LPHD Pemangkat, masyarakat, dan pemilik kebun.
Dalam penanganan, tim medis menggunakan obat bius dengan dosis terukur untuk mencegah cedera. Naufal dan Mama Nopi terpantau dalam kondisi baik, sedangkan Nopan sempat mengalami suhu tubuh 40 derajat Celsius sebelum kembali normal setelah mendapat penanganan medis dan cairan infus.
Sementara itu, Mama Noni yang diperkirakan berusia 13–15 tahun ditemukan bersama anaknya yang diperkirakan baru berusia 1–2 bulan. Induk orang utan tersebut sempat mengalami peningkatan suhu tubuh dan pernapasan cepat sehingga mendapat infus, oksigen, serta kompres.
Kepala Balai KSDA Kalbar Murlan Dameria Pane mengatakan kebakaran mengganggu akses satwa terhadap sumber pakan dan ruang jelajah sehingga pencegahan karhutla menjadi langkah utama. Masyarakat diminta segera melaporkan satwa terdampak.
“Upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran hutan berpacu dengan waktu,” ujarnya.
Keenam orang utan kini menjalani pemantauan kesehatan di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Pelepasliaran akan dipertimbangkan setelah kondisi lingkungan aman dan tersedia habitat yang sesuai. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















