SuarIndonesia -Brigjen (Purn) HM Effendi Ritonga, Walikota Banjarmasin Periode 1984-1989 dikabarkan tutup usia (88 tahun) di Jakarta Selasa (13/1/ 2026), sekitar pukul 08:00 WIB (09:00 WITA).
Beliau adalah sosok penting dalam perjuangan dan pula sebagai narasumber (narsum) utama Buku Sang Patriot.“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”.
Kabar duka juga banyak diketahui kalangan anggota TNI di Kalsel, dan ucap duka cita. Pasalnya beliau tokoh yang sangat dikenal dalam meniti karier dan tegas.”Semoga beliau mendapatkan Rahmat dan Ampunan ALLAH SWT”.
Diketahui, beliau merupakan tokoh dalam sejarah pemerintahan Wali Kota Madya KDH Tk.II Banjarmasin (dulunya).
Brigjen Effendi Ritonga juga sangat suka kepada Kapten Anumerta Pierre Andries Tendean merupakan salah satu perwira TNI Angkatan Darat dengan mencatat bahwa Pierre pria yang ganteng.
Sisi lain, pernah menjadi rekan seperjuangan Pierre Tendean di ATEKAD. Dan di usia 88 tahun masih menjadi sumber inspirasi pembangunan kota, menunjukkan dedikasi besar untuk kemajuan Banjarmasin.
HM. Effendi Ritonga merupakan nara sumber utama buku Sang Patriot, yang membuka lembar kehidupan Pierre Tendean selama menempuh pendidikan militer di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), tahun 1958-1962.
Diceritakan, mereka bersama-sama merasakan masa perploncoan yang paling seram sepanjang sejarah Bumi Panorama di akhir November 1958. Mereka berbagi kamar tidur yang sama di tingkat dua saat menyandang pangkat sersan taruna.
Bahkan, pada waktu kenaikan ke tingkat 3 tahun 1961, Ser Ma Tar Effendi Ritonga dan Ser Ma Tar Pierre Tendean bersaing head to head untuk dipromosikan Direktur Atekad menjadi Komandan Resimen Korps Taruna.
Akhirnya Ser Ma Tar Effendi yang menjadi Komandan Resimen Korps Taruna, sementara Pierre ditunjuk sebagai Komandan Batalyon Korps Taruna Remaja yang membina adik-adik taruna tingkat satu.
Saat pesiar pada suatu waktu di tahun 1960, Ser Tar Effendi Ritonga berjalan kaki berdua Ser Tar Pierre menuruni Jalan Ciumbuleuit Bandung.
Sepanjang jalan Pierre bercerita bahwa keluarganya adalah satu-satunya keluarga campuran yang selamat dari gilasan Revolusi Sosial pasca perang kemerdekaan di Magelang dan Semarang.
Saat itu keluarga-keluyarga Indo ditangkapi karena kuat afiliasinya dengan Belanda/Sekutu, tetapi keluarga Tendean disegani masyarakat karena sumbangsihnya yang berarti dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Masih jelas diingatan Effendi, jawaban Pierre yang tegas dan tajam saat membalas olokan ‘Bule, Londo, atau Indo’ dari rekan-rekan sesama taruna.
Seruan yang mengukuhkan nasionalismenya. “Jangan macam-macam kamu. Rasa kebangsaan aku mungkin lebih tebal daripada kamu yang mengaku pribumi,” tukas Pierre. (ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















