SuarIndonesia — Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi mengatakan pihaknya selalu memantau perkembangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah.
Pemantauan itu dilakukan TNI AU untuk mengetahui wilayah mana saja yang harus ditangani TNI AU terlebih dahulu dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau water bombing.
Dikatakan Feri, berdasarkan data per Selasa (27/10) yang diambil dari Laporan Situasi (Lapsit) Posko Karhutla di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, tercatat ada 164 titik api awal dengan luas wilayah terdampak mencapai 708,95 hektare di tiga wilayah, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.
“Dari jumlah tersebut, 88 titik api dengan luas 224,93 hektare telah dipadamkan, sedangkan 76 titik api dengan luas 484,02 hektare masih dalam proses penanganan,” kata Feri di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Feri menjelaskan Kalimantan Tengah menjadi wilayah yang cukup parah dilanda karhutla karena memiliki 126 titik api awal dan luas wilayah terdampak 602,65 hektare. Dari jumlah titik api itu, sebanyak 55 titik api dengan luas 130,33 hektare telah dipadamkan. Sementara 71 titik api dengan luas 472,32 hektare masih dalam proses penanganan.
Sedangkan untuk wilayah Sumatera Selatan, TNI AU bersama instansi terkait dan pemerintah daerah berhasil memadamkan 26 dari 29 titik api.
“Lalu di Kalimantan Selatan tujuh dari sembilan titik api telah berhasil dipadamkan,” ucapnya.
Dia melanjutkan hingga saat ini, TNI AU masih mengerahkan 11 pesawat angkut dan lima helikopter ke wilayah-wilayah tersebut untuk operasi penanganan karhutla.
Tidak hanya itu, personel di lanud terdekat dari lokasi karhutla juga dikerahkan untuk memadamkan api secara manual di darat.
Feri memastikan seluruh upaya itu akan terus dikerahkan hingga titik api di seluruh wilayah bencana karhutla benar-benar padam.
Maksimal tangani karhutla walau banyak kendala
Sementara itu, dilansir dari Antara, Kadispenau Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi memastikan pihaknya akan terus memaksimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) walaupun terjadi banyak kendala di lapangan.
“Melalui kesiapan alutsista, dukungan personel, perencanaan operasi yang matang serta koordinasi dengan instansi terkait, kami terus mengoptimalkan kekuatan udara untuk mendukung penanganan karhutla,” kata Feri.
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi personel di lapangan, yakni keterbatasan waktu dalam memadamkan titik api. Hal itu terjadi karena proses pemadaman, terutama operasi water bombing dengan helikopter tidak bisa di lakukan pada malam hari.
“Pemadaman dari udara tidak dapat dilaksanakan pada malam hari. Kondisi tersebut membuat operasi harus disesuaikan dengan waktu dan kondisi yang memungkinkan untuk menjamin keamanan serta keselamatan penerbangan,” ungkap Feri.
Selain waktu, kata dia, personel juga kerap menghadapi kendala cuaca terutama saat operasi water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Jika terjadi hujan ataupun asap tebal, lanjut dia, maka para penerbang tidak bisa menuju ke lokasi karena jarak pandang pilot menjadi pendek.
“Khusus untuk OMC, pelaksanaannya bergantung pada keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk disemai sehingga waktu dan lokasi pelaksanaan operasi harus mempertimbangkan hasil analisis kondisi cuaca serta potensi pertumbuhan awan,” ujar Feri. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















