SuarIndonesia – Setelah berurusan dengan pihak kepolisian, janda satu anak baru menyadari kalau dirinya akhirnya hanya dijadikan “orang suruhan”.
Dalam hal mengedarkan sabu milik T, bukan seorang kekasih, yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)
“Awalnya aku dikenalkan teman ketika membesuk ke Lapas beberapa waktu yang lalu,” jelas Ria sambil menundukkan wajahnya.
Pertemuan tersangka dengan pria berinsial T terus berlanjut dengan hubungan asmara via telepon.
“Sering telepon dan video call itu hingga sering kirim uang untuk keperluannya, berkisar Rp 1 juta,” ucapnya pelan.
Tak hanya uang yang didapat, pria berinisial T ini pun sering titip paket berupa sendal dan keperluaan lainnya buat dirinya
“Macam paket yang ditiipkan buat aku yang biasa dibeli melalui online, aku pun tak curiga dengan ini semua,” ungkap Ria.
Hingga beberapa waktu yang lalu, aku mendapat telepon dari T untuk mengambil paket di rumah temannya di daerah Gambut Kabupaten Banjar.
“Dipikir paket seperti biasa, aku langsung mengambil paket sesuai arahan T dengan menggunakan Grab,” ujarnya.
Setiba d rumah tidak langsung di buka dan meraba raba apa isi paket tersebut karena curiga.
Ia pun langsung menanyakan apa isi paket tersebut dan “menembak” kalau isinya sabu.
“Setelah aku sebut sabu, ia hanya tertawa dan dipikirnya aku bisa makai padahal tidak bisa sehingga didiamkan saja,”katanya.
Usai paket pertama masih berada di rumah, T kembali meminta untuk mengambil paket di tempat yang sama dan akan diambil oleh orang suruhan, akan tetapi keburu ditangkap polisi.(YI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















