SuarIndonesia – Terdakwa Muhammad Iyan (24), pembantai seorang ibu dan dua anak, berbelit-belit selama persidangan dan akhirnya divonis mati. Senin (30/1/2023)
Ini pada persidangan di Pengadilan Negeri Kelas 2 Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan
Korban adalah Nor Laila (39) dan dua anak Nur Madina (6) dan Muhammad Fahri (4) asal Desa Saringsungaibubu Kecamatan Kusantengah Kabupaten Tanah Bumbu.
Vonis dijatuhkan Majelis Hakim dipimpin Satriadi SH MH dengan anggota, Fendi Setia SH dan Domas Manalu SH.
Vonis ini pula sesuai dengan tuntutan JPU (Jaksa Penuntut Umum.
Fakta persidangan, terdakwa melakukan penusukan menggunakan sebilah badik terhadap korban.
Pelaku dari awal penangkapan hingga penyidiakn dan persidangan, berbelit-belit hingga didapati fakta persidangan dan terdakwa dinyatakan dengan sengaja mendatangi rumah korban lantaran tidak dipinjami sepeda motor.
Ketika itu, pelaku masuk rumah lewat jendela dan menusuk Nor Laila dibagian leher dan tubuh lainnya.
Kumudian kedua anaknya yang bermain di luar mendengar suara teriakan ibunya, awal Nur Madina (6) masuk ditusuk juga di bagian dada.
Selanjutnya Muhammad Fahri (4) juga ditusuk hingga tergeletak di samping ibunya.
“Memutuskan terdakwa dihukum mati karena terbukti melakukan pembunuhan berencana menghilangkan satu generasi,” ucap Ketua Majelis Hakim, Satriadi SH MH.
Sementara itu, JPU, Rizki Purbo Nugroho didampingi Adieka R serta Kasi Pidum Yandi, mengatakan putusan hakim sesuai dengan apa yang diingkinkan.
“Ya, karena sebelumnya menuntut mati terdakwa atas apa yang dilakukan terdakwa.
Tuntutan kita sejalan dengan Majelis Hakim yaitu hukuman mati, dan sekarang kita tunggu karena masih ada waktu untuk pikir-pikir selama 7 hari oleh terdakwa dan penasihat hukumnya,” ujarnya.
Diketahui, peristiwa pembunuhan terjadi pada Kamis (2/6/2022) di Desa Saring Sungai Bubu Kecamatan Kusan Tengah Kabupaten Tanah Bumbu.
Sementara Hamsani, suami seklaigus ayah korban pembunuhan, bersyukur dengan putusan Majelis Hakim.
Menurutnya, sudah sesuai dengan harapan, karena anaknya yang disayang habis, tak ada lagi generasi penerus, ini bagimana.
“Sampai dihabisi satu keluarga, coba bayangkan, stres memikirkan anak, barapa tahun melihara sampai habis nyawanya dirampas,” ungkap Hamsani. (*/ZI)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















