SuarIndonesia – Kualitas air di Kalsel masih sama seperti tahun sebelumnya, belum mampu naik.
Jamban apung di aliran sungai disebut menjadi salah satu penyebab kualitas air di Kalsel masih rendah.
“Jamban-jamban apung juga turut memengaruhi kualitas air kita, kami harapan bagi teman-teman sektoral yang memegang tugas dan fungsi di dalam penanganan sanitasi agar lebih lagi dalam pengentasan jamban apung ini,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana, Rabu (10/8/2022).
Selain jamban apung, beberapa faktor lainnya juga menjadi penyebab belum meningkatnya kualitas air, antara lain tutupan lahan masih dalam lategori sedang.
Lalu parameter mikrobiologi (Fecalcoli dan Total Coliform) yang tinggi karena sebagian besar masyarakat di bantaran sungai melakukan kegiatan MCK di sungai.
“Target pengentasan jamban apung ini di 2024, tapi kita mencoba realistis dengan kemampuan keuangan Pemkab dan pemko, dan kita mencoba skema lain dengan hibah dari APBN,” tambahnya.
Selain itu kata dia, pola hidup masyarakat yang membuang limbah domestik ke sungai, sumber pencemar dari kegiatan peternakan, perikanan, pertambangan.
“Serta industri manufaktur, hotel, rumah sakit, serta sumber pencemar lainnya dari kegiatan Non point source (pertanian dan perkebunan),” katanya.
Untuk meningkatkan kualitas air sungai Hanifah menuturkan, perlu dilaksanakan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar.
Agar selanjutnya diperlukan untuk pengalokasian beban pencemar yang diperbolehkan masuk ke sungai serta penetapan kelas air.
“Juga kordinasi dan sinergi antara instansi terkait, baik pemprov maupun kabupaten/kota dalam rangka pengawasan kepada para pelaku kegiatan yang menjadi sumber-sumber pencemar,” paparnya.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















