SuarIndonesia — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan pemerintah Indonesia terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik dengan negara-negara tetangga dalam rangka mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampaknya di kawasan.
Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela mengatakan Indonesia konsisten menggelar pertemuan berkala serta melakukan koordinasi tindak lanjut dengan para mitra di kawasan melalui mekanisme ASEAN.
“Pertemuan berkala untuk membahas isu kabut asap dan koordinasi tindak lanjutnya juga terus dilakukan,” kata Nabyl di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Kerangka kerja sama ASEAN terus dioptimalkan agar kabut asap yang menyebar ke negara tetangga dapat ditangani dengan baik. Mekanisme regional berdasarkan Kesepakatan ASEAN tentang Polusi Kabut Asap Lintas Batas (Agreement on Transboundary Haze Pollution) juga sudah berjalan, katanya.
Indonesia senantiasa mengedepankan kerja sama dengan negara tetangga, khususnya dalam menghadapi isu lingkungan yang dampaknya merentas batas negara seperti kabut asap, demi menjaga hubungan bilateral tetap baik, ucapnya.
“Bersama negara-negara di kawasan, Indonesia juga mendorong langkah peningkatan kewaspadaan menghadapi cuaca kering akibat kondisi iklim,” kata Nabyl.
Pemerintah Indonesia terus mengoptimalkan berbagai strategi untuk memadamkan karhutla dan memitigasi dampaknya baik secara domestik maupun di tingkat kawasan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merencanakan serangkaian operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Jawa Timur untuk mengendalikan karhutla.
Operasi itu akan dilakukan di Jawa Timur dalam periode 3-9 September 2026 menggunakan pesawat CASA A2104, Kalimantan Barat mulai 5-14 September 2026 dan Kalimantan Tengah mulai 6-14 September 2026 dengan menggunakan pesawat CASA 212 serta dukungan logistik dari BNPB.
Kabut asap akibat karhutla di Indonesia dilaporkan juga menerpa hingga wilayah Sabah dan Sarawak di Malaysia, Singapura, Brunei, hingga ke Filipina, termasuk Ibu Kota Manila.
Pemerintah Malaysia pada Sabtu (5/9) sempat menyatakan darurat akibat kabut asap untuk seluruh wilayah Serian di negara bagian Sarawak, yang berbatasan dengan Indonesia, tetapi kemudian dicabut pada Senin (7/9).
Sementara itu, pemerintah Jepang telah mengerahkan tiga helikopter demi membantu operasi pemadaman karhutla di Indonesia untuk masa tugas 12–19 September 2026. Pemerintah Malaysia juga menyatakan siap mengerahkan bantuan ke Indonesia, tetapi masih menunggu respons dari Jakarta.

Malaysia tunggu persetujuan Indonesia
Sementara itu, dilansir dari Antara, Otoritas Malaysia menyatakan pihaknya menunggu persetujuan atau lampu hijau dari Indonesia terkait upaya membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah.
Menteri Komunikasi Malaysia sekaligus Juru Bicara Pemerintah Malaysia Fahmi Fadzil menyampaikan, dalam rapat kabinet Malaysia di Putrajaya, Rabu, Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES) bersama Kementerian Luar Negeri (Wisma Putra) Malaysia menyatakan telah menginformasikan kepada Indonesia daftar aset (sarana penanganan karhutla) Malaysia yang dapat digunakan untuk membantu pemadaman.
“NRES dan juga Wisma Putra telah menyampaikan dalam rapat kabinet, bahwa daftar aset yang mampu kita sediakan untuk membantu negara tetangga telah disampaikan,” kata Fahmi dalam konferensi pers daring di Putrajaya, Rabu (9/9/2026).
Namun, menurut Fahmi, hingga saat ini belum ada konfirmasi mengenai bentuk kerja sama untuk menggunakan aset-aset penanganan kebakaran dari Malaysia guna membantu memadamkan kebakaran dan sebagainya.
“Jadi, sejauh ini, kita telah menyampaikannya melalui kedutaan, melalui Wisma Putra, dan NRES juga telah menyiapkan, tetapi belum ada konfirmasi dan izin untuk menggunakan aset-aset Malaysia,” katanya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















