JANGAN Sembarang Diminta Sejarawan, Mengadakan Koleksi Museum

SuarIndonesia – Pembangunan Museum Sungai Banjarmasin yang saat ini sedang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin membuat Sejarawan ULM, Mansyur angkat bicara.

Ia menjelaskan, proses pembangunan museum itu sempat terkendala dengan dana pembangunan yang direfocusing untuk penanggulangan Covid-19.

Namun, ia mengapresiasi langkah Pemko Banjarmasin yang akhirnya pada tahun 2022 ini pembangunan Museum Sungai di Kota Banjarmasin bisa terealisasi.

Kendati demikian, Mansyur memberikan beberapa catatan bagi Pemko Banjarmasin untuk keberadaan museum sungai tersebut.

Keberadaan museum tentunya sangat penting bagi Kota banjarmasin. Bukan hanya hanya sebatas tempat penyimpanan benda-benda purbakala atau benda kuno yang sudah tidak bermanfaat lagi. Akan tetapi museum sungai di Banjarmasin ini akan menjadi sebuah lembaga yang mempunyai visi dan misi sesuai tugas pokoknya.

“Museum adalah lembaga tempat penyimpanan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda material serta alam dan lingkunganya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya, khususnya Budaya Banjar,” ucapnya, Kamis (28/07/2022) siang.

Menurutnya, untuk mengabadikan peninggalan-peninggalan kebudayaan sungai di Banjarmasin, diperlukan suatu tempat khusus.

Tempat khusus dimaksud yang mampu melestarikan kedua hal tersebut dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat yakni museum. Dari tipenya, museum yang dirancang ini adalah tipe museum khusus atau museum tematik.

Hal itu menjadikan tempat tersebut berfungsi sebagai tempat untuk menyajikan informasi dari koleksinya dengan mengangkat suatu tema tertentu yakni tema sungai.

Oleh karena itu, museum mengandung informasi-informasi yang bersifat edukasi bagi masyarakat dan bisa menjadi tempat pelestarian peninggalan-peninggalan kebudayaan sungai. Jadi ia menekankan agar koleksi yang dipajang di museum itu nanti jangan hanya keris.

“Kami berharap bahwa Museum ini bisa menyediakan koleksi museum benda-benda bukti materil hasil budaya Banjar serta alam dan lingkungan sungai-nya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan,” ungkapnya.

Baca Juga :

TERUS Digalakkan Gerakan Cinta Museum di Kalsel

Karena itu, ia meminta agar hal tersebut yang perlu menjadi satu pertimbangan utama karena arti pentingnya akan dapat bermanfaat bagi masyarakat sebagai sarana informasi, apresiasi maupun kreatifitas masyarakat dalam menunjang pembangunan di Banjarmasin.

Di samping itu, keberadaan museum tematik di Kota Banjarmasin sendiri sangatlah sedikit, khususnya museum dengan memiliki tema tertentu yang sesuai dengan karakter budaya daerah tertentu.

Di samping itu, ia menjelaskan, bahwa hanya ada dua museum di Kota Banjarmasin, yakni Museum Wasaka dan Museum Sultan Suriansyah.

Khusus museum sungai di Kelayan didasari bahwa kebutuhan untuk menceritakan kronologi eksistensi sungai serta pengaruh dari kebudayaan sungai di Kota Banjarmasin disampaikan secara naratif sebab-akibat.

“Penarasian disajikan dengan penerapan ilmu yang mampu mengedukasi dan mengundang empati masyarakat terhadap sungai,” tuturnya.

Selain itu, wujud museum sungai nantinya diharapkan memberikan penjelasan di dalamnya tentang kronologi eksistensi sungai serta pengaruh kebudayaan sungai diselubungi dengan tema sungai, sehingga memperkuat tema dari museum tersebut.

“Dengan adanya museum di Kota Banjarmasin kami berharap museum tidak hanya tampil sebagai sebagai lembaga yang mengumpulkan benda-benda warisan budaya, baik dari masa lampau maupun hingga pada masa kini,” katanya.

Akan tetapi bisa melaksanakan tugas lainnya yakni mencatat dan merawat serta melestarikan penanganan sumberdaya budaya. Dalam hal ini sebagai obyek koleksi. Ditunjang ketersediaan dana maupun metode yang dipergunakan untuk menjalankan fungsi pelestarian warisan budaya.

“Makanya museum sesuai namanya adalah museum sungai ini juga diharapkan menunjang pelestarian budaya yang sangat beragam terutama budaya sungai,” tukasnya.

Berpola pada prinsip-prinsip tertentu, ia juga berharap museum tersebut bisa melestarikan dokumen budaya Banjar, yang berupa benda warisan budaya, maupun foto, gambar, dan berbagai bentuk representasi piktorial dan grafik lainnya.

“Ini harus ditunjang kemampuan keahlian/skill pengelolaan yang disertai manajemen administrasi sumber daya manusia serta berbagai sarana penunjang,” tandasnya.

“Pada dasarnya, perlu konsep pembinaan dan pengembangan museum di masa sekarang. Misalnya menggagas program sehingga masyarakat merasakan nilai manfaat dan tertarik datang ke museum,” pungkasnya.

Selain itu, Dosen Prodi Pendidikan Sejarah, FKIP ULM itu juga menekankan, bahwa perlunha aspek penunjang lain seperti pelestarian sumber daya budaya berkaitan dengan kegiatan dokumentasi hingga survey untuk pengadaan, pencatatan/registrasi koleksi.

Kegiatan teknis lainnya yakni perawatan/konservasi, pembuatan replica, pengkajian/studi koleksi, penataan di ruang pameran, sampai kegiatan penulisan informasi labeling, penyimpanan di gudang maupun penerbitan hasil-hasil penulisan/karya ilmiah dari sebuah obyek koleksi.

Dalam pengadaan koleksi perlu ketelitian, memperhatikan nilai dan kualitas benda yang dibutuhkan untuk menjadi benda cagar budaya (BCB) berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang pemanfaatan Benda Cagar Budaya untuk kepentingan pendidikan dan pariwisata. (SU)

 178 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!