INILAH yang Diteladankan Nabi di Akhir Ramadhan

- Penulis

Sabtu, 15 April 2023 - 19:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SuarIndonesia – IBNU Umar Radhiyallahu anhu berkata, ”Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam selalu melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim).

Secara bahasa, menurut Imam Nawawi di dalam Riyadhus Sholihin, i’tikaf berarti menahan.

Sedangkan secara istilah syariat berarti tinggal di masjid untuk beribadah dalam jangka waktu tertentu.

Hadits di atas, menurut Imam Nawawi menjelaskan secara gamblang bahwa umat Muslim diperintahkan melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.

“Kegiatan ini baik untuk menjernihkan hati, menyibukkan diri secara utuh untuk ketaatan, meniru perilaku malaikat, dan sebagai upaya mendapatkan Lailatul Qadar,” urai Imam Nawawi lebih lanjut.

Kemudian, Aisyah Radhiyallahu anha juga menjelaskan apa yang dilakukan Nabi pada 10 hari terakhir Ramadhan.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر – أي العشر الأخير من رمضان – شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله . متفق عليه

“Adalah Rasulullah ﷺ apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” (HR. Bukhari Mulim).

Demikianlah Rasulullah meneladankan bagaimana mengisi 10 hari terakhir Ramadhan. Berusaha semaksimal mungkin fokus dalam ibadah dan memutus sementara waktu dengan segala urusan keduniawian.

Terlebih dalam rentang 10 haari terakhir Ramadhan itu ada yang namanya Lailatul Qadar, satu malam yang nilainya setara dengan 1000 bulan alias 83 tahun, bahkan pada hakikatnya, jauh lebih baik dari angka tersebut.

Dalam kata yang lain, 10 hari terakhir mesti menjadi puncak usaha umat Islam dalam ibadah, yang awalnya sebatas hatam Al-Qur’an, sekarang bagaimana hatam dan paham maknanya.

Pendek kata, meningkat ibadah, meningkat pencerahan di dalam diri. Itulah mengapa 10 hari terakhir Ramadhan disunnahkan i’tikaf, agar proses menuju tangga taqwa kian mudah untuk digapai.

Sebab, 10 hari terakhir Ramadhan adalah momentum perpisahan, dimana segala perilaku yang positif di dalam diri mesti tetap terjaga di luar Ramadhan

Dan segala amal sholeh yang dilakukan di bulan Ramadhan, terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan diri dan keluarga sepanjang hayat.

Tantangan terberatnya seperti dikutip Hidayatullah.com, adalah bagaimana menjadikan Ramadhan tetap hidup dalam rentang waktu 11 bulan ke depan, terutama setelah beberapa hari lepas dari Ramadhan, saat lebaran dan selanjutnya.

Oleh karena itu, 10 hari terakhir Ramadhan inilah penentu, karena momentum tersebut adalah puncak dari tarbiyah diri, puncak dari jihad, puncak dari mujahadah.

Yang tentu saja harus benar-benar dapat difokuskan dan dipertahankan. Inilah momentum pembebasan yang harus benar-benar diraih dalam bulan Ramadhan.

Lantas apa saja yang harus dilakukan selama 10 hari terakhir Ramadhan, terutama bagi yang melakukan i’tikaf?

Pada hakikatnya sangat banyak yang bisa dilakukan. Namun garis besarnya bisa dilihat beberapa yang populer, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an (tentu secara kualitatif dan kuantitatif).

Kemudian memperbanyak istighfar, memperbanyak sholawat atas Nabi Muhammad. Mensucikan diri dengan membayar zakat fitrah. Dan, menjauhi sifat dusta.

Baca Juga :   Mengapa Gugatan Terhadap PLN Diajukan ke PTUN ?

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Berkata dusta di sini, termasuk fitnah.

Kemudian, meninggalkan perkataan yang sia-sia (lagwu) dan rofats (kata-kata negatif alias jorok).

Memperbanyak sholat sunnah, terutama saat malam tiba, bisa sholat Tarawih dan sholat Witir, serta qiyamul lail. Semua amalan itu akan lebih mudah terlaksana jika diri menjalani ibadah i’tikaf.

Sebab, i’tikaf merupakan amalah sunnah yang bsersifat preventif, sehingga seorang Muslim terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat di waktu-waktu luan yang dimilikinya, khususnya di bulan Ramadhan.

Lantas bagaimana jika kemudian karena hal-hal tertentu seorang Muslim tidak bisa melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan?

Tentu saja tidak berdosa. Karena pada hakikatnya, hukum perintah i’tikaf ini adalah sunnah.

Dan, beruntunglah orang-orang yang bisa mengamalkannya, karena ada niat dan usaha kuat untuk benar-benar mengikuti apa yang diteladankan oleh Rasulullah.

Namun demikian, tidak beri’tikaf bukan berarti ibadah diperlonggar. Tetap harus diperkuat dan diperbanyak.

Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan beragam ketaatan, seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an.

Bahkan, ada peluang yang bisa dilakukan secara sungguh-sungguh, terutama bagi mereka yang sibuk berniaga atau aktivitas apapun yang tidak memungkinkannya untuk beri’tikaf, yakni memperbanyak sedekah.

Memperbanyak sedekah dan infak

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan dan saat beliau paling dermawana adalah di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau.

Malaikat Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam dalam bulan Ramadhan untuk saling mempelajari al-Qur’an. Pada saat itu Rasulullah lebih dermawan dalam melakukan amal kebajikan melebihi (cepat dan luasnya) hembusan angin.” (HR. Bukhari).

Artinya, banyak amal ibadah lain yang bisa dilakukan dan dikuatkan. Baik, bagi yang tidak beri’tikaf, lebih-lebih yang beri’tikaf. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi.

Dan, bagi yang belum atau tidak bisa beri’tikaf, semoga amal ibadah dan ketaatannya kepada Allah Ta’ala juga tetap terjaga. (*/ZI)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KEBAKARAN di Cempaka XI Banjarmasin Tengah Diduga Usur Kesengajaan, Seorang Diamankan Polisi
TERIDENTIFIKASI Tiga Jenazah Korban KM Virgo, Adalah Pasutri dan Sang Paman
KM SAR KAMAJAYA Tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Membawa Tiga Jenazah KM Virgo
UPDATE Tiga Jenazah Lagi Dievakuasi dari KM Virgo Menuju Banjarmasin dan Ratusan Barang Ditemukan
PENANGANAN KARHUTLA di kawasan Ring 1 Bandara Syamsuddin Noor Terus Diintensifkan Tim Gabungan
GUBERNUR Muhidin Bagi Per Blok Penanganan Karhutla
MR X Tergeletak Tak Bernyawa di Rumah Kontrakan
PEMILIK KM Virgo Transport 8 “Angkat Bicara” Terkait Musibah di Laut Jawa

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 21:18

KPK: Pengadaan dan Mutasi Jabatan di Daerah Rawan Korupsi

Jumat, 18 September 2026 - 20:43

258 KABUPATEN/KOTA Sudah Terapkan Perlinsos Digital

Jumat, 18 September 2026 - 20:31

KAPAL Induk Giuseppe Garibaldi Tiba di Jakarta

Jumat, 18 September 2026 - 14:49

DITETAPKAN Lima Tersangka Karhutla dan 10 Korporasi dalam Penyidikan Polda Kalsel

Kamis, 17 September 2026 - 21:10

KASUS KORUPSI ATR/BPN: KPK Geledah Ruangan 3 Dirjen dan Sita Dokumen

Kamis, 17 September 2026 - 20:56

KESEHATAN Mental Nakes Salah Satu Penentu Keselamatan Pasien

Kamis, 17 September 2026 - 20:19

KAPOLRI Diperintahkan “All Out” Cek Unsur Pidana Pelaku Karhutla

Kamis, 17 September 2026 - 18:52

PEMILIK KM Virgo Transport 8 “Angkat Bicara” Terkait Musibah di Laut Jawa

Berita Terbaru

Foto Ilustrasi garis polisi. (Foto: Getty Images/Ole Schwander)

Hukum

BOCAH Tewas Tertembak Senapan Angin

Minggu, 20 Sep 2026 - 22:50

Foto Ilustrasi, Pesawat di Bandara Tjilik Riwut Kota Palangka Raya, (Foto: Prokalteng)

Kalteng

14 JADWAL Penerbangan Terdampak Kabut Asap

Minggu, 20 Sep 2026 - 22:39

Grand Prix Austria 2026 menandai kemenangan perdana bagi Pedro Acosta (Red Bull KTM Factory Racing). Membayar lunas blunder yang dilakukannya saat balapan Sprint, sang pembalap bernomor #37 berperforma mengesankan untuk mengklaim podium tertinggi MotoGP. Ia mengalahkan duet Aprilia Racing, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi. (Foto: MotoGP.com)

Internasional

RACE MotoGP Austria 2026: Kemenangan Perdana Pedro Acosta!

Minggu, 20 Sep 2026 - 22:24

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca