In memorian Maestro Lagu-lagu Banjar H. Anang Ardiansyah.

In memorian Maestro Lagu-lagu Banjar H. Anang Ardiansyah.

Suarindonesia – Kurang lebih 3 tiga silam masyarakat Banjar dirundung duka tepat 7 Agustus 2015, sang Maestro lagu-lagu Banjar, Anang Ardiansyah meninggal dunia setelah dirawat di RS Suaka Insan, Banjarmasin. Sang maestro lagu-lagu daerah Banjar ini meninggal di usia 77 tahun dengan meninggalkan enam orang anak yaitu Arni Mutia, Aslan, Ariadi Riswan, Irfani Nosi Yasminda, Risni Emita dan Roni Pragustia.

H. Anang Ardiansyah lahir di Banjarmasin, 3 Mei 1938. Dia putra Anang Masran bin Dahri yang berasal dari Margasari-Tapin. Ibunya bernama Hj. Noor Cahaya Hairani binti H. Patani. Leluhur mereka berasal dari Marabahan. Nama Anang yang melekat di depan namanya, sebagaimana Anang-Anang yang lain, menunjukkan bahwa Anang Ardiansyah dan ayahnya Anang Masran, termasuk keturunan bangsawan Kesultanan Banjar.

Tempat kelahiran Anang Ardiansyah dulu di Antasan Kecil Barat, yang biasa disebut dengan Kampung Arab, karena banyak warga keturunan Arab yang bermukim di sini, kini masuk wilayah Kelurahan Pasar Lama Banjarmasin.

Kerinduan akan sosok sang Maestro pun dirasakan oleh Tokoh Masyarakat Kalimantan Selatan, Sultan Banjar, Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah. Ia mengutarakan ihwal Kalau menyanyikan lagu-lagu Banjar, atau mendengar orang menyanyikan lagu-lagu Banjar di acara-acara tertentu seperti walimah perkawinan, harijadi pemerintah daerah, acara budaya, perlombaan lagu-lagu daerah dan sebagainya, maka semua itu tidak bisa terpisahkan dengan tokoh penciptanya yaitu Anang Ardiansyah. “Baik semasa beliau hidup maupun sesudah meninggalnya, lagu-lagunya masih didendangkan orang dan enak didengar,” ungkapnya kepada suarindonesia.com, Rabu (3/9/2018).

Berdasarkan sumber yang ia ketahui bahwa pada masa penjajahan Belanda, orang pribumi tidak mudah untuk bersekolah di tingkatan yang memadai. Namun ayah Anang Ardiansyah, Anang Masran berhasil sekolah hingga tingkat sekolah guru dan menjadi guru, sebagaimana kakeknya Dahri yang juga berkecimpung di dunia pendidikan. Bahkan, Anang Masran juga berhasil menamatkan MULO di Banjarmasin. satu-satunya sekolah menengah atas yang hanya ada di Banjarmasin.

Mantan Bupati Kabupaten Banjar Dua Periode ini menceritakan bahwa Anang Masran bersekolah di Ostvia yaitu Sekolah Ilmu Pemerintahan zaman Belanda yang ada di Makassar, Sulawesi Selatan. Tambahnya, Belanda memfasilitasi orang-orang pribumi di sekolah tersebut bukan untuk membuat orang-orang pribumi semuanya pintar, melainkan hanya untuk mengisi kekosongan pegawai Belanda di daerah-daerah pedalaman yang masih sangat kurang. Setelah lulus Anang Masran ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk menjadi Wedana (semacam Camat) di Long Iram, pedalaman Kalimantan Timur. Anang Ardiansyah kecil pun bersama ibunya ikut berhijrah ke sana.

Dalam sebuah peribahasa, hidup tanpa ayah malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Justru dengan menjadi pegawai yang ditugaskan oleh Belanda itu nasib keluarga ini menjadi terbalik. Ketika tentara Jepang datang, pertama kalinya dari Balikpapan Kalimantan Timur, mereka menangkap semua tentara dan pegawai Belanda, termasuk orang pribumi. Tak ayal lagi, Anang Masran termasuk di dalamnya dan dipenjarakan serta dibawa entah ke mana, konon dijadikan pekerja paksa dan kemudian dibunuh.

Sultan mengungkapkan ihwal hanya sempat tiga tahun Anang Ardiansyah kecil hidup bersama ayahnya tercinta. Selebihnya ayahnya hilang tanpa kejelasan nasibnya, sebagaimana kebanyakan orang pribumi yang ditangkap dan direkrut Jepang saat itu. Orang-orang yang direkrut sebagai romusha, heiho dan sebagainya umumnya mengalami nasib yang menyedihkan.

Menurut kesaksian HM Said waktu kecil, orang-orang rekrutan Jepang itu banyak yang kurus-kurus, kekurangan makanan dan pakaian. Akhirnya karena tak ada lagi tempat bergantung, Anang Ardiansyah kecil bersama ibunya, kembali pulang ke Banjarmasin dengan melalui jalan darat, hutan, perbukitan dan laut yang penuh dengan suka duka. Anang Ardiansyah dihambin (dipangku di belakang) secara bergantian oleh keluarganya dan orang-orang yang ikut mengungsi. Kala itu Anang Ardiansyah masih bocah.

Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di perjalanan karena jarak yang jauh dan sukarnya jalan yang ditempuh. Hal itu guna menghindari kejaran dan risiko penangkapan dari tentara Jepang.

Di Banjarmasin Anang sekolah SR 1 Kalimantan, yang sekarang lokasinya ada di Jalan S Parman. Sekolah ini pernah dibom dan disegel oleh Belanda (NICA) di masa revolusi fisik (1945-1949).

Beberapa teman seangkatan diantaranya Zaini Azhar Maulani, Rusmadi Sidik (keduanya sempat menjadi petinggi ABRI pada masanya), dan lain-lain. Selepas SMP di Banjarmasin, Anang Ardiansyah melanjutkan ke SMA Muhammadiyah di Malang, di sini ia tinggal bersama ibunya.

Setelah tamat Anang kuliah di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta, yaitu Akademi Manajemen. Beberapa teman kuliah asal Banjar namun berbeda tempat kuliah adalah Adjim Arijadi yang saat itu kuliah di Akademi Theatre Yogyakarta, sesuai bakatnya sebagai budayawan dan tokoh teater Kalsel. Namun Anang gagal menyelesaikan kuliahnya, karena keasyikannya bermusik. Memang sejak kecil Anang sudah senang main musik, terutama gitar. Karena tak punya gitar ia terpaksa meminjam gitar milik orang yang lebih senior daripadanya. Bahkan, ia pernah ditempeleng oleh pemilik gitar tersebut, gara-gara terlambat mengembalikan.

Gagal kuliah di Yogya, Anang pindah ke Surabaya, sambil bolak-balik ke tempat tinggal tetapnya di Malang. Di Surabaya, tepatnya di hotel Berantas, Anang cs tinggal menumpang, di sini ia lebih leluasa lagi bermain musik melalui OM Rindang Banua, berkumpul dengan teman-teman yang memiliki hobi dan nasib yang sama. Hotel Berantas yang berada di pinggir kali Berantas adalah milik Fachruddin Mohani, pengusaha hotel asal Banjar yang berkenan memfasilitasi anak-anak muda dari Banjar. Fachruddin Mohani juga berkeluarga dekat dengan Anang Abdul Hamidhan, tokoh kemerdekaan asal Banjar sebagaimana disebutkan terdahulu.

Produktif Berkarya Anang Ardiansyah, sebagaimana dikenal masyarakat adalah seorang pencipta dan penyanyi lagu-lagu daerah Banjar yang kesohor. Ia menciptakan lagu-lagu Banjar dengan sangat intensif dan produktif, mencapai 103 judul, dan karenanya ia menjadi Maestro Lagu-Lagu Banjar. Lagu-lagu ciptaan Anang boleh dikatakan komprehensif. Ada yang bernuansa agama, seperti Mulailah dengan Bismillah, bernuansa sejarah seperti Pangeran Suriansyah, bernuansa alam seperti Paris Barantai, bernuansa pendidikan dalam keluarga seperti Uma Abah, bernuansa usaha dagang seperti Pancarekenan, dan masih banyak lagi.

Salah satu lagu ciptaan Anang Ardiansyah yang paling terkenal adalah Paris Barantai. Boleh dikata lagu-lagu Anang sangat menyentuh hati, sebagian bahkan melankolik. Ketika menyanyikan atau mendengarkan, maka tak jarang barubuyan banyu mata (kita meneteskan air mata, karena marista (sedih), menjiwai atau terkenang dengan makna lagu tersebut, yang dekat dengan kehidupan kita sendiri. Memang Anang dalam mencipta lagu lebih realistik, bukan berangkat dari khayalan dan cerita fiksi, tetapi realitas hidup keseharian urang Banjar, dan itulah salah satu kelebihannya.

Menurut berbagai sumber, Anang mulai mencipta lagu sejak SMA. Ketika itu ia merantau ke Malang Jawa Timur  tahun 1957 untuk sekolah di SMA. Setahun kemudian Anang pindah ke Surabaya. Di kota ini dia bergabung dengan Orkes Melayu (OM) Rindang Banua yang dipimpin dokter Sarkawi. Grup OM ini didirikan dan dilakoni oleh para pemuda Banjar yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kalimantan. Di antara teman Anang berkesenian di Surabaya adalah Anang Djazouly Seman Martapura, yang belakangan lebih dikenal sebagai ulama dan tokoh agama.

Sebelumnya, Anang pernah meraih juara harapan Lomba Nyanyi Langgam Seriosa di Malang. Anang cs membuat lagu Banjar, karena saat itu belum ada lagu Banjar yang diciptakan dengan iringan musik band.

Mulanya Anang cs menciptakan lagu-lagu Banjar dari gubahan pantun-pantun rakyat. Setelah digubah, jadilah lagu-lagu Banjar baru yang diterima warga. Grup OM Rindang Banua sering membawakan lagu-lagu tersebut saat diundang mengisi acara perkawinan, selamatan dan sebagainya, hingga Rindang Banua sangat terkenal di Surabaya dan Banjarmasin. Band ini semakin terangkat namanya tahun 1959, ketika lagu andalannya Paris Barantai masuk rekaman piringan hitam yang dikerjakan Lokananta di Solo.

Meskipun menyukai seni, Anang tidak melupakan pengabdiannya kepada bangsa dan negara dalam bentuk lain. Ia masuk militer tahun 1962 setelah lulus Sekolah Calon Perwira (Secapa) di Banjarmasin 1961. Ia memiliki karier panjang di jajaran ketentaraan hingga berpangkat kolonel. Selama hampir 30 tahun di kesatuan TNI AD, Anang bertugas di berbagai daerah, seperti  Bandung,  Cirebon, Surabaya, Makassar dan Balikpapan. Karier di militer diselesaikannya tahun 1992, dengan jabatan terakhir sebagai Pemeriksa di Inspektorat Daerah Militer VI/Tanjungpura, Balikpapan.

Namun darah seninya tidak berhenti bergolak. Selama berdinas di militer, dia tetap aktif menciptakan lagu-lagu Banjar. Saat di Kalimantan Timur, Anang menciptakan lagu sesuai daerah setempat, seperti  Balikpapan, Sarung Samarinda, Di Hunjuran Mahakam, Di Panajam Kita Badapat, dan Apo Kayan. Lagu-lagu itu direkam dalam kaset 1987. Anang membentuk kelompok musik Tygaroon’s Group dan mendirikan Tygaroon’s Mini Studio, beberapa album lagu Banjar dihasilkan. Kegiatan berkesenian mulai menurun ketika Anang terjun di dunia politik. Periode 1999-2004 ia menjabat Wakil Ketua DPRD Hulu Sungai Utara dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Golkar Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Menurut Anang Ardiansyah, lagu Banjar hampir 80 persen lagu Melayu. Tetapi dalam perkembangannya, lagu ini tak lagi memiliki cengkok mengalun seperti lagu Melayu. Irama lagu Banjar lebih tegas, karena 20 persennya mendapat pengaruh lain seperti Dayak, Cina, Arab, dan Jawa.

Di usia 70 tahun, seniman rutin berkunjung ke Taman Budaya Kalsel, bersilaturahim dengan sesama seniman, juga masih menyempatkan diri mengajar menyanyi untuk anak sekolah. Anang ardiansyah selalu terbuka kepada siaopa saja. Para wartawan, seniman dan budayawan sering sekali mengunjungi rumahnya untuk bersilaturahim, atau bertanya apa saja. Ia masih sering tampil di berbagai event dan namanya sering menghias media massa. Thamrin Junus, seorang wartawan senior juga menyempatkan menulis biografi berjudul: Sang Maestro H Anang Ardiansyah Si Paris Barantai. Pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh lika-liku perjalanan hidup Anang Ardiansyah dapat membaca buku tersebut.

Semasa hidup ia beroleh beberapa penghargaan, di antaranya Penghargaan sebagai Seniman Musik dari Gubernur Kalsel 1997, Penghargaan sebagai Pencipta/Pengarang Lagu Daerah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Penghargaan dari Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mutashim Billah dengan gelar Datu Astaprana Hikmadiraja (DAH). (BY)

 1,867 kali dilihat,  7 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: