SuarIndonesia – Hasil swab yang dikirimkan ke Real Time Polymerase Chain Reaction (RT PCR) milik Pemerintah Provinsi Kalsel dari Banjarmasin terlalu lama keluar.
Bahkan tak jarang, pasien sudah keburu meninggal tapi hasil swab-nya masih belum diketahui, apakah yang bersangkutan positif terinfeksi virus corona atau tidak.
Maklum, di Kalsel hanya punya satu RT PCR yang terletak di Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Banjarbaru. Laboratorium pemeriksaan ini harus melayani hasil swab dari semua yang dikirimkan oleh 13 kabupaten/kota.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin pun akhirnya meminta agar RT PCR ini bisa dibangun di Banjarmasin. Tujuannya agar hasil swab Bisa lebih cepat.
“Yang kami usulan untuk di laboratorium Sasana Santi. Karena itu milik provinsi, kami mengusahakan di Banjarmasin punya PCR sendiri,” kata Kepala Dinkes Banjarmasin, Machli Riyadi, Jumat (15/05/2020).
Terlebih, Banjarmasin saat ini satu-satunya kota di Kalsel yang penularannya paling tinggi. Bahkan hingga kemarin angka kasus positif sudah mencapai 102 orang.
“Kami masih menunggu janji dari Provinsi, katanya secepatnya,” ucapnya yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Banjarmasin.
Machli mengakui bahwa pembangunan RT PCR bukan hal sepele, perlu biaya yang besar.
“Memang sedang diupayakan cuma memang masih hitung-hitungan anggaran. Karena mahal membangunnya,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengharap Pemprov Kalsel bisa memberikan dukungan untuk penanganan Covid-19 di Banjarmasin.
Lebih lanjut Machli menjelaskan, soal lambatnya hasil swab diketahui karena di samping harus antri melayani 13 kabupaten/kota, di RT PCR Banjarbaru juga memprioritaskan hasil bagi pasien yang sudah meninggal.
“Di BTIKP itu yang diprioritaskan, yaitu hasil bagi yang sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Itu kan se Kalsel yang dilayani,” pungkasnya. (SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















