Suarindonesia – Perwakilan PT. Sumber Alfaria Trijaya Banjarmasin (Alfamart) Hj Yusrina menegaskan, ada dua hal yang membuat produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak dapat dipasarkan oleh Ritel Modern.
Dua hal tersebut yakni, kurang menariknya kemasan dan tidak adanya izin edar dari instansi terkait. Untuk itulah pihaknya mengingatkan pelaku UMKM di Provinsi Kalsel, agar bisa memperhatikan dua hal tersebut sebelum berencana memasarkan produknya melalui ritel modern.
“Kemasannya harus menarik dan izin edarnya harus lengkap. Itu sudah merupakan syarat wajib jika UMKM ingin memasarkan produknya melalui outlet Alfamart,” tegasnya saat menjadi pembicara pada even Sosialisasi Program Kemitraan dan Pelatihan UMKM Kalsel dengan tema “Naik Kelas UMKMnya, Maju Ekonomi Banua” yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Ekonomi (FWE) Kalsel, Sabtu (13/07/2019) di Aula Kantor Pusat Bank Kalsel.

Apalagi jika produk UMKM yang ingin dipasarkan di ritel modern tadi sudah mengantongi label Halal hingga mendapatkan rekomendasi dari Dinas Perindustrian setempat. Maka tentu akan lebih mudah diterima oleh Alfamart.
“Jika bisa mendapatkan rekomendasi tersebut maka kami bisa mengusahakan pemajangan produk di etalase Alfamart tanpa dipungut biaya. Namun kalau tidak bisa dianggap produk biasa pada umumnya dengan biaya administrasi mencapai Rp3,3 juta,” ungkapnya.
Regional Corporate Communication Manager Alfamart Budi Santoso menambahkan, hingga Tahun 2019 ada kurang lebih 200 outlet Alfamart yang tersebar di wilayah Kalsel dan Kalteng. Dengan jumlah outlet yang sebanyak itu maka tentu akan sangat potensial bagi pelaku UMKM lokal di Banua untuk mengembangkan pasar produknya.
“Kami sangat terbuka untuk bekerjasama selama produk yang ditawarkan lengkap segala persyaratan yang kami minta. Untuk jumlah kuantitas produk yang dipasarkan jangan khawatir, karena bisa dimulai dengan beberapa outlet terlebih dahulu,” tuturnya yang didampingi Budi.
Ada pun sedikit tips bagi UMKM lokal yang ingin menjual produk olahannya melalui Alfamart. Saran dia olahlah produk makanan dan minuman kemasan saja, karena perputaran barangnya cukup tinggi di outlet Alfamart.
“Kalau barang Handycraft itu lambat laku. Lebih baik buat produk makanan dan minuman kemasan saja, karena dua produk itu sangat laku dan perputaran barangnya cukup cepat di pasaran,” bebernya.
Dilain pihak, Sekretaris FWE Kalsel Arief Rahman mengapresiasi materi yang diberikan oleh Alfamart tentang bagaimana caranya agar produk lokal bisa masuk ritel modern. Ia pun berharap agar para peserta bisa menerapkan berbagai tips yang diberikan untuk meningkatkan kualitas produk yang bisa dijualnya agar mendapatkan kesempatan dijual di pasar modern.
“Saya berharap ke depannya instansi terkait bisa ikut membina secara intens produk UMKM lokal kita agar lebih banyak yang bisa masuk ke ritel modern. Karena jika mereka tidak dibantu dan dibiarkan sendiri, kuantitasnya yang bisa masuk Ritel Modern akan sulit berkembang,” imbuhnya.
Sekedar diketahui, Sosialisasi Program Kemitraan dan Pelatihan UMKM Kalsel dengan tema “Naik Kelas UMKMnya, Maju Ekonomi Banua” disponsori oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Banjarmasin (Alfamart), Bank Kalsel dan PT Pertamina. Kegiatan sendiri dihadiri oleb 120 UMKM di Banua dengan bermacam bidang usaha.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















