SuarIndonesia – Gerakan tangan, tubuh dan kaki dua belas pemuda pemudi dari Desa Wisata Haratai, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mulai lincah dan gemulai.
Pada Sabtu (22/2.2020), mereka latihan menari. Babansai, tari tradisional menyambut tamu.
Meski tari tradisional masyarakat di Pegunungan Meratus ini kerap dilakukan, tetapi minimnya latihan intensif, geraknya belum benar-benar seragam.
Kekompakan antarpenari masih harus diasah. Generasi milenial ini berhimpun dalam sanggar tari budaya., yang namanya Buluh Kuning Desa Haratai.

Menghimpun para pemuda dan pemudi di desa yang punya bakat dan minat untuk belajar tari tradisional.
Hingga kini, sudah ada 15 orang yang aktif ikut latihan. Instruktur tari Buluh Kuning, Abdurrahim menargetkan anggota sebanyak 30 penari, dan . penjaringan terus dilakukan.
Abdurrahim, instruktur tari yang akrab disapa Ahim menyatakan bahwa latihan tari dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Sabtu.
“Latihan satu pekan sekali dilakukan. Jadwalnya fleksibel, harinya menyesuaikan.
Tetapi, biasanya latihan pada hari Sabtu,” kata pria yang juga biasa dipanggil Egar ini.
Tempat latihan menari pun masih belum dimiliki sanggar ini.
Mereka tak ada masalah tempatnya berpindah-pindah.
Terkadang di halaman SD Haratai, di Balai Adat Umbung, atau di Balai Wisata Air Terjun Haratai.(ADV/RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















