Suarindonesia – Sebanyak 34 perahu klotok yang menggambarkan kearifan lokal dan dan membawa ciri dari masing-masing ornamen khas provinsi di seluruh Indonesia, Rabu (03/07/2019) malam mulai pukul 18.30 WITA sore hingga malam tampil di Siring Sungai Martapura, Jalan Piere Tendean, Kota Banjarmasin.
Puluhan perahu klotok tersebut dihiasi aneka miniatur ikon setiap provinsi se-Indonesia dengan ditambah aneka lampu yang berwarna-warni dengan dan paduan kesenian dari masing-masing daerah akan tampil menyusuri Sungai Martapura yang membelah Kota Banjarmasin.
Bahkan klotok-klotok tersebut kini mulai dipasang aneka macam hiasan dan ornamen, mulai maskot binatang, tarian khas daerah, dan rumah adat dari 34 provinsi di Indonesia. Bahkan jukung hias ini disiapkan mengelilingi Sungai Martapura dalam rangka menyambut rangkaian Harganas ke-26 pada 3 Juli 2019.

Salah seorang kreaktor yang bernama Alan mengatakan seluruh jukung hias alias tanglong ini hasil karya dari kreator handal asal Kota Banjarmasin. Bahkan di tangan Alan, bahan baku yang serupa kayu, kawat, plastik pipisi dan benang serta lem mampu diolah jadi tanglong dengan corak budaya dari 34 provinsi se-Indonesia.
“Pada umumnya bahan-bahan baku kami membuat tanglong ini berupa kayu, kawat, platik dan benang. Juga ada lem, semuanya kami buat jadi tanglong. Bentuknya pun kami desain sebelumnya, dan dikirim ke BKKBN 34 provinsi untuk konfirmasi. Lalu ketika disetujui, baru kami buat tanglongnya,” ujar Alan kepada awak media, Senin (01/07/ 20190.

Dikatakan Alan, desain yang diusulkan tidak seluruhnya diterima. Ada beberapa desain yang mesti diubah, seperti Provinsi Jawa Timur yang semula diusulkan tanglong Ikan Suro dan Buaya. Namun, BKKBN Jatim minta dibuatkan tanglong corak miniatur Reog.
Kemudian miniatur Burung Enggang khas Kalimantan Tengah di sebuah perahu klotok ketika Harganas ke-26 di Banjarmasin.
Bahkan setelah semuanya disepakati, Alan baru menggarap hiasan jukung dalam tempo 15 hari kerja.
Alan juga mengaku bahwa untuk satu provinsi menghabiskan biaya Rp5 juta hingga Rp7 juta per unit tanglong, tergantung tingkat kesulitan desain dan teknis pembuatan tanglong. “Semuanya berbeda-beda,” ucapnya.
Alan mengaku butuh tenaga bantuan 15 orang untuk menghiasi tanglong. Sebab, kata dia, membuat hiasan untuk satu tanglong dengan tenaga satu orang butuh waktu dua hari kerja.
Ia mengajak 15 orang pekerja agar hiasan tanglong selesai tepat waktu, sebelum tanggal 3 Juli 2019.
Tanglong yang digarapnya selalu mendapat hasil memuaskan.
Menurut dia, dalam beberapa even seperti hari jadi Kota Banjarmasin tahun 2018 lalu berhasil menorehkan juara 1 dan mendapat hadiah Rp20 juta.
“Hadiahnya bisa dinikmati bersama. Apalagi sebenarnya di Banjarmasin ini banyak pengrajin tanglong, namun sulit bertahan karena harus memiliki modal yang banyak untuk membuat tanglong,” ungkap Alan mengakiri pembicaraannya.(SU)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















