WHO : 1,8 Miliar Anak di Dunia Berada di Kawasan Polusi Udara.

- Penulis

Selasa, 30 Oktober 2018 - 10:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarindonesia  — Laporan teranyar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sebagian besar anak di dunia menghirup udara yang tercemar. Kondisi itu menimbulkan resiko yang besar bagi anak.

Mengutip dalam The Telegraph, 98 persen atau sekitar 1,8 miliar anak di bawah lima tahun tinggal di kawasan di mana polusi udara telah berada di atas ambang batas normal.

Pada 2016 lalu, polusi udara menyebabkan sekitar 4,3 juta kematian dini. Sekitar 600 ribu anak di antaranya meninggal akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terjadi akibat udara kotor.

Kondisi ini memiliki konsekuensi seumur hidup. Paparan polusi udara terkait dengan berbagai kondisi kesehatan seperti asma, kanker anak, dan mengurangi perkembangan saraf serta kemampuan kognitif anak.

Saat organ-organ tubuhnya masih berkembang, anak-anak menghirup udara beracun setiap harinya. Kondisi demikian sangat memungkinkan anak terserang penyakit kronis.

“Anak-anak sangat rentan terhadap dampak polusi udara. Namun, mereka tak berdaya dan bergantung pada kita untuk melindungi mereka,” ujar salah seorang ilmuwan dan ahli polusi udara WHO, dr Marie Noel Brune Drisse.

Dalam laporan terbarunya, WHO juga menyebutkan bahwa polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian setiap tahun.

Kendati polusi udara merupakan masalah global, namun kondisi mencemaskan itu terlihat menonjol di sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Afrika, 184 anak per 100 ribu orang meninggal karena penyakit yang disebabkan polusi udara pada 2016 lalu.

Kondisi itu sebagian besar disebabkan oleh ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap bahan-bahan bakar tak sehat yang biasa digunakan untuk memasak seperti minyak tanah. Bahan bakar tersebut menghasilkan konsentrasi polutan dalam ruangan.

Sekitar 3 miliar orang di seluruh dunia, termasuk di antaranya Afrika dan Asia Tenggara, masih tergantung dengan bahan-bahan bakar jenis tersebut.

Ketika bayi dan balita menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, mereka lebih sering terpapar polusi udara yang lebih tinggi daripada mereka yang berusia di atas lima tahun.

Baca Juga :   DIMUSNAHKAN Narkotika Senilai 33,8 Miliar, Selamatkan Hampir 300 Ribu Jiwa

“Negara berpenghasilan rendah dan menengah adalah negara yang paling menderita akibat polusi udara,” ujar ilmuwan WHO lainnya, dr Sophie Gummy.

Gummy menyebut, lebih dari 50 persen pencemaran di dunia bergantung pada bahan bakar tercemar yang digunakan di rumah tangga. “Kita perlu memastikan bahwa mereka memiliki akses pada energi bersih,” katanya.

Namun, dampak pencemaran udara ini tidak terjadi begitu saja. Ia dimulai sebelum kelahiran dari wanita yang terpapar polusi udara selama kehamilan.

Sebagaimana disebutkan dalam penelitian sebelumnya, partikel polusi udara ditemukan dalam plasenta wanita hamil. Mengutip CNN, partikel itu masuk melalui paru-paru menuju plasenta hingga berpotensi sampai ke janin.

Diterbitkan pada Senin, laporan itu dirilis bertepatan dengan Global Conference on Air Pollution and Health di Jenewa. Di sana, para pemimpin dunia bertemu untuk membahas strategi mengatasi polusi udara. Termasuk beberapa di antaranya mengurangi ketergantungan pada mobil, meningkatkan sistem pengelolaan limbah, dan mempercepat langkah untuk membersihkan pasokan energi.

Direktur Jenderal WHO, dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa udara yang tercemar meracuni jutaan anak dan menghancurkan hidup mereka.

“Ini tidak bisa dimaafkan. Setiap anak harus dapat tumbuh dengan menghirup udara bersih sehingga mereka dapat tumbuh dengan baik,” pungkas Ghebreyesus. (BY)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KEBAKARAN Melanda Kawasan Permukiman di Pangeran Antasari
AJANG PEMANASAN, Fourfeo PWI-Adaro 2026 Jelang Porwanas Lampung
LISTRIK SERING PADAM, Peternak Lempar Ribuan Bangkai Ayam ke PLN Palangka Raya
TENGGILING BESAR Ditemukan di Banjarmasin
TEKUK PERSIS SOLO 2-1, Barito Putera Kudeta Puncak Klasemen Grup B
KAPOLDA KALSEL Giat Salat Jumat Keliling dan Program Green Policing di Masjid
KOLEKSI BERSEJARAH Baju Pangeran Antasari Menarik Perhatian
MAHASISWA ULM Pelajari Kerja DPRD Kalsel Lewat Legislative Visit

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:00

KEBAKARAN Melanda Kawasan Permukiman di Pangeran Antasari

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:19

AJANG PEMANASAN, Fourfeo PWI-Adaro 2026 Jelang Porwanas Lampung

Jumat, 30 Oktober 2026 - 23:47

LISTRIK SERING PADAM, Peternak Lempar Ribuan Bangkai Ayam ke PLN Palangka Raya

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:30

TEKUK PERSIS SOLO 2-1, Barito Putera Kudeta Puncak Klasemen Grup B

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:19

KAPOLDA KALSEL Giat Salat Jumat Keliling dan Program Green Policing di Masjid

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:44

KOLEKSI BERSEJARAH Baju Pangeran Antasari Menarik Perhatian

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:13

MAHASISWA ULM Pelajari Kerja DPRD Kalsel Lewat Legislative Visit

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:09

PROGRAM REBOISASI Pasca Karhutla, Didesak DPRD Kalsel Masuk Prioritas 2027

Berita Terbaru