Walikota: Orang Banjar Lebih Ramah Lingkungan

Walikota: Orang Banjar Lebih Ramah Lingkungan

Suarindonesia – Program pengurangan sampah terutama limbah plastik yang kini gencar dilaksanakan Pemko Banjarmasin, kembali mendapat apresiasi dari pemerintah pusat tepatnya dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.

Melalui kegiatan Pelatihan Tanggap Bencana Provinsi Kalsel yang dilaksanakan di Ball Room Hotel Palm Banjarmasin, Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina mendapat kehormatan sebagai nara sumber utama, mempresentasikan keberhasilan Pemko Banjarmasin dalam menerapkan Perwali Nomor 18 tahun 2016 tentang Larangan Penggunaa ln Kantong Plastik bagi Ritel, Toko Modern, Apotek dan Pasar Tradisional.

Menurut H Ibnu Sina, memerangi sampah plastik itu bukanlah hal yang sulit. Karena hal tersebut bisa dengan mulai membiasakan diri sendiri untuk tidak menggunakan kantong plastik, dan selalu membuang sampah pada tempatnya.

“Makanya peran pemuda hari ini, peran para milenial hari ini untuk dapat mengurangi dampak dari sampah plastik itu bisa kita lakukan mulai dari sekarang, dan mulai dari diri sendiri,” ujarnya, Sabtu (27/04).

Berprilaku hidup sehat, lanjutnya, merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk dapat mengurangi sampah plastik.

Selain tidak membuang sampah sembarangan, dengan selalu menggunakan produk tak berbahan plastik juga merupakan salah satu cara mudah untuk mengurangi sampah plastik.

Terlebih saat ini Pemko Banjarmasin telah mensosialisasikan penggunaan tumbler sebagai pengganti botol air minum kemasan plastik, dan penggunaan bakul purun sebagai pengganti kantong plastik.

Sehingga dapat dikatakan kini pola hidup orang Banjar lebih sehat dan ramah lingkungan. “Jadikan pola hidup sehat, jadikan pola hidup ramah lingkungan sebagai lifestyle, gaya hidup orang banjar itu adalah dengan menggunakan tumbler, dan tidak membuang sampah sembarangan,” jelasnya.

Kenapa harus mengurangi kantong plastik. Karena bahaya dari penggunaan kantong plastik itu, sangat luas.

Dikatakannya bahaya dari limbah plastik itu tidak hanya menimpa manusia, tetapi juga menimpa hewan yang ada di darat dan di perairan. Itu semua dikarenakan sebuah kantong plastik baru bisa terurai ketika sudah berumur puluhan tahun.

‘’Seekor Ikan paus ditemukan mati di pantai Wakatobi, ketika perutnya dibuka ternyata ada sampah plastik sebanyak hampir 60 kilogram, berupa sandal jempit, sedotan, dan sampah plastik. Jadi sampah plastik memberikan dampak jangka panjang sangat buruk bagi lingkungan,” jelasnya.

Berkaca dari contoh tersebut, pemimpin Bumi Kayuh berharap generasi emas Indonesia hari ini bisa mengambil langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan kerusakan lingkungan. “Di tangan kalianlah Indonesia akan ditentukan arahnya,” pungkasnya.

Bahkan dalam kesempatan itu, H Ibnu Sina juga memberikan tumbler kepada tiga mahasiswa yang merespon paparan yang telah ia berikan.(SU)

 401 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: