Suarindonesia – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kalsel sedang merencanakan operasi pasar guna mendongkrang harga ayam broiler di tingkat pelaku usaha unggas.
Hal itu dilakukan guna menjamin keberlangsungan usaha tersebut, sebab jika harga dibiarkan terus menerus anjlok maka para pelaku usaha unggas gulung tikar.
Akan timbul masalah baru apabila para pelaku usaha perunggasan gulung tikar, yaitu ketersediaan ayam potong akan kosong.
“Saat ini sudah ada empat pengusaha yang mati suri, jika terus-teruaan begini tidak menutup kemungkinan makin banyak pengusaha unggas yang berhenti beroperasi,” jelas Sekretaris Pinsar Kalsel, Junaidi, Rabu (28/8).
Junaidi menyebut pengalaman 2017 lalu terjadi kekosongan ayam potong karena harga di tingkat kandang sangat rendah.
Dengan kekosongan itu, ujarnya maka terjadi kenaikan harga yang sangat tinggi.
Ia menjelaskan, rate harga yang bisa menutupi pelaku usaha perunggasan Rp19 sampai Rp20 ribu perkilogram.
Saat ini, ujarnya harga berada di kisaran Rp15 ribu.
“Mudah-mudahan melalui operasi pasar nanti bisa mendongkrak harga ayam potong.
Saat operasi pasar sasarannya konsumen dan pedagang.
Menurut informasi yang kami dapat harga ayam potong di pasar saat ini Rp35 ribu perkilogram, jadi pada saat operasi pasar bisa saja pedagang membeli ayam di tempat kami,” bebernya.
Sementara itu, salah satu pekerja kandang ayam, Muhammad Nasir menyebut pihaknya selaku mitra kerja perusahaan tidak akan merugi.
Sebab lanjutnya, berapapun harga ayam yang terjual pihak perusahaan membayar sesuai perjanjian kerjasama.
“Jika ada kerugian ditanggung pihak perusahaan, kami hanya mengurus unggas dari bibit sampai besar bisa dijual,” ujarnya seraya menyebut normalnya harga perkilogram Rp22 ribu.
Menurutnya, ia akan mendapatkan upah Rp21 ribu perkilogram ayam yang bisa dijual. “Perusahaan tetap bayar senilai itu meskipun harga jual murah.
Pihak perusahaan yang rugi apabila harga murah,” bebernya.
Di sisi lain, Nur Hidayah salah satu ibu rumah tangga mengaku malah menguntungkan dirinya apabila harga ayam potong di pasaran murah.
Meski begitu, ia juga khawatir terjadi kekosongan ayam apabila para pengusaha berhenti beroperasi.
“Kami selaku konsumen senang aja, tapi takutnya terjadi kekosongan menyebabkan harga melambung,” ujarnya.
Proses tersedianya ayam potong di pasar atau tingkat pedagang cukup panjang.
Dari penyediaan bibit ayam di kandang-kandang. Ayam yang masih kecil tersebut diberi umpan dan vaksin agar tidak mati.
Setelah besar ayam tersebut ditimbang untum didistribusikan kepada broker.
Dari broker didistribusikan lagi ke pengepul, lalu ke pemotong dan terakhir baru sampai ke pedagang.
Semua proses biaya itu sebelum sampai ke pengepul dibebankan kepada pelaku usaha perunggasan. (RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















