TATA KELOLA Air Kunci Cegah Kebakaran Lahan Gambut

- Penulis

Selasa, 8 September 2026 - 20:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026). (Foto: Antara/Auliya Rahman)

Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026). (Foto: Antara/Auliya Rahman)

SuarIndonesia — Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengelolaan Lahan Gambut Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah, Dr Adi Jaya menyebut pengelolaan tata air menjadi kunci utama dalam pencegahan kebakaran lahan gambut terutama saat musim kemarau.

“Gambut pada kondisi alaminya sebenarnya tidak mudah terbakar karena terbentuk dalam kondisi jenuh air, tetapi ketika tata air terganggu dan muka air tanah turun, lapisan gambut bagian atas kehilangan banyak air dan bahan organik yang sebelumnya basah berubah menjadi bahan bakar,” katanya di Palangka Raya, Selasa (8/9/2026).

Menurut dia, gangguan tata air dapat terjadi akibat drainase, keberadaan kanal, pembukaan lahan maupun kemarau panjang. Kondisi tersebut membuat lapisan gambut semakin mengering dan meningkatkan kerawanan kebakaran.

Ia mencontohkan kondisi di Kawasan Sebangau pada 2019 ketika kemarau panjang menyebabkan muka air tanah turun hingga 1,5 meter, sedangkan di kawasan yang dibuka untuk pertanian penurunannya mencapai 2,5 meter.

“Gambut terdiri atas akumulasi bahan organik selama ratusan hingga ribuan tahun, sehingga ketika mengering bukan hanya daun dan ranting di permukaan yang dapat terbakar, tetapi tanah gambut itu sendiri,” ujar Adi Jaya, dilansir Antara.

Adi menjelaskan kebakaran gambut juga sulit dipadamkan karena api tidak hanya berada di permukaan, melainkan dapat terus berlangsung di dalam tanah melalui proses pembakaran membara atau smouldering combustion.

Pembakaran tersebut dapat bergerak perlahan ke samping maupun ke bawah mengikuti lapisan gambut yang kering, termasuk melalui akar, pohon, dan kayu lapuk di dalam tanah. Kondisi itu menyebabkan lokasi yang terlihat telah padam masih dapat kembali mengeluarkan asap atau bahkan api.

Kesulitan pemadaman juga berkaitan dengan perubahan sifat gambut ketika mengalami kekeringan ekstrem. Gambut pada kondisi alami memiliki kemampuan menyimpan air sangat tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar sembilan kali berat tanahnya, tetapi ketika mengering ekstrem akibat kebakaran, gambut dapat menjadi hidrofobia atau sulit menerima air.

Akibatnya, air yang disemprotkan dalam jumlah banyak tidak selalu dapat langsung meresap hingga ke bagian dalam gambut tempat sumber panas berada. Sebagian air hanya membasahi permukaan, sementara api atau pembakaran membara masih terus berlangsung di lapisan bawah tanah.

“Pada kebakaran gambut, pekerjaan belum selesai ketika nyala api hilang, karena pendinginan atau mop-up harus dilakukan sampai sumber panas di bawah permukaan benar-benar hilang,” ujarnya.

Adi mengatakan kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran di tanah mineral karena lapisan tanah organik pada gambut juga menjadi bahan bakar. Akibatnya, api dapat berkembang secara tiga dimensi, yakni bergerak di permukaan, menyebar ke samping, dan masuk hingga ke kedalaman gambut.

Baca Juga :   KARHUTLA KALTENG: 24 Orang Jadi Tersangka, 4 Perusahaan Diselidiki

Menurut dia, kondisi tersebut membuat kebutuhan air, waktu pendinginan, serta pemeriksaan ulang menjadi lebih besar. UPR juga membuat sekat air atau fire break untuk mencegah perluasan api dan tetap melakukan pemantauan karena upaya tersebut tidak menjamin kawasan sepenuhnya aman dari kebakaran.

“Pencegahan yang paling efektif adalah mencegah gambut menjadi kering dan menghentikan sumber penyalaan, melalui pembasahan kembali, pengelolaan tata air, sekat kanal, pemantauan muka air tanah, pemulihan vegetasi, serta mencegah pembukaan dan pengelolaan lahan dengan api,” jelasnya.

Terkait pengaruh kemarau dan El Nino, Adi menjelaskan kedua faktor tersebut dapat meningkatkan risiko dan memperparah kebakaran, tetapi bukan menjadi sumber penyalaan. El Nino dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang musim kering sehingga gambut kehilangan air, vegetasi mengering, dan bahan bakar menjadi lebih mudah terbakar.

Menurut dia, kondisi kering tersebut membuat kebakaran lebih mudah terjadi ketika terdapat sumber api. Karena itu, kemarau dan El Nino menciptakan kondisi yang sangat rawan kebakaran, tetapi tetap diperlukan sumber penyalaan untuk memulai pembakaran.

Ia juga meluruskan anggapan kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi akibat daun-daun kering yang bergesekan hingga menghasilkan api. Gesekan normal antar-daun atau ranting akibat angin, katanya, tidak menghasilkan energi panas yang cukup untuk mencapai temperatur penyalaan bahan organik.

“Daun kering memang sangat penting dalam proses kebakaran, tetapi perannya adalah sebagai bahan bakar yang mudah terbakar, bukan sebagai sumber api itu sendiri. Dalam konteks kebakaran gambut di Indonesia, sebagian besar sumber penyalaan berkaitan dengan aktivitas manusia,” ungkapnya.

Adi menambahkan sumber penyalaan alami dapat berupa petir, namun berbagai kajian mengenai kebakaran gambut menunjukkan sumber penyalaan yang berkaitan dengan aktivitas manusia memiliki peran dominan.

Selain itu, biomassa kering setelah kebakaran, seperti pohon tumbang, kayu, dan daun yang tersisa, juga perlu mendapat perhatian karena berpotensi menjadi bahan bakar pada kebakaran berikutnya.

“Biomassa kering, baik pohon maupun daun, sangat berpotensi menjadi masalah lagi dengan terjadinya kebakaran dan bahkan memberikan efek yang lebih besar dalam hal nyala api,” kata Adi. (*/ut)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

KEMENHUT Tangkap BG Pemodal Illegal Logging
MANFAATKAN Inovasi Cairan Surfaktan Tangani Karhutla
HUJAN Guyur Sejumlah Wilayah di Kotim
OMC Kalteng Terkendala Langit Minim Awan
SATU Ton Cairan Inovasi Karhutla Dikirim ke Kalteng
DPRD Kalsel dan Kalteng Perkuat Wawasan Ekonomi dan Keuangan
PERKUAT SINERGI Pengawasan dan Pelayanan Publik Dilaksanakan DPRD Kalsel dan Kalteng
KARHUTLA KALTENG: 24 Orang Jadi Tersangka, 4 Perusahaan Diselidiki

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 20:58

HELIKOPTER CH-47 Chinook dari Jepang Tangani Karhutla Mulai 12 September

Senin, 7 September 2026 - 23:11

SAWIT Muncul di Bekas Karhutla Kalbar

Senin, 7 September 2026 - 22:12

POLRI Tetapkan 138 Tersangka Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 21:57

POLRI Diminta Proses Hukum Korporasi Terlibat Karhutla

Senin, 7 September 2026 - 21:45

SATU Ton Cairan Inovasi Karhutla Dikirim ke Kalteng

Senin, 7 September 2026 - 21:27

PRESIDEN Prabowo: Karhutla Jangan Sampai Masuk Zona Inti IKN

Senin, 7 September 2026 - 00:06

8 BANDARA Ditutup! 1.558 Penerbangan Ditunda

Minggu, 6 September 2026 - 20:13

KASUS KARHUTLA: 113 Orang Ditetapkan Tersangka

Berita Terbaru

Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026). (Foto: Antara/Auliya Rahman)

Kalteng

TATA KELOLA Air Kunci Cegah Kebakaran Lahan Gambut

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:47

Tim Gakkum dan Reskrimsus Polda Kalteng mengamankan Pelaku BG. (Foto: Istimewa)

Hukum

KEMENHUT Tangkap BG Pemodal Illegal Logging

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:40

Personel Polda Kalteng menyuntikkan cairan pemadam api surfaktan ke dalam lahan gambut yang terbakar di Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Selasa (8/9/2026). (Foto: Antara/Rajib Rizali)

Kalteng

MANFAATKAN Inovasi Cairan Surfaktan Tangani Karhutla

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:34

Personel Lanud Sjamsudin Noor saat memindahkan bahan semai ke pesawat BNPB untuk melakukan OMC. (Foto: HO-Antara)

Kalsel

OMC Semai Tiga Ton Garam

Selasa, 8 Sep 2026 - 20:28

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca