SuarIndonesia – Walaupun saat ini muncul beberapa raja dan sultan yang diragukan legitimasinya, sehingga menimbulkan kontroversi dan berurusan dengan kepolisian, namun keberadaan kerajaan-kesultanan Nusantara yang tergabung dalam organisasi resmi semakin diakui dan diapresiasi.
Sultan Banjar, Sultan Haji Khairul Saleh al-Mu’tashim Billah Maret mendatang diminta menjadi narasumber dalam Simposium World Leaders Summits 2020, yang digelar dalam rangka perayaan Dies Natalis ke-39 Universitas Islam Malang (Unisma) Jawa Timur. Simposium diisi oleh sejumlah tokoh agama dan budaya dalam dan luar negeri.
Sultan Banjar yang dihubungi SuarIndonesia.com mengatakan, beberapa tokoh yang diminta mengisi Simposium ini adalah Menkopulhukam, Ketua PB-NU, Sultan Banjar, Dubes Sudan mewakili komunitas Islam, Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia mewakili komunitas Kristen, Dubes India mewakili agama Hindu, serta Rektor Unisma sebagai tuan rumah Prof Dr H Maskuri, MSi.
Tema besar yang diangkat adalah “Religious and Cultural Harmony for International Brotherhood”.
Menurut Sultan Khairul Saleh, sesuai tema di atas maka dirinya akan menyampaikan presentasi seputar kedudukan dan hubungan antaragama dan budaya Nusantara guna memperkuat keharmonisan pergaulan dan persaudaraan internasional.
Mengutip pakar antropologi budaya Prof Dr Koentjaraningrat (alm), Sultan Banjar menyebutkan bahwa ada tiga faktor pengaruh yang menonjol terhadap corak-corak kebudayaan di Nusantara (Indonesia).
Pertama, pengaruh kebudayaan Hindu, kedua kebudayaan Islam dan ketiga kebudayaan Eropa.
Menurut Sultan, pengaruh kebudayaan Hindu seiring dengan datangnya agama Hindu ke Nusantara sekitar abad ke-5 M. Beberapa kerajaan Hindu yang menonjol di antaranya Kerajaan Kutai, Mataram Hindu, Singasari, Kediri, Majapahit, dan Padjadjaran.
Di antara indikatornya adalah adanya upacara-upacara keagamaan, struktur negara, bangunan candi, upacara-upacara kenegaraan serta kesusatraan Hindu yang masuk ke dalam kebudayaan Indonesia.
Sultan melanjutkan, pengaruh kebudayaan Islam seiring dengan datangnya agama Islam sekitar abad ke-13 M. Daerah-daerah di Indonesia yang pertama kali terpengaruh dengan kebudayaan Islam adalah daerah-daerah pesisir. Para penyiar Islam ketika itu ada yang berasal dari Turki, Palestina, Mesir, Persia, Gujarat (India) dan Tiongkok. Karena di daerah asalnya Islam yang tersebarkan banyak yang bercorak tasawuf (ada yang mengistilahkannya dengan mistik atau kebatinan), maka agama Islam yang tersebar di masa-masa awal pun banyak yang bercorak tasawuf.
Karena itu, kata Sultan, muncul para wali seperti Walisanga di Jawa dan ulama sufi di Sumatra seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.
Di masa-masa tersebut, tambah Sultan, berdirilah sejumlah Kesultanan Islam, seperti Kesultanan Samudra Pasai, Kesultanan Malaka, Kesultanan Aceh, Kesultana Demak, Kesultanan Palembang, Kesultanan Pajang, Kesultanan Mataram, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Makasaar, Kesultanan Buton, Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo, Kesultanan Bacan, Kesultanan Bima, Kesultanan Banjar, Kesultanan Kutai, Kesultanan Sintang, dan kesultanan lainnya.
Dikatakan, kesultanan-kesultanan tersebut memiliki andil besar dalam mengembangkan khazanah budaya dan peradaban Islam di bumi Nusantara. “Kami di jajaran kesultanan sering menyebutnya sebagai budaya Nusantara bercorak Melayu Islam,” lanjutnya.
“Kesultanan-kesultanan tersebut juga memiliki peran yang besar dalam mengobarkan berbagai perlawanan terhadap kolonial Portugis dan Belanda yang ingin menjajah dan menguasai bumi Nusantara,” tegas Sultan.
Kuatnya jiwa agama sebagai sumber spirit peperangan di Nusantara, menurut Sultan, diakui pula oleh Douwes Dekker alias Dr Setia Budi (1879-1952), orang Belanda yang bersimpati terhadap pergerakan dan memihak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam sebuah ceramahnya di Yogyakarta menjelang akhir hayatnya, Douwes Dekker mengatakan secara jujur: “Jika tidak karena pengaruh dan didikan agama Islam, maka patriotisme bangsa Indonesia tidak akan sehebat seperti yang diperlihatkan oleh sejarah bangsa Indonesia hingga mencapai kemerdekaan.”
Hal ini dibuktikan pula, jelas Sultan, dari 180-an orang pahlawan nasional saat ini, banyak mereka dari kalangan sultan, pangeran, gusti, raden, tumenggung, pemuka adat, ulama dan sebagainya.
Pengaruh kebudayaan Eropa, lanjut Sultan, datang ke Indonesia seiring datangnya penjajah dari Eropa yang beragama Nasrani (Katolik) seperti Protugis, Spanyol dan Kristen seperti Belanda dan Inggris.
Mereka datang pada mulanya untuk berdagang rempah-rempah, namun lambat laun berhasil menguasai monopoli perdagangan, dan pada akhirnya menjajah Indonesia dalam waktu yang lama. Di masa-masa itulah agama Kristen disebarkan di beberapa pelosok yang belum sempat diislamkan.
Jadi, kata Sultan, realitas sosial budaya dan politik hari ini tidak terlepas dari kenyataan sejarah, sehingga kita harus mengakui esksistensi agama-agama di atas, yaitu Islam, Kristen, Hindu, termasuk tentunya juga agama Budha dan Konghucu yang masuk ke Nusantara sejak berabad-abad lampau.
“Karena itu salah satu pilar negara kita adalah Bhinneka Tunggal Ika.
Kami dari kerajaan-kesultanan Nusantara memandang agama-agama dapat bersinergi dengan khazanah budaya yang ada, yaitu budaya Melayu bercorak Islam,” tandas Sultan.
Sultan mengatakan, sepanjang tidak bertentangan dengan esensi ajaran agama, maka agama dan budaya dapat menopang keharmonisan pergaulan, baik nasional maupun internasional.
“Keharmonisan dalam pergaulan nasional dan internasional dapat diwujudkan dengan mengambil sisi terdalam dari ajaran agama, khususnya Islam, yaitu ajaran tasawuf untuk dijadikan sebagai etika sosial,” tambah Sultan.
Sultan mengutip Cendekiawan muslim Indonesia Nurcholish Madjid (alm), dalam konteks ini menyarankan perlunya etika sosial yang bersumber dari formula takhallaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah). Akhlak Allah sesuai dengan Asma dan Sifat-Nya, di antaranya mengasihi dan menyayangi (Rahman dan Rahim) untuk semua orang di dunia tanpa pilih kasih apakah ia muslim atau nonmuslim.
“Bahkan hewan dan tumbuhan pun termasuk makhluk yang disayang Allah. Allah turunkan hujan, tumbuhkan pohon, hidupkan ternak, makmurkan rezeki, tidak saja terhadap kaum muslimin, tetapi juga nonmuslim, flora dan fauna, organik dan anorganik,” ujar Sultan.
Sultan berharap persaudaraan antarmanusia dan antarbangsa di dunia semakin kuat. Eksploitasi manusia oleh manusia, bangsa atas bangsa, yang masih terjadi di beberapa belahan dunia saat ini menjadi keprihatinan tersendiri.
“Karena hal itu sesungguhnya sangat mengganggu keharmonisan dan merusak persaudaraan internasional antarmanusia dan antarbangsa,” lanjut Sultan lagi.
Mengakhiri perbincangannya dengan koran ini, Sultan tidak lupa mengingatkan, bahwa kerajaan dan kesultanan Nusantara dulu telah mewakafkan hidup matinya, harta-bendanya dan wilayah kekuasaannya, untuk perjuangan kemerdekaan melawan penjajah dalam rangka mewujudkan NKRI yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke.
Sekarang umumnya kerajaan dan kesultanan itu tidak memiliki apa-apa lagi, baik kekuasaan politik, wilayah geografi, bahkan istana atau keratonnya pun banyak yang hancur. “Yang ada adalah keturunannya yang bangkit di ranah budaya didukung keinginan untuk berpartisiasi membangun NKRI ke depan yang lebih baik,” ungkap Sultan.
Karena itu, Sultan berharap, pemerintah RI di pusat dan daerah seyogianya memberikan dukungan signifikan, supaya kebangkitan kerajaan dan kesultanan di ranah budaya saat ini dapat memerankan fungsinya secara optimal.(RA)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















