SuarIndonesia – Saat ini tercatat kasus inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalsel telah mencapai 8.696. Ditengarai peningkatan kasus ISPA di banua disebabkan kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Banjarbaru menjadi kota paling rentan terjadi karhutla. Luasan lahan dan hutan yang terbakar juga berada di urutan pertama dibanding kabupaten lainnya di Kalsel.
Dalam beberapa pekan ke belakang, kabut asap juga sering menyelimuti ibu kota provinsi Kalsel ini. Meski begitu, kasus ISPA di Banjarbaru bisa dibilang tidak menjadi yang terparah meski dari kejadian karhutla daerah Ibukota Provinsi ini adalah yang terparah. 
Sekretaris Dinkes Kalsel, Sukamto
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, Banjarbaru berada di urutan 6 kasus tertinggi ISPA dengan jumlah kasus 497.
Daerah dengan kasus paling tinggi adalahan Hulu Sungai Tengah (HST) dengan jumlah 2.070 kasus. Urutan kedua Kabupaten Balangan dengan jumlah 1.431 kasus, kemudian Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan jumlah 1.171 diikuti Kabupaten Banjar 1.138 kasus.
Selanjutnya Banjarmasin sebanyak 979 kasus, lalu Kabupaten Tabalong dengan jumlah kasus 329 dan Tanah Laut sebanyak 282 kasus. Kemudian Hulu Sungai Selatan sebanyak 231 kasus.
Kabupaten Tapin sebanyak 181 kasus dan Kotabaru sebanyak 176 kasus diikuti Tanah Bumbu 140 kasus. Sementara Barito Kuala menjadi kabupaten paling rendah kasus ISPA dengan jumlah 71.
“Data ini dari laporan semua kabupaten/kota di Banua soal kasus ISPA. Kami tidak ada data rinci jenis-jenisnya, karena dari kab/kota data agregat/komulatif saja,” kata Sekretaris Dinkes Kalsel, Sukamto.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















