Prof M Uhaib As’ad: Politik Uang Tumbuhkan Predator

- Penulis

Sabtu, 9 Februari 2019 - 03:10

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarindonesia – Jangan sampai demokrasi menjadi demokrasi oligarki, yang mana demokrasi ini hanya dikuasai oleh penguasa-penguasa yang memiliki modal.

Ahli Politik dari Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin, Prof Muhammad Uhaib As’ad MSi, mengutip dari teori Hannah Arendt, yang menyebutkan politik uang akan menghasilkan sebuah demokrasi yang diisi oleh orang-orang predator yang mementingkan kepentingan dirinya dan kehilangan akal sehat serta rasional politiknya sudah hilang dan hanya menimbulkan pragmatisme dan politik instan.

“Jangan sampai demokrasi kita menjadi demokrasi oligarki yang mana demokrasi ini hanya dikuasai oleh penguasa-penguasa yang memiliki modal. Katakanlah kita mau calon dewan, ini susah sekali menjadi calon dewan karena harus perlu modal besar ditambah lagi pragmatisme masyarakat yang hanya uang-uang saja, ini problem demokrasi kita,” ungkap Uhaib kepada awak, Kamis (07/02/2019) .

Bahkan Prof Uhaib mengaku dari hasil riset dilakukannya dari tahun 2013 sampai 2018 di Kalimantan Selatan kapitalisasi demokratis sudah terstruktur di bawah alam sadar kita yang diakibatkan dari salah setting demokrasi dari awal bahwa kekuasaan itu harus dikuasai oleh uang, bukan karena pilihan rasional.

Politik dengan uang adalah dua hal yang begitu dekat sampai ada istilah ‘money politic’ atau politik uang, dan tidak hanya merambah di perkotaan, namun sampai ke pedesaan mulai dari golongan elit sampai golongan sederhana semua mengenal politik uang.

Lantas apakah politik uang dibenarkan? Atau malah menjadi senjata dari seorang predator yang sebenarnya hanya retorika belaka untuk meraup dukungan dan suara dari masyarakat sesuai kepentingan predator itu sendiri.

Dijkatakan dosen Unika ini, tidak ada satu alasan apa pun yang membenarkan politik uang, Bahkan menurutnya politik uang hanya merupakan senjata bagi aktor-aktor yang ingin bermain dalam pusaran kepentingan kelompok dan partai yang dinilai sangat tidak mencerdaskan.

Baca Juga :   GUBERNUR KALSEL Paman Birin, Bikin Heboh dan Sekaligus Haru Pegawai

“Idealnya wakil rakyat ini adalah yang mengangkat hak asasi rakyat, bukan mengangkat hak-hak kelompok atau kepentingan partai. Begini yang disebut banalitas demokrasi yang dimaksudkan demokrasi di negeri kita ini seperti politik yang dijalankan di tengah kerumunan pasar. Politik diposisikan seperti pasar dan rakyat adalah kerumunan, lalu keramaian kerumunan pasar itu terjadi dalam siklus politik lima tahun sekali, terutama pada masa kampanye dan pemungutan suara, selalu seperti ini” ucapnya .

Ia mengaku hanya membangun civil society yang dapat membantu menyadarkan masyarakat dari alam bawah sadarnya bahwa politik uang sangat berbahaya karena hanya akan menimbulkan predator yang mementingkan kepentingan kelompok dan partainya saja dengan menggunakan senjata politik uang.

“Kita harus sadar ini, lambat laun tidak ada politik uang yang benar. Karena dengan cara mencari dukungan saja sudah salah, mari kita cerdas dalam memilih untuk menentukan suatu pilihan yang memiliki integritas yang tinggi dan tanpa memainkan namanya politik uang,” pungkasnya.

Lebih lanjut Prof Uhaib memaparkan untuk sekarang jangan berharap institusi demokrasi dapat memberikan hal yang lebih dalam memberikan pencerahan demokrasi yang baik bagi rakyat. Bahkan sangat kecil harapan untuk berharap agar rakyat dapat pencerahan dari institusi demokrasi di negeri ini.

“Katakanlah partai partai politik, lembaga demokrasi di DPR ini semua tidak maksimal merespon situasi politik sosial ekonomi masyarakat. Ini ada yang harus dibenahi dari awal agar tidak tersetting ke depannya marak dengan politik disertai uang. Karena ini akan menimbulkan demokrasi yang tidak mencerdaskan baik bagi rakyat maupun bagi anggota dewan itu sendiri,” katanya.(SU)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

WALI KOTA BANJARBARU Sertakan Rombongan Lurah dan Camat ke Kementerian LH RI
DUA TERDAKWA di BRI Cabang Tabalong “Telah Meraup” 4,8 Miliar
UNISKA MAB Tambah Guru Besar, Rektor Zainul Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor ke-17
DISERAHKAN SK PENETAPAN dari DPP untuk Kepengurusan DPD PAN se-Kalsel
HANTARKAN ASPIRASI, Sekaligus DPRD Kalsel Berdialog dengan DPR RI
SEORANG PEMUDA Warga AKT Banjarmasin Tewas Ditikam Sepulang dari Lokasi Memancing Ikan
DIGEREBEK Tambang Emas Ilegal di Tahura Sultan Adam, Situasi Sempat Tegang
STOK BBM Indonesia Aman karena Punya Sumber Minyak Baru

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 23:07

WALI KOTA BANJARBARU Sertakan Rombongan Lurah dan Camat ke Kementerian LH RI

Kamis, 2 April 2026 - 22:15

DUA TERDAKWA di BRI Cabang Tabalong “Telah Meraup” 4,8 Miliar

Kamis, 2 April 2026 - 21:58

PEREMPUAN BERBAJU MERAH Kebingungan Motornya Mogok di Tengah Padat Arus, Kasat Lantas Sigap Mendorong

Kamis, 2 April 2026 - 21:41

AKSI KAMISAN di Tengah Guyuran Hujan dengan Pengawalan – Pelayanan Polresta Banjarmasin

Kamis, 2 April 2026 - 21:22

UNISKA MAB Tambah Guru Besar, Rektor Zainul Resmi Dikukuhkan sebagai Profesor ke-17

Kamis, 2 April 2026 - 16:22

NENEK SIMPAN JASAD Putrinya dalam Freezer

Kamis, 2 April 2026 - 13:08

HANTARKAN ASPIRASI, Sekaligus DPRD Kalsel Berdialog dengan DPR RI

Rabu, 1 April 2026 - 23:53

DUA PEMAIN SABU Disergap Polisi, Sempat Membuang Barang Bukti

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca