NOORCHALIS MAJID: Peran Ibnu Bikin Film JSS Bernuansa Politisasi

SuarIndonesia – Mantan Ketua Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan Noorchalis Majid angkat bicara mengenai polemik pembuatan film Jendela Seribu Sungai yang digarap oleh Pemerintah Kota Banjarmasin.

Pemerhati kebijakan pemerintah itu secara tegas menilai, dana APBD yang dikucurkan sebesar Rp6,6 miliar hanya demi mewujudkan promosi wisata melalui satu film juga sangat besar.

“Kalau diserahkan kepada sineas banua kota, uang senilai itu bisa jadi enam film. Sangat besar dana itu,” tegasnya saat ditemui awak media di kediamannya, Kamis (17/11/2022).

Bahkan di sisi lain, Noorchalis Majid mengatakan bahwa film tersebut akan sangat mudah dinilai negatif oleh masyarakat akibat adanya peran seorang politisi dalam film tersebut.

Namun ia mengaku memahami tujuan pembuatan film tersebut merupakan upaya promosi wisata yang menjadi alasan utama.

Dan menurutnya memang ada film-film yang sejenis seperti laskar pelangi, jika argumen yang jadi alasan pembuatan adalah untuk meningkatkan pariwisata dari suatu daerah.

Karena dengan laskar pelangi, peningkatan pengunjung di Bangka Belitung sangat meningkat pesat. Bahkan kunjungan wisata ke daerah itu peningkatannya sampai sebesar 18.000 kali lipat.

Tapi kalau film ini memang diniatkan untuk itu, ia menegaskan semestinya jangan ada bagian yang dilakukan wali kota dalam film.

Pertama, jadikan ini sebagai ajang bagi seniman lokal, mulai dari pemerannya sampai ke produksi filmnya.

Kedua, film ini harus memang benar-benar mengangkat profil Kota Banjarmasin sebagai kota wisata. Jangan memuat atau bahkan mengangkat peran ketokohan seseorang di dalamnya.

Apalagi wali kotanya sendiri juga ikut main dalam film tersebut.

Hal tersebut menurutnya akan membuat film yang awalnya diharapkan menjadi sarana dalam upaya mempromosikan kepariwisataan menjadi tidak menarik

Bukan tanpa alasan, ia menilai bahwa niat baik tersebut dipastikan akan tertutup malah bisa saja terhapus gara-gara adanya keterlibatan peran Ibnu Sina dalam film.

“Karena orang akan berpikir kalau pembuatan film itu hanya untuk kepentingan seseorang,” ujarnya.

Apalagi, uang untuk membuat film ini sumbernya dari dana APBD daerah. Jika dalam konteks audit, hal itu menurutnya akan menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat.

“Masyarakat akan berpikir kalau film itu akan menjadi feedback politik bagi di wali kota akibat perannya dalam film tersebut,” cecarnya.

Lantas, apalah memang bisa film ini menjadi alat politik bagi seseorang?

Terkait hal itu, Noorhalis menyebut bahwa sangat mungkin hal itu terjadi. Pasalnya jika berbicara masalah politik, maka segala apa pun akan terjadi. Termasuk mempolitisasi kegiatan ddi lingkungan pemerintah daerah.

“Itu sudah menjadi hal yang umum,” ungkapnya.

“Karena, kebijakan melakukan memajukan wisata melalui film ini juga merupakan kebijakan politik. Tapi kalau di dalam film ada peran Ibnu Sina tidak menutup kemungkinan ada masyarakat yang berpikir kalau film ini ditunggangi oleh tokoh politik,” pungkasnya.(SU)

 625 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.