Suarindonesia – Kalsel sebagai salah satu kandidat calon Ibu Kota Negara (IKN) baru harus siap dari segi sosial dan penyediaan lahan
Pemindahan Ibu Kota ke salah satu dari tiga kandidat di Kalimantan hampir pasti dilaksanakan, sebab pemindahan dari Pulau Jawa mutlak harua dilaksanakan.
Hal itu berkaitan dengan daya dukung Pulau Jawa yang sudah semakin menipis, sementara lonjakan populasi terus terjadi.
Terkait lahan, sebagaimana disampaikan Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, sudah disiapkan 300 ribu hektare di dua titik berbeda.
Lantas bagaimana dengan kesiapan masyarakat Kalsel untuk menjadi ibu kota, sebab jika memang ditetapkan maka terjadi multi etnis. Dua masyarakat dayak menyatakan dukungan terhadap rencana pemindahan ibu kota ke Kalsel.
Sebagaimana disampaikan Roby anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Hulu Sungai Tengah (HST) pada Dialog Nasional Pemindahan Ibukota Negara : Kalimantan untuk Indonesia “menuju ibukota masa depan : smart, green, beautiful, dan sustainable” di Hotel Novotel, Senin (15/7) lalu.
Menurutnya, jika dipindahkan ke Kalsel pihaknya sangat mendukung.
Bahkan terkait sara dan etnis pihaknya tidak akan tutup mata.
“Kami tentunya mendukung penuh pemindahan ibu kota ke Kalsel,” ujarnya.
Ia hanya meminta sebagai salah satu masyarakat asli Kalsel untuk lebih diperhatikan.
“Terutama terkait peraturan yang mengakui hutan adat kami,” bebernya.
Senada, Ketua DPH Aman Kalsel, Yulius juga menyatakan demikian.
Ia mengaku juga sangat mendukung pemindahan ibu kota ke Kalsel.
Sisi lain tentunya, jika itu nyata adanya minta pengakuan sebagai masyarakat adat.
“Yang kami minta hanya pengakuan sebagai masyarakat adat, karena kami hidup sudah turun temurun,” tegasnya. (RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















