SuarIndonesia — Pasar Inai di Malinau, Kalimantan Utara menjadi salah satu tempat belanja andalan warga setempat. Setiap pagi banyak hasil tangkapan sungai yang masih segar-segar, dijajakan oleh pedagang.
Hari Jumat (30/1/2026) pagi, suasana di Pasar Induk Malinau ramai seperti biasanya. Di bagian dalamnya disiapkan tempat untuk pedagang-pedagang dari kampung sekitar, inilah disebut Pasar Inai.
Banyak penduduk lokal berbelanja di sini. Satu hal yang membuat pasar ini menarik adalah pembeli bisa dapat sayur-mayur lokal hasil hutan atau kebun warga yang tidak umum dijual di pasar Induk. Termasuk buah-buahan, hingga ikan hasil tangkapan sungainya pun beda.
Seorang warga Kota Malinau Kota, Labo (55) menceritakan pengalamannya berbelanja di Pasar Inai hari ini. Bisa dibilang, pagi ini ia cukup beruntung bisa membawa pulang seekor ikan gabus (Channa striata) berukuran jumbo.
Ikan yang dalam bahasa lokal disebut ‘Udun’ ini memiliki bobot bersih mencapai 4,1 kilogram. Labo mendapatkan ikan tersebut saat berbelanja di Pasar Inai.
Menurut cerita penjual, ikan gabus ‘raksasa’ ini ditangkap di salah satu anak Sungai Malinau. Ukurannya yang tak lazim membuat ikan ini menjadi perhatian.
“Ikan ini hasil selam atau dipanah. Para nelayan lokal memanfaatkan kesempatan mencari ikan dengan menyelam, karena musim kemarau yang cukup panjang air sungai menjadi jernih,” cerita Labo.
Sekedar diketahui, Pasar Inai adalah pasar tradisional khas yang terletak di Kalimantan Utara khususnya Malinau dan beberapa titik di Tarakan. Mayoritas pedagang di sini adalah ibu-ibu, sehingga disebut Pasar ‘Inai’ yang dalam bahasa Dayak berarti ibu.
Ibu-ibu Dayak di pasar ini menjual hasil alam dari tanah Kalimantan tergantung musimnya. Adapun yang dijual seperti hasil tani dan ladang, hingga hasil kebun organik lokal seperti umbut dan ikan sungai.
Bagi Labo, menemukan ikan gabus dengan ukuran sebesar ini adalah kejadian langka. Ia mengaku sudah puluhan tahun tidak melihat gabus dengan bobot di atas 4 kilogram.
“Cukup sulit menemukan ikan dengan size seperti sekarang. Terakhir kali lihat ikan gabus sebesar ini 30 tahun lalu di Sungai Bia, Kecamatan Peso, Bulungan,” kenangnya.
Ikan tersebut dibeli Labo dengan harga Rp 65.000 per kilogram. Ia menjelaskan bahwa berat 4,1 kg tersebut adalah berat bersih setelah ikan disiangi atau dibersihkan isi perutnya.
Awalnya, Labo berniat memelihara ikan tersebut jika kondisinya masih hidup. Namun, karena saat dibeli ikan sudah mati, ia memutuskan untuk mengolahnya menjadi masakan.
“Sayang rasanya mau dimasak. Ikannya kalau masih hidup mau dipelihara, tapi saat dibeli sudah mati,” tutur Labo dilansir dari detikKalimantan.
Menurut Labo, selain rasa dagingnya yang enak, gurih, dan minim duri, ikan gabus dikenal memiliki manfaat kesehatan. Banyak warga percaya ikan ini berkhasiat mempercepat penyembuhan luka, terutama setelah operasi.
Lebih lanjut, Labo menilai keberadaan ikan predator berukuran besar ini membawa pesan positif mengenai kondisi lingkungan di Malinau. Menurutnya, hal ini menandakan habitat sungai tersebut masih alami.
“Kalau melihat ikan dengan ukuran ini, bisa juga dikatakan bahwa sungai tempat didapatnya ikan ini masih terjaga atau terhindar dari aktivitas menangkap ikan dengan cara-cara yang salah. Aman dari menyetrum dan meracun,” pungkasnya. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















