SuarIndonesia — Tim DVI Polda Kalimantan Selatan mengidentifikasi empat korban KM Virgo Transport 8. Tiga dari empat jenazah korban berasal dari Jawa Tengah.
Identitas Enam Korban Teridentifikasi:
1. Edi Setiyono, laki-laki asal Batang, Jawa Tengah.
2. Widianto, laki-laki asal Banyumas, Jawa Tengah.
3. Sri Wahyono, laki-laki asal Sukoharjo, Jawa Tengah.
4. Rahmat Dani, laki-laki asal Tangerang, Banten.
5. Suroso, laki-laki asal Pamekasan, Jawa Timur.
6. Soni Marta Andika, laki-laki asal Banyuwangi, Jawa Timur.
Melansir detikKalimantan, Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes dr Moch Sofwan menjelaskan ada satu jenazah teridentifikasi melalui DNA. Yakni atas nama Widianto.
Sementara itu sisanya, teridentifikasi melalui ciri sekunder medis dan properti yang ada di tubuh para korban. Dengan teridentifikasinya empat korban tambahan, maka jumlah korban yang belum teridentifikasi sebanyak 13 jenazah.
“Total kantung jenazah yang tim DVI terima ada 82 kantung, sebanyak 69 telah teridentifikasi dan 13 masih dalam proses,” pungkasnya.
Pihak DVI pun langsung melakukan penyerahan jenazah kepada pihak keluarga.
Sementara untuk proses pemulangan jenazah ditanggung biaya sepenuhnya oleh pihak manajemen Kapal Virgo.
Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Nur Khamid turut menyampaikan harapan agar seluruh jenazah korban dapat segera ditemukan dan teridentifikasi serta mengharapkan dukungan dan kerja sama dari semua pihak untuk kelancaran pelaksanaan
proses identifikasi.
Dia pun mengimbau agar pihak keluarga bisa bersabar bagi yang masih belum ditemukan ataupun menunggu proses identifikasi.
15 sampel DNA korban dikirim
Sementara itu, dilansir dari Antara, Tim DVI Polda Kalsel mengirimkan 15 sampel DNA (Deoxyribonucleic Acid) korban Kapal Virgo Transport 8 ke Laboratorium DNA di Pusdokkes Polri di Jakarta, untuk mengetahui identitas korban.
“15 korban yang belum teridentifikasi masih menunggu hasil DNA yang sudah dikirim ke Jakarta,” kata Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr Much Sofwan di Banjarmasin, Selasa (6/10/2026).
Dia menjelaskan tes DNA diperlukan lantaran kondisi fisik jasad sudah rusak dan tidak bisa dilakukan data pembanding ante mortem dari keluarga seperti ciri medis dan properti.
Oleh karena itu, langkah terakhir mengidentifikasi jasad dengan mencocokkan sampel genetika dari jenazah dengan data pembanding dari keluarga kandung.
“Untuk pembandingnya sudah kami kumpulkan dari sampel darah atau usap mukosa bukal orang tua, anak kandung, atau saudara kandung korban untuk dicocokkan,” jelas Sofwan. (*/ut)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















