Suarindonesia – Kalau diliuhat pada tahun 2018 lalu, sektor pertambangan mendominais investasi di Kalsel, jumlahnya U$D54,634 juta hanya kalah dari sektor listrik, gas, dan air, dengan nilai U$D67,508 juta.
Mendominasinya sektor pertambangan, membuat investasi lebih banyak di Kabupaten Tabalong dan Tanah Bumbu, atau daerah penghasil tambang.
Berbeda dengan 2018, pada 2019 ini investasi tertinggi bergeser ke Kota Banjarmasin, sebab yang mendominasi dari sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi senilai Rp1,53 triliun. Tahun lalu sektor ini berada di urutan ke 4 dengan nilai U$D1, 891 juta.
Kendati demikian, menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalsel, Nafarin, Senin (17/6), bisa saja berubah di akhir tahun jika harha batubara sudah menggeliat lagi.
Ia mengatakan, investasi pertambangan erat kaitannya dengan harga pasar batubara.
Nafarin mengatakan, triwulan pertama investasi di Kalsel tahun 2019 didomimaso Penanam Modal Asing (PMA) dari Malaysia dengan nilai Rp1,53 triliun dengan 8 proyek.
Disusul Korea Selatan, Rp0,43 triliun dengan lima proyek, kemudian Singapura, Rp0,13 triliun dengan 26 proyek, sedangkan sisanya dari Thailand, RRC, dan British Virgin Island.
“Triwulan pertama PMA nilainya Rp2,4 triliun dengan 66 proyek di 13 kabupaten kota se Kalsel.
Investasi yang belum masuk dari Taiwan, India Jepang, dan Hongkong,” bebernya.
Adapun sektor Penanaman Modal Dalam Negari (PMDN) yang mendominasi juga bukan sektor pertambangan, melainkan dari sektor perdagangan dan reparasi, sekitar Rp347 miliar.
Nilai investasi PMDN hingga kini Rp0,62 triliun dengan total 138 proyek di Kalsel.
“Dari PMDN ini lokasi investasi ya lebih banyak berada di Kabupaten Banjar, nilianya Rp401,5 Miliar, disusul
kedua Banjarmasin Rp109,73 miliar,” papar Nafarin.
Masih menurut Nafarin, posisi Kalsel dari sektor investasi ini berada diperingkat 20 dari 34 Provinsi, sedangkan PMA Kalsel bertengger diperingkat 12 dari 34 Provinsi se Indonesia.
Secara keseluruhan, kata Nafarin, investasi Kalsel di tahun 2019 ini ditarget Rp10.5 triliun.
“Di triwulan pertama hingga Mei kemarin baru terekam Rp3,06 triliun,” kata dia.
Dia menjelaskan target itu meningkat dari sebelumnya Rp 9,2 triliun sesuai renstra RPJMD, sebab realisasi tahun lalu Rp11,7 triliun. (RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















