SuarIndonesia – Para Sejumlah sopir angkutan umum di Martapura, mengeluh.
Terkait banyaknya halte/bus stop Trans Banjarbakula.
Keluhan sejumlah sopir jarak antar halte terlalu dekat.
Kondisi itu membuat peluang mendapatkan penumpang semakin berkurang.
Jika dihitung, jumlah halte/bus stop dari batas kota Martapura-Banjarbaru mencapai 10 titik.
Mulai dari depan SMPN 3 Martapura. Lalu di depan Guest House Sultan Sulaiman. Tak jauh dari sama tepatnya depan Pasar Sekumpul satu halte lagi.
Selanjutnya bergeser ke depan SMPN 1 Martapura, lalu depan SMAN 1 Martapura. Halte selanjutnya di depan Bank Kalsel Martapura lalu depan kantor Bupati Banjar.
Kemudian, depan Indomaret seberang pasar Batuah Martapura.
Selanjutnya di depan Gang Assalam dan terakhir di Ponpes Darussalam Martapura.
Begitupula arah sebaliknya dari Martapura ke Banjarbaru. Posisi halte berseberangan atau sedikit bergeser.
Sejumlah sopir angkutan umum berharap jarak halte tidak terlalu dekat.
Dengan begitu peluang mendapatkan penumpang masih terbuka.
Jika terlalu dekat, maka penumpang lebih memilih menggunakan bus yang notabene lebih nyaman dilengkapi pendingin ruangan.
Pemerintah Kabupaten Banjar memang sudah memfasilitasi keberadaan sopir angkutan umum.
Dengan menjadikan angkutan feeder. Rutenya baru ada dua.
Arah ke simpang 3 Bincau melewati Jalan Sekumpul.
Serta arah ke Cindai Alus.
“Belum semua sopir angkot yang diberdayakan jadi angkutan feeder. Baru 20 armada dari total kurang lebih 50an.
Sebagian masih mencari penumpang di jalan,” ujar Fathur, salah satu sopir angkutan umum.
Sejumlah sopir berharap ada kebijakan pemerintah. Terkait jumlah halte. Jaraknya diperpanjang.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kalsel, M. Fitri Hernadi, menyatakan titik halte atau bus stop berdasarkan kajian.
Menurutnya, jika dalam jarak 2 kilometer (km) tidak ada halte maka pelayanan kepada masyarakat tidak maksimal.
“Kalau jaraknya jauh kesian penumpang jalan kaki,” ujar Fitri, Selasa (13/5/2025).
Ia menyebut halte didirikan berdasarkan survey. Jika pada titik tertentu terdapat fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, rumah sakit, pasar, dan lainnya maka di sana disiapkan halte atau bus stop.
“Jika sekolah berdekatan dengan pasar maka halte digeser ke titik yang lebih dekat dengan pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan pihaknya siap menggeser atau menghikangkan halte.
Dengan catatan ada kajian terbaru dari Dishub setempat. Jika dari kajian kurang ideal maka titik halte bisa digeser.
“Kami siap menggeser halte jika ada kajian dari Dishub setempat. Dulu izin halte di Kementerian. Sekarang di kita sudah bisa,” tutupnya.(RW)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















