Ilustrasi kegiatan orang di masa pandemi Corona.(Dok.SuarIndonesia)
SuarIndonesia – Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan Indonesia belum memasuki fase puncak gelombang pertama pandemi virus Corona (COVID-19). Menurut prediksinya, angka penyebaran COVID-19 bisa belum akan selesai hingga akhir tahun.
“Kita belum mencapai gelombang pertama. Sekarang rambunya masih naik-naik ke puncak gunung. Gunung ini yang menurut saya harus kita sadari. Sampai akhir tahun pun kalau prediksi saya kalau kita tidak berubah cepat ya belum selesai,” kata Pandu dalam diskusi Polemik bertajuk ‘COVID-19 dan Ketidaknormalan Baru’, Sabtu (11/7/2020).
Menurut Pandu secara nasional, peningkatan COVID-19 di Indonesia masih naik. Menurutnya, puncak dari pandemi COVID-19 juga dapat terjadi hingga dua kali.
“Kita secara nasional tuh lagi naik ke puncak gunung nih. Tapi bisa saja kayak Jakarta puncaknya dua kali. Sudah naik, kemudian turun, kemudian naik lagi karena pergerakan penduduk selama Lebaran tuh mudik dan arus mudik balik yang jauh lebih besar,” kata Pandu diliris dari detikcom.
Pandu juga mengatakan gelombang kedua dapat terjadi apabila Indonesia telah melewati fase gelombang pertama COVID-19. Menurutnya, gelombang kedua berpotensi terjadi dalam klister-klaster tertentu.
“Ya gelombang kedua itu terjadi kalau gelombang pertama sudah selesai. Yang disebut the second wave setelah gelombang pertama itu selesai, dan pada waktu yang cukup lama gitu, seminggu dua minggu, tiba-tiba meningkat lagi. Itu terjadi tapi sifatnya mungkin klister-klaster,” ujar Pandu.
Dia pun mengimbau agar klister-klaster yang ada dapat diedukasi agar dapat mengantisipasi adanya gelombang kedua. “Jadi klister-klaster itu potensial, klaster-klaster itu sekarang tuh harus diedukasi supaya mereka jangan jadi sumber penularan,” ungkap Pandu.
Pandu mengatakan tanpa adanya tes yang akurat akan menghambat proses penurunan angka penyebaran COVID-19. Dia pun menyoroti tes massal COVID-19 yang dinggap kurang efektif karena hanya mendeteksi antibody terkait virus Corona.
“Caranya dengan tes yang akurat. Tanpa itu kita akan terhambat. Misalnya ya sekarang banyak dipakai tes masal. Banyak orang yang tiba-tiba terlibat dengan menggunakan untuk mendeteksi antibody bukan virus. Antibody itu terbentuk seminggu 10 hari setelah orang terinfeksi. Makanya dalam minggu pertama hasilnya akan non-reaktif,” kata Pandu.
Lebih lanjut, Pandu mengatakan orang yang reaktif saat dites belum tentu memiliki virus COVID-19, begitu juga sebaliknya. Menurutnya orang tersebut masih perlu melakukan tes PCR lanjutan agar mendapat hasil yang akurat.
Pandu mengatakan tes masal yang hasilnya masih belum akurat dapat mengacaukan rantai penularan COVID-19. Dia pun meminta agar masyarakat tidak membuang-buang uang untuk melakukan tes yang belum tentu akurat.
“Reaktif belum tentu orang itu mempunyai virus karena yang dites itu antibody sehingga perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR. Banyak orang yang reaktif sudah tidak lagi ada virusnya. Memang dia ada riwayat terinfeki 2 atau 3 minggu lalu, sehingga apapun hasilnya itu mengacaukan rantai penularan,” kata Pandu.
“Kita akan bergerak cepat untuk memutus rantai penularan sehingga harus memfokuskan pada pemeriksaan-pemeriksaan yang sangat akurat mengenai keterbatasan, mengenai kemampuan. Kita bisa atasi. Jangan buang-buang uang untuk hal-hal yang tidak akurat. Kita akan terhambat,” tutur Pandu.(RA)
Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















