CORONA INDONESIA Penyebarannya Masih Naik, Belum Puncak, kata Pakar Epidemiologi

- Penulis

Sabtu, 11 Juli 2020 - 17:37

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kegiatan orang di masa pandemi Corona.(Dok.SuarIndonesia)

SuarIndonesia – Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan Indonesia belum memasuki fase puncak gelombang pertama pandemi virus Corona (COVID-19). Menurut prediksinya, angka penyebaran COVID-19 bisa belum akan selesai hingga akhir tahun.

“Kita belum mencapai gelombang pertama. Sekarang rambunya masih naik-naik ke puncak gunung. Gunung ini yang menurut saya harus kita sadari. Sampai akhir tahun pun kalau prediksi saya kalau kita tidak berubah cepat ya belum selesai,” kata Pandu dalam diskusi Polemik bertajuk ‘COVID-19 dan Ketidaknormalan Baru’, Sabtu (11/7/2020).

Menurut Pandu secara nasional, peningkatan COVID-19 di Indonesia masih naik. Menurutnya, puncak dari pandemi COVID-19 juga dapat terjadi hingga dua kali.

“Kita secara nasional tuh lagi naik ke puncak gunung nih. Tapi bisa saja kayak Jakarta puncaknya dua kali. Sudah naik, kemudian turun, kemudian naik lagi karena pergerakan penduduk selama Lebaran tuh mudik dan arus mudik balik yang jauh lebih besar,” kata Pandu diliris dari detikcom.

Pandu juga mengatakan gelombang kedua dapat terjadi apabila Indonesia telah melewati fase gelombang pertama COVID-19. Menurutnya, gelombang kedua berpotensi terjadi dalam klister-klaster tertentu.

“Ya gelombang kedua itu terjadi kalau gelombang pertama sudah selesai. Yang disebut the second wave setelah gelombang pertama itu selesai, dan pada waktu yang cukup lama gitu, seminggu dua minggu, tiba-tiba meningkat lagi. Itu terjadi tapi sifatnya mungkin klister-klaster,” ujar Pandu.

Dia pun mengimbau agar klister-klaster yang ada dapat diedukasi agar dapat mengantisipasi adanya gelombang kedua. “Jadi klister-klaster itu potensial, klaster-klaster itu sekarang tuh harus diedukasi supaya mereka jangan jadi sumber penularan,” ungkap Pandu.

Baca Juga :   SOLID di Debat Kedua, Bang Rizal dan Ustaz Rosyadi Sukses Tepis Serangan Paslon Satu

Pandu mengatakan tanpa adanya tes yang akurat akan menghambat proses penurunan angka penyebaran COVID-19. Dia pun menyoroti tes massal COVID-19 yang dinggap kurang efektif karena hanya mendeteksi antibody terkait virus Corona.

“Caranya dengan tes yang akurat. Tanpa itu kita akan terhambat. Misalnya ya sekarang banyak dipakai tes masal. Banyak orang yang tiba-tiba terlibat dengan menggunakan untuk mendeteksi antibody bukan virus. Antibody itu terbentuk seminggu 10 hari setelah orang terinfeksi. Makanya dalam minggu pertama hasilnya akan non-reaktif,” kata Pandu.

Lebih lanjut, Pandu mengatakan orang yang reaktif saat dites belum tentu memiliki virus COVID-19, begitu juga sebaliknya. Menurutnya orang tersebut masih perlu melakukan tes PCR lanjutan agar mendapat hasil yang akurat.

Pandu mengatakan tes masal yang hasilnya masih belum akurat dapat mengacaukan rantai penularan COVID-19. Dia pun meminta agar masyarakat tidak membuang-buang uang untuk melakukan tes yang belum tentu akurat.

“Reaktif belum tentu orang itu mempunyai virus karena yang dites itu antibody sehingga perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR. Banyak orang yang reaktif sudah tidak lagi ada virusnya. Memang dia ada riwayat terinfeki 2 atau 3 minggu lalu, sehingga apapun hasilnya itu mengacaukan rantai penularan,” kata Pandu.

“Kita akan bergerak cepat untuk memutus rantai penularan sehingga harus memfokuskan pada pemeriksaan-pemeriksaan yang sangat akurat mengenai keterbatasan, mengenai kemampuan. Kita bisa atasi. Jangan buang-buang uang untuk hal-hal yang tidak akurat. Kita akan terhambat,” tutur Pandu.(RA)

Komentar Facebook

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berita Terkait

POLRI akan Miskinkan Pengoplos LPG dengan Pasal TPPU
SKK MIGAS Temukan 13 Sumur dengan Cadangan Minyak 1 Juta Barel
MULAI Hari ini, Harga Solar dan Pertamax Turbo Naik!
ANGGOTA DPRD KALSEL Angkat Bicara Soal Keresahan Tarif Listrik Tiba-tiba “Menyengat”
PULUHAN TERSANGKA Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi Diungkap Polda Kalsel, Begini Modusnya
TERBAKAR-AMBRUK Kios Pedagang Bawang dan Sembako di Pasar Baru Banjarmasin
MENSOS Syaifullah: Pengadaan Sekolah Rakyat Bebas dari Korupsi
BARITO PUTERA Gagal ke Super League

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 20:09

OTONOMI DAERAH Wujudkan Kemandirian Kelola Potensi

Senin, 4 Mei 2026 - 20:04

POLRI akan Miskinkan Pengoplos LPG dengan Pasal TPPU

Senin, 4 Mei 2026 - 19:55

SKK MIGAS Temukan 13 Sumur dengan Cadangan Minyak 1 Juta Barel

Senin, 4 Mei 2026 - 19:49

MULAI Hari ini, Harga Solar dan Pertamax Turbo Naik!

Senin, 4 Mei 2026 - 16:04

PIMPIN PERBAKIN KALSEL; Rais Ruhayat Targetkan Kebangkitan Prestasi

Senin, 4 Mei 2026 - 15:25

PULUHAN TERSANGKA Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi Diungkap Polda Kalsel, Begini Modusnya

Senin, 4 Mei 2026 - 13:41

TERBAKAR-AMBRUK Kios Pedagang Bawang dan Sembako di Pasar Baru Banjarmasin

Minggu, 3 Mei 2026 - 21:20

MENSOS Syaifullah: Pengadaan Sekolah Rakyat Bebas dari Korupsi

Berita Terbaru

Tim bulu tangkis China kembali menegaskan dominasinya di panggung beregu putra dunia dengan mempertahankan gelar juara Piala Thomas 2026 setelah menundukkan Prancis dengan skor 3-1 pada laga final di Forum Horsens, Denmark, Senin (04/05/26) dinihari. (Foto: Istimewa)

Olahraga

CHINA Juara Thomas Cup 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:20

Otonomi daerah mewujudkan kemandirian dan tanggung jawab daerah dalam mengelola potensi, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan harapan bangsa. (Foto: Medcen Kalsel)

Kalsel

OTONOMI DAERAH Wujudkan Kemandirian Kelola Potensi

Senin, 4 Mei 2026 - 20:09

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Suar Indonesia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca